Kenangan Itu

1612 Kata
Kemarin malam aku bermimpi. Mungkin sebenarnya kurang tepat jika disebut mimpi. Adegan-adegannya merupakan kilas balik dari pertemuan pertamaku dengan Sarah. Alam bawah sadarku merefleksikan awal perkenalan kami tiga tahun yang lalu. Saat itu bulan Februari di musim dingin. Aku adalah pemuda berusia 27 tahun dengan tujuan hidup yang tidak jelas. Setelah kematian ibuku dua tahun sebelumnya, aku meninggalkan rumah tempat aku dilahirkan dan menyewa apartemen kecil di pusat kota. Aku ditemani Ronie yang berperan sebagai manajer sekaligus temanku, mencoba peruntungan di bidang musik dengan mendatangi para produser dan memberikan mereka demo kaset rekaman berisi suara dan lagu ciptaanku. Seiring waktu berjalan, aku menyadari bahwa usahaku sia-sia belaka. Tidak ada seorang pun yang tertarik untuk mengorbitkanku menjadi seorang penyanyi. Sore itu aku bersama Ronie nongkrong di sebuah kafe yang berada di depan jalan utama yang sibuk. Kami sedang membicarakan kemungkinan untuk mencari pekerjaan lain. Dalam suasana hati yang kacau, aku melihat ke ujung jalan. Dari balik kaca, tampak seorang wanita paruh baya dengan tongkat di tangannya, berdiri dengan gelisah. Sepertinya wanita itu hendak menyeberang. Namun, mungkin karena kondisi kakinya membuat ia ragu untuk melangkah. Naluriku tergelitik untuk membantunya. Belum sempat aku berdiri, tampak seorang gadis menghampiri wanita itu lalu menggandeng tangannya. Gadis yang menggunakan jaket tebal dengan penutup kepala itu terlihat mengucapkan sesuatu. Wanita bertongkat itu kemudian tersenyum. Mereka berdua lalu melangkah perlahan untuk menyeberang setelah lampu merah menyala. Aku terus mengamati sampai akhirnya mereka berdua berada tepat di depan kafe. Wanita itu mengangguk penuh rasa terima kasih pada gadis itu, melambaikan tangannya lalu melanjutkan perjalanan. Aku kemudian fokus pada gadis itu. Ia mempunyai kulit yang putih pucat dan mata biru terang. Tubuhnya sedikit berisi dari standar ideal gadis-gadis pada umumnya. Pipinya tampak bersemu merah karena cuaca dingin. Wajahnya seolah selalu tampak tersenyum. Begitu menyenangkan untuk dilihat. "Aku kenal dengan gadis itu," gumam Ronie yang sepertinya dari tadi mengamatiku. Aku mengalihkan fokus padanya. "Kau kenal? Siapa dia?" "Namanya Sarah. Dia dulu adik kelasku. Sekarang kabarnya dia menjadi guru TK." Ronie menghirup kopinya yang tinggal separuh. Aku kembali menoleh keluar kafe. Gadis itu sudah lenyap. "Boleh aku minta nomornya?" Dave kemudian mengirimkan nomor Sarah ke ponselku. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa yang mendasariku untuk bertindak seperti itu. Gadis itu bukan tipe para gadis yang selama ini kupilih untuk dijadikan teman kencan. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik untuk mengenalinya lebih jauh dan itu bukan dari segi fisik. Malamnya, aku memberanikan diri untuk menelepon. Aku memperkenalkan diri dengan menjual nama Ronie. Mengatakan bahwa aku mendapatkan nomornya dari pemuda itu. Setelah cukup lama mengobrol, aku menawarkan diri untuk menjemputnya di tempat ia mengajar besok. Awalnya Sarah menolak. Tanpa tahu malu aku terus membujuk. "Kau boleh membekali dirimu dengan senjata api jika kau menyangka aku adalah seorang residivis yang sedang mencari gadis-gadis untuk diculik dan menyekapnya di ruang bawah tanah." Aku berusaha meyakinkannya dalam sekali helaan napas. Ia tertawa mendengar ucapanku. Akhirnya keesokan harinya kami bertemu dan hatiku terpikat sejak saat itu. Seolah aku telah menemukan tempat untuk bersandar sepenuhnya dari perjalanan hidupku yang tidak tentu arah. "Aku bersedia. Aku bersedia menjadi istrimu, Dev." Wajahnya tampak bercahaya saat aku melamarnya tiga bulan kemudian. "Aku mencintaimu, Dev. Dengan sepenuh hatiku." Mata biru pucat itu mengerjap-ngerjap begitu indah. Kalimat itu terus terngiang-ngiang. Membangkitkan sesuatu dalam diriku. Membangunkan kembali kenangan indah kami dulu. Aku terbangun dan membuka mata dengan d**a sesak oleh rasa rindu. Aku sungguh merindukan istriku. Menyesali apa yang sudah terjadi belakangan ini pada pernikahan kami. Tentu saja itu sepenuhnya kesalahanku. Jika saja waktu bisa diputar ulang .... "Misty! Misty!" Suara Sarah yang memanggilku dari luar sontak membuatku segera melompat turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. Sarah sudah pulang! "Ohhh, kau baru bangun." Sarah segera menggendong dan menciumiku. Ia kemudian menuju dapur menemui ibunya yang tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Sementara Ben tidak kelihatan batang hidungnya. "Kau belum sarapan, kan, Sarah? Aku punya resep baru." Helen tampak mengaduk sesuatu dari panci yang mengepulkan uap panas. Oh, tidak! Resep baru lagi? Aku memutar bola mataku. Bencana! "Mommy bikin apa?" Sarah duduk di kursi meja makan. "Kari daging ala India." Ala India lagi? Ah, yang benar saja, Helen. Tidak cukupkah kau belajar dari kegagalanmu kemarin. Helen meletakkan mangkok berisi sesuatu yang berkuah kental di hadapan putrinya. Sesaat Sarah tampak ragu. Namun, melihat Helen yang tetap berdiri di sampingnya bagai seorang sipir penjara mengawasi tahanan, ia pun akhirnya mulai menyuap. Aku mengamati ekspresi Sarah. Awalnya keningnya tampak berkerut, sesaat kemudian ia menaikkan alis dengan mata membulat. "Ini lezat, Mom!" Helen tampak hendak melompat dari tempatnya berdiri. "Benarkah? Wah, akhirnya aku melakukannya dengan benar. Aku panggil ayahmu dulu. Ben! Ben, di mana kau, Sayang!" Helen melesat dari dapur menuju ruang tengah. Sarah hanya mengeleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah ibunya. "Kau mau coba sedikit, Misty?" Ia bangkit mengambil mangkok kecil, menuangkan kari daging dari dalam panci lalu menyodorkan padaku yang masih duduk di meja dapur. Hmm, dari baunya sepertinya memang enak. Aku menjulurkan lidah untuk menyesap kuah kari itu. Memang lezat! Dalam hitungan menit mangkok itu sudah kosong. "Miaw miaw." Sarah, boleh aku minta tambah? "Kau menyukainya? Tapi kurasa sudah cukup jatah makanmu pagi ini, Misty. Kau makin gemuk kelihatannya belakangan ini. Itu karena akhir-akhir ini kau memakan makanan yang seharusnya bukan untukmu." Aku terkesiap. Teringat akan pesan Misty supaya aku menjaga tubuhnya agar jangan menjadi gemuk. Oh, sepertinya aku harus mulai berolahraga. Aku tidak mau kucing betina berbulu hitam itu murka saat tahu aku tidak menjaga tubuhnya dengan baik. Sarah membereskan piring dan mencucinya di wastafel lalu beranjak menuju kamarnya. Aku melompat turun dari atas meja hendak keluar untuk memenuhi misi muliaku. Olahraga! Sesampainya di teras, aku berdiri kebingungan. Memangnya apa olahraga yang tepat untuk seekor kucing? Apa aku harus berlari seperti kucing kesetanan mengelilingi pekarangan untuk membakar kalori? "Christopher juga bekerja di tempat yang sama dengannya sebagai pramusaji. Mungkin dia tidak tahu kalau Christopher adalah keponakanku." Dari teras, terdengar Mr. Red sedang mengobrol dengan seseorang. Suaranya cukup jelas sampai di telinga kucingku yang tajam. Aku mendekati pagar pembatas yang rimbun dan berusaha mengintip dari sela dedaunan. Tampak Ben dan Mr. Red sedang duduk di lantai teras. Keduanya memasang wajah serius. Terutama Ben, raut mukanya terlihat tegang. "Aku sudah lama tahu dia b******k! Sudah ada orang yang memberikan informasi padaku." Ben menepuk-nepuk pahanya dengan emosi. "Pada hari terjadinya kecelakaan, dia juga sedang bersama seorang gadis. Ini menurut cerita Christopher." Mr. Red melanjutkan ceritanya dengan bersemangat. Christopher! Aku memutar otak. Oh, iya. Ia pemuda bertubuh pendek yang berdandan kelewat rapi. Rambutnya selalu terlihat mengkilat sehingga kadang aku berpikir bahwa setidaknya ia menghabiskan satu botol minyak rambut untuk satu kali pemakaian. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ia ada hubungan kekerabatan dengan Mr. Red. Sekarang semua rahasiaku terpampang nyata. Rasanya aliran darahku naik otomatis menuju kepala. Sialan! Sialan! Sialan! "Apa Sarah tahu kelakuan suaminya?" Mr. Red bertanya sambil mencongkel sebatang rumput yang mencuat di sela ubin. Ben mengembuskan napas panjang. "Putriku itu tidak tahu apa-apa. Sampai sekarang aku belum sampai hati untuk memberitahunya." "Kau harus segera memberitahu Sarah. Hal ini tidak bisa didiamkan berlama-lama." Rasanya aku ingin melompat ke muka Mr. Red dan mencakarnya dengan kukuku yang tajam. Walaupun aku memang b******k, tapi ia tidak berhak mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Sarah. Helen keluar dari pintu depan bersama Mrs. Red. Mereka tampak tertawa-tawa membahas sesuatu. Mudah-mudahan berita ini tidak sampai ke telinga mereka. Aku menyukai dua wanita tua itu. Kurasa mereka juga cukup menyukaiku. "Ayo, Ben. Kita sarapan. Kau belum mencicipi kari daging India buatanku. Sarah bilang rasanya lezat." Ben dengan susah payah bangkit dari duduknya. Ia kemudian terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Mr. Red. Aku tidak bisa menangkap apa yang ia katakan. Aku buru-buru beranjak menjauhi pagar pembatas menuju rerumputan. Merebahkan tubuhku di situ sambil berpikir keras. Bagaimana jika Ben akhirnya memberitahu Sarah tentang semua perselingkuhanku. Aku pasti akan kehilangan istriku. Oh, tidak! Pikiranku betul-betul kacau. Sebuah bait lagu dari penyanyi idolaku, Mr. Big, tiba-tiba terlintas di kepala. Aku tiba-tiba setengah mati ingin bernyanyi! Aku membuka mulut lalu mulai mengeluarkan vokalku dengan sepenuh hati. "I'm the one who wants to be with you. Deep inside I hope you feel it too. Waited on a line of greens and blues. Just to be the next to be with you." Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak menyanyi. Rindu rasanya memainkan tuts piano dan mengekspresikan jiwa bermusik yang telah terlanjur mendarah daging. "Ada apa lagi dengan kucing itu? Kau lihat, Rosie? Sepertinya kucing itu tidak normal. Ada sesuatu yang salah dengannya. Kenapa dia mengeluarkan suara mengerikan seperti itu?" Mr. Red berdiri di depan pagar pembatas mengamatiku. Mrs. Red yang berdiri di sampingnya menimpali dengan suara sedih. "Seharusnya Sarah jadi membawanya ke dokter kemarin. Mungkin Misty mengalami gangguan hormon. Sudah saatnya dia dicarikan seorang pejantan." Mr. Red berdecak kesal, membalikkan tubuhnya lalu masuk ke rumah diikuti oleh istrinya. Aku pun dengan lesu masuk ke rumah. Terdengar suara obrolan dari dapur antara kedua mertuaku. Aku tidak tertarik untuk mendatangi mereka. Aku masuk ke kamar dan melihat Sarah berbaring di ranjang. Rupanya ia sudah tertidur pulas. Aku masuk ke dalam selimut dan berbaring di sampingnya. Menatap wajahnya yang terlihat tenang dan damai dengan perasaan sedih. Sarah, kumohon. Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku .... Sarah tiba-tiba membuka matanya. Sesaat ia menatapku dengan pandangan bingung. Ia kemudian mengusap wajahnya lalu meraihku dalam pelukan sambil membelai leherku. "Aku memimpikan Devon barusan, Misty. Dia terlihat sangat sedih. Aku sungguh rindu padanya. Sepertinya hari ini aku akan berangkat lebih awal ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa padanya." Sarah menyusut air matanya. Wanita yang dulu kukenal tegar dan jarang menangis, sekarang seolah punya stok air mata berlebih. Akulah yang menyebabkan semua itu. Akulah yang menimbulkan kesedihan mendalam pada wanita yang aku cintai. Devon, kau memang lelaki b******k!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN