Aku Cemburu!

1688 Kata
Pagi ini sedikit kacau. Helen membuat keributan di dapur saat melakukan uji coba resep terbarunya. Aku mendengar ia berceloteh tentang resep ayam rebus ala India yang ia dapatkan dari sebuah grup memasak. Ben membantunya di dapur. Kolaborasi antara mereka berdua bukannya berjalan harmonis, tetapi malah memicu pertikaian. "Bukan seperti itu cara memotong ayamnya, Ben. Ikuti petunjuk yang ada di resep. Kalau tidak bumbunya tidak akan meresap." Helen mengajukan protes sambil tetap sibuk memotong kentang. "Jangan mengajariku cara memotong ayam. Potongan ayam tetap sama di dunia mana pun." Ben menjawab dengan jengkel. "Harusnya kau memotongnya jadi empat bagian. Jangan dipotong kecil-kecil seperti itu. Kita bukan sedang membuat sup ayam." Helen tampak gusar resep barunya disalah gunakan. "Bumbunya akan lebih meresap kalau potongannya kecil-kecil seperti ini. Jangan mengajariku, Helen. Aku tahu persis apa yang aku lakukan." Ben dengan keras kepala tetap mencincang ayam itu menjadi potongan kecil. Peluh tampak mengalir di keningnya yang mengkilat. Aku meninggalkan dapur. Berharap mereka tidak akan saling bunuh dengan pisau di tangan masing-masing. Aku memilih duduk di teras untuk berjemur menikmati sinar matahari pagi sambil menunggu Sarah pulang. Aku meregangkan tubuh di lantai teras. Membiarkan sinar matahari menjilati sekujur badanku. Terdengar suara Mr. Red sedang bersenandung dengan nada sumbang. Sepertinya suasana hati pria itu sedang baik. Aku menegakkan kepala menoleh ke arahnya. Terlihat ia sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya dengan wajah bahagia. Tak lama kemudian Mrs. Red muncul dari balik punggungnya. "Apa pupuk ini sudah cukup untuk bunga mawar yang ini, Sayang?" Wanita itu bertanya dengan suaranya yang lembut. Mr. Red memeriksa pekerjaan istrinya. Wajah lelaki tua itu dalam sekejap berubah masam. "Kau memberinya terlalu banyak pupuk. Bayangkan apa yang terjadi jika kita terlalu banyak makan, Rosie. Tidak baik untuk kesehatan bukan? Begitu juga yang terjadi dengan bunga yang indah ini." Mrs. Red tampak tak acuh. Ia kemudian berpindah ke tanaman lainnya. "Bagaimana tentang menu makan siang kita nanti. Kau ada ide, Sayang?" Aku bisa melihat pelipis Mr. Red berkedut dari tempatku bersantai. Lelaki itu tampak bersusah payah menahan rasa kesalnya. "Aku tidak bisa memberikan ide tentang menu makan siang kita di saat bungaku sepertinya akan sekarat karena terlalu banyak kau beri pupuk, Rosie." Huh! Pagi ini sudah ternodai oleh pertikaian dua pasang suami istri. Aku kembali ke posisiku semula. Berbaring dengan tenang sambil memejamkan mata. Tiba-tiba insting hewaniku lagi-lagi mendeteksi jika ada yang sedang mengawasi. Aku segera membuka mata dan kembali menegakkan kepala. Aku langsung melompat dan berdiri waspada saat seekor kucing oranye dengan perlahan menampakkan dirinya dari balik pagar. Itu kucing b******k yang kemarin mengencingi rumputku. "Selamat pagi, Manis." Ia menyapa dengan suaranya yang parau. Jarak antara kami hanya tinggal beberapa kaki. Ia duduk di atas rumput sambil matanya lekat menatapku. "Apa maumu? Jangan masuk tanpa izin ke pekaranganku. Pergilah! Jangan ganggu aku!" Kucing berkepala besar itu mengeluarkan lidah dan menjilati sekitar mulutnya. "Aku suka dengan kucing betina yang galak sepertimu. Kau tipe idamanku." Dasar kucing gila! Aku memilih tidak mengacuhkannya dan masuk ke dalam rumah. Masih kudengar ia berseru dengan tidak tahu malu. "Bagaimana kalau kita membuat keturunan bersama-sama? Aku akan memberimu bayi-bayi yang sehat dan lucu. Bagaimana, kau setuju, Manis?" Sungguh menjijikkan! Seandainya sekarang aku berwujud manusia, sudah aku kuliti kucing sialan itu karena melakukan pelecehan seksual secara verbal. Aku kemudian memilih menunggu Sarah di atas kursi ruang tamu. Tidak terdengar suara apa pun lagi dari arah dapur. Apa kedua mertuaku itu sudah saling membunuh? Tak lama terdengar suara Helen memanggilku. "Misty! Misty! Ayo