Tujuh Belas

1051 Kata

Prakasa mengembuskan napasnya berkali-kali saat menerima sebuah kiriman tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke rumah mempelainya. Rahang tegasnya mengetat kuat, menahan gejolak yang menggelegak dalam dadanya. Berkali-kali ia mengatur napas, tetapi amarahnya tak kunjung berkurang. Sialan! k*****t mana yang berani mengirimkan lampiran tidak senonoh itu? "Asa?" Prakasa menoleh, tersenyum tipis menatap ayah mertuanya. "Kita mulai sekarang?" Prakasa hanya mengangguk, segera mendudukkan diri berhadapan dengan ayah mertuanya. Pikirannya bergelut memikirkan kiriman tadi pagi, rasanya ingin sekali Prakasa mengejar si pengirim yang sudah lancang memberikan gambar dan catatan menjijikan itu. "Prakasa?" Prakasa mengutuk pikirannya yang terlalu banyak berkelana. "Iya, Bah?" "Kamu baik-baik aja?" P

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN