"Jadi, kalian beneran mau menikah?" tanya Abah berbinar senang. Keduanya menangguk. "Ana sudah memikirkan semuanya, Bah." Tanpa diduga air mata Abah berlinang, begitupun dengan Mama. "Kami senang banget, An. Abah yakin Prakasa bisa membahagiakan kamu." Anara menoleh, menatap Prakasa yang tengah tersenyum pada kedua orangtuanya. Aku juga berharap begitu, Bah. "Anara nggak mau ada resepsi, Bah. Hanya mau akad, berkumpul keluarga biasa. Nggak masalah?" Prakasa menatap serius orangtua Anara. "Saya juga tadi sebenarnya kaget sih, Bah. Tapi maunya Anara begitu, masa dipaksa mewah." Mama tersenyum. "Anara memang simple banget orangnya, Sa. Nggak apa-apa, selama membuat kalian nyaman, kan?" Prakasa mengangguk. "Saya mau melamar Anara, sekalian mau menentukan tanggal pernikahan, Bah." Anara h