sarapan!" Asyik! Aku langsung melompat dari atas kursi dan berlari menuju dapur. Tampak Ben tidur dalam posisi duduk dengan mulut menganga di sofa depan televisi. Aku lewat di hadapan lelaki tua itu dan diam-diam mengamati pergerakan napasnya. Oh, syukurlah, ia masih bernapas. Helen sepertinya tidak sampai hati untuk meracuni suaminya yang menyebalkan itu. Helen telah menyiapkan sarapanku di dalam mangkok kecil yang ia taruh di lantai dapur. Aku mengendus mangkok yang berisi potongan ayam berwarna kecokelatan. Baunya sedikit aneh. Aku mencicipi dan langsung memuntahkannya dari mulutku. Rasanya sungguh sangat-sangat tidak enak! "Kau tidak menyukainya, Misty?" Helen ternyata mengamati saat aku sedang makan. Wajahnya terlihat sedih. "Apa yang salah dengan resepnya, ya?" "Miaw miaw." Mungkin kesalahanmu adalah membiarkan suamimu ikut membantu, Helen. Aku meninggalkan sarapanku. Lebih baik aku menunggu Sarah saja. Aku melirik jam di dinding dapur. Sudah pukul sepuluh pagi. Kenapa Sarah belum juga pulang? Seakan menjawab pertanyaanku. Suara mobil jeep yang khas terdengar dari luar. Aku berlari menyongsong kedatangan istriku. Sarah turun dari mobil dan tersenyum saat melihatku yang berdiri menunggunya di teras. "Miaw miaw." Sarah, buatkan aku sarapan. Masakan ibumu sungguh mengerikan. Aku mengadu pada istriku itu. Sarah segera menggendong dan menciumiku, lalu masuk ke rumah. "Aku pulang!" Ia berseru sambil menuju ruang tengah. Ben sama sekali tidak terusik. Sekarang ia tertidur dengan posisi kepala miring ke arah kiri. Semoga saat bangun nanti lehernya baik-baik saja. Helen yang masih duduk di kursi ruang makan menyahut panggilan putrinya. "Sarah, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja, bukan?" Sarah menghampiri Helen dan duduk di sebelahnya. "Aku oke, Mom. Jangan khawatir." "Kau mau sarapan? Aku membuat ayam rebus ala India. Resep terbaru." Helen sepertinya berusaha menjebak putrinya untuk memakan masakannya. "Miaw miaw!" Jangan mau, Sarah! Rasanya mengerikan! Aku berseru memberi peringatan. Helen bangkit untuk mengambil piring dan menyendok sesuatu dari dalam panci. Ia kemudian meletakkan piring itu di hadapan putrinya. Sarah tanpa curiga memakan masakan yang disiapkan ibunya. Baru satu suapan yang masuk ke mulut Sarah, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia mengunyah cepat-cepat lalu meraih gelas berisi air dan meneguknya sampai habis. "Kau tidak menyukainya?" Helen menatap putrinya lekat. "Umm ... sepertinya selera makanku belum begitu pulih, Mom. Mungkin kau benar, aku belum begitu sehat." Sarah menjawab dengan gugup. Helen tampak kecewa. Sepertinya resep yang gagal ini merupakan suatu pukulan berat baginya. Sarah bangkit dari kursi dan mengambil pizza beku dari dalam freezer. Ia memanaskan pizza itu dalam microwave kemudian memotongnya menjadi bagian kecil lalu menyodorkan padaku yang sedang duduk menunggu di atas meja dapur. "Aku tadi mampir ke sekolah dan berbicara langsung dengan kepala sekolah bahwa aku belum bisa mengajar dalam waktu dekat ini." Sarah bercerita pada ibunya. "Bagaimana reaksinya?" Helen bertanya. "Ia memberikan izin penuh padaku sampai Devon sembuh." "Syukurlah kau dikelilingi oleh orang-orang baik, Sarah." Sarah mengangguk. Ia memainkan gelas kosong di tangannya. "Mom, bagaimana jika Devon tidak pernah sadar kembali?" Aku yang sedang menyantap makananku di atas meja seketika berhenti. Apakah aku menangkap nada putus asa dari suaranya? Tidak, Sarah! Jangan menyerah untukku! Helen meraih tangan putrinya. Ia menatap putrinya itu dalam-dalam. "Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kau harus tetap optimis suamimu akan sadar kembali. Kau harus tetap kuat. Oke?" Sarah menyusut air matanya. "Aku tidak pernah berhenti mengajaknya berbicara, Mom. Aku berharap dia akan memberikan sedikit respon seperti menggerakkan jarinya atau apa pun itu. Sudah hampir seminggu dan dia masih tetap sama." Helen meraih Sarah dalam pelukannya. Sarah menangis tersedu-sedu di d**a ibunya. "Aku mencintainya, Mom. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia benar-benar pergi dari dunia ini." Cukup! Aku sudah tidak sanggup lagi. Rasanya terlalu menyakitkan menyaksikan adegan ini. Aku melompat turun dari meja makan dan berlari ke luar rumah. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. "Tuhan! Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Aku mohon kembalikan tubuhku seperti semula. Jangan hukum aku seperti ini! Aku mohon!" Aku menjerit sekeras yang aku bisa sambil berguling-guling di atas rumput. Suara rauanganku sepertinya menarik perhatian tetangga sebelah. Dari sudut mata, aku menangkap kepala botak yang memantulkan cahaya muncul dari balik pagar semak. "Ada apa dengan kucing itu? Rosie ... Rosie! Cepat ke sini. Sepertinya kucing milik Sarah keracunan sesuatu!" Mr. Red terdengar berseru memanggil istrinya. Mrs. Red tergopoh-gopoh muncul dari dalam rumah. Wajahnya tampak cemas melihatku yang masih terbaring tak berdaya di atas rumput. Ia segera melewati pagar pembatas dan masuk ke pekarangan. "Oh, Misty! Apa yang terjadi denganmu?" "Hati-hati, Rosie. Mungkin kucing itu punya penyakit. Dia bisa saja menggigitmu." Mrs. Red tidak mengindahkan peringatan suaminya. Ia segera meraih tubuhku dan menggendongnya penuh rasa khawatir. "Aku akan memberitahu Sarah." Ia segera melangkah menuju teras dan memanggil Sarah dari depan pintu. Sarah muncul dengan wajah dan mata yang sembab. Setelah mendengar penjelasan dari Mrs. Red, wajahnya tampak begitu cemas. Ia segera mengambil alih tubuhku dari gendongan Mrs. Red. "Misty, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Aku akan membawamu ke dokter sekarang juga." Sarah memeriksa wajahku bolak-balik dengan saksama. "Lebih baik begitu, Sarah. Lebih cepat lebih baik." Mrs. Red menimpali. "Miaw miaw." Tidak, Sarah. Tubuhku tidak sakit. Hatiku yang sakit melihat kenyataan bahwa aku telah menimbulkan kesedihan yang begitu mendalam padamu. Sarah mengucapkan terima kasih pada Mrs. Red. Wanita tua yang baik hati itu pun pamit kembali ke rumahnya. Sarah lalu berteriak memanggil ibunya. Helen pun langsung datang menghampiri. "Ada apa? Apa yang terjadi?" "Misty sepertinya sakit. Aku akan membawanya ke dokter. Tolong gendong dia sebentar, Mom. Aku mau berganti pakaian." Mendengar keributan itu, Ben ikut terjaga dari tidurnya. Ia menatapku yang sedang berada dalam gendongan istrinya dengan kening berkerut. "Ada apa dengan kucing itu?" "Sepertinya dia sakit. Sarah akan membawanya ke dokter." "Apa kau memberi dia ayam buatanmu tadi, Helen? Tidak heran kalau dia tiba-tiba jatuh sakit setelah memakannya. Aku juga rasanya tidak enak badan setelah memakan ayam itu." Ben berkata sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit. "Diamlah, Ben! Kau terlalu mengada-ada." Wajah Helen tampak kesal setengah mati saat ayam buatannya diungkit-ungkit. Sarah muncul dari dalam kamar. Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. "Apa aku tidak merepotkan, Paul? Aku hanya butuh seseorang untuk mengemudi sementara aku akan menggendong Misty. Ia selalu tidak nyaman saat kutaruh di dalam box." Apa? Sarah meminta bantuan Paul? Itu sudah terlalu berlebihan. Aku segera melompat dan membebaskan diri dari gendongan Helen. Sarah meletakkan ponselnya dan mengejarku dengan panik. Aku menuju dapur dan melompat ke atas meja makan. Untuk membuktikan bahwa aku tidak sakit, aku akan kembali memakan pizza yang tadi Sarah siapkan. Sarah mendatangiku dan mengelus punggungku. Aku makan dengan penuh semangat. Ia harus membatalkan pertemuannya dengan Paul sekarang juga! "Sepertinya kucing itu baik-baik saja." Ben muncul dari balik punggung Sarah, menyusul Helen yang ikutan mengelus kepalaku. "Aku akan memberitahu Paul sebelum dia terlanjur datang ke sini." Sarah beranjak untuk mengambil ponselnya. Aku mengawasi istriku itu dengan cermat. Jangan pernah menghubungi atau meminta bantuannya lagi, Sarah! Aku cemburu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN