Pertengkaran Pertama

1713 Kata
Minggu pagi yang indah. Aku berguling-guling di atas rumput bermandikan sinar matahari pagi. Aku mulai menghitung, sudah satu minggu aku terjebak di dalam tubuh kucing betina berwarna hitam ini. Sampai detik ini aku belum terbiasa dan tidak akan pernah terbiasa. Aku mengingat-ingat lagi perkataan Misty pada hari itu. Untuk bisa kembali lagi ke tubuhku semula, aku harus bisa membuktikan ketulusan cintaku pada Sarah. Otakku berpikir keras. Ketulusan yang seperti apa dan bagaimana? Kucing itu sama sekali tidak memberikan petunjuk apa-apa. Apa aku harus berlutut di hadapannya seperti saat aku melamarnya dulu? Apa aku harus berteriak mengatakan perasaan cintaku di tengah hujan deras yang diiringi petir menyambar. Setelah kubayangkan, rasanya terlalu konyol. Lagipula, dengan tubuh kucing seperti sekarang, tentu sulit bagiku untuk melakukan hal tersebut. Mertua dan tetanggaku akan mengira bahwa aku telah terkena penyakit aneh dan mematikan kemudian akan membawaku ke dokter hewan untuk disuntik mati. Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Sarah turun dari kendaraan itu dengan wajah ceria. Sudah lama rasanya aku tidak melihat ia memasang ekspresi seperti itu. Ia juga pulang lebih awal dari biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi? "Hai, Misty! Jangan sering-sering main di rumput. Bulumu akan cepat kotor. Oh, iya, jadwal mandimu kapan lagi, ya? Aku lupa. Oh, sepertinya besok." Sarah meraih tubuhku dari atas rumput, menggendongnya lalu masuk ke rumah. Mandi lagi? Oh, tidak! Rasanya aku trauma dengan kegiatan satu itu. "Mom! Dad!" Sarah berseru sambil terus melangkah. Akhirnya ia sampai di dapur dan menemukan kedua orang tuanya sedang duduk di meja makan untuk sarapan. "Oh, kau sudah pulang. Ayo kita sarapan bersama-sama." Helen menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, sementara Ben masih menekuni sarapannya. "Bagaimana harimu?" Ben bertanya pada putrinya. Sarah duduk dengan aku berada di pangkuannya. "Aku senang hari ini. Semalam Devon menggerakkan jemarinya. Dokter bilang itu pertanda bagus." Aku keheranan. Bagaimana bisa? Siapa yang telah menggerakkan jemari di tubuhku? Apa ada makhluk lain yang mencoba mengambil alih tubuhku? Apa itu hanya halusinasi Sarah saja? "Syukurlah, Sayang. Aku turut senang mendengarnya. Aku yakin Devon akan bisa pulih kembali. Bukan begitu, Ben?" Suara Helen terdengar tulus. Wanita itu lalu menoleh pada suaminya. Lelaki itu terdengar sedikit menggeram. Ia kemudian mengusapkan serbet ke mulut dan bangkit dari kursinya. "Ya, aku turut senang. Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan suamimu itu kalau dia sudah sadar kembali." Ben lalu beranjak ke ruang tengah dan menghidupkan televisi. Aku masih termangu dalam pelukan Sarah, berpikir tentang keanehan yang ia ceritakan. Sarah kemudian meletakkanku ke atas meja. Ia memotong-motong roti isi yang menjadi menu sarapan pagi ini lalu menyodorkannya padaku. Ia kemudian mengambil satu potong untuk dirinya sendiri dan mengunyah roti isi itu dengan bersemangat. Betapa satu hal kecil seperti jemari yang bergerak seolah telah mengembalikan semangat hidupnya. "Pagi ini aku mau jalan-jalan ke taman. Misty, kau mau ikut? Sudah lama kita tidak keluar berdua, bukan? Kau tentu bosan di rumah terus." "Miaw miaw." Aku menjawab dengan bersemangat. Aku juga sudah jenuh di rumah. Rasanya rindu dengan suasana perkotaan yang dulu setiap hari aku temui. Sarah biasanya memang rutin mengajak kucingnya berjalan-jalan. Kadang ke taman kota atau cukup di seputaran komplek. "Mommy mau ikut?" Sarah menawarkan Helen. Helen menggeleng. "Ah, tidak. Tubuh tuaku ini lebih suka bersantai duduk di rumah." Selesai sarapan, Sarah masuk ke kamar untuk mandi. Sepuluh menit kemudian ia selesai bersiap-siap. Ia mengambil rompi harness berwarna pink milik Misty dan memasangkannya di tubuhku. "Kau sudah siap, Misty?" Ia menggaruk leherku lalu menggendongku keluar. Kami memasuki mobil. Aku menempati kursi penumpang di bagian depan. Setelah melambaikan tangan pada orang tuanya, mobil mulai berjalan perlahan. Aku memandang keluar jendela. Baru seminggu, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat jalanan kota ini. Pagi ini jalan raya tidak begitu ramai. Sarah terdengar bersenandung kecil mengikuti alunan lagu di radio mobil. Kami akhirnya sampai di Sevier Park. Salah satu taman yang berada di pusat kota Nashville. Kota Nashville memang terkenal banyak mempunyai taman dan ruang hijau. Tidak salah jika kota ini merupakan salah satu ruang hijau perkotaan terbaik di Amerika. Sevier Park sendiri selalu ramai oleh pengunjung yang ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai bersama keluarga. Area taman ini juga terdapat banyak resto dan kedai kopi. Juga ada area piknik di perbukitan. Setelah memarkir mobil, Sarah segera menuntunku turun. Sarah mampir ke sebuah kedai kopi dan memesan cappucino es favoritnya. Kami lalu berjalan menuju bukit kecil dan mengambil tempat di sebuah kursi kosong. Aku mengamati sekitar. Banyak orang yang juga membawa hewan peliharaannya. Seekor anjing bertubuh mungil dan berbulu coklat melintas di depan kami. Majikannya tampak dengan susah payah mengendalikan tali penuntun karena anjing itu terus berlarian dengan bersemangat. Anjing itu mendelik saat melihatku. Hei, apa masalahmu anjing kecil? Aku balas melotot padanya. Sarah lalu melepaskan tali penuntunku. Ia mengelus punggungku sambil berkata, "Kau boleh pergi bermain, Misty. Tapi jangan jauh-jauh. Tetaplah berada dalam jangkuan mataku." Aku senang saat diberikan kebebasan seperti itu. Dengan riang aku melangkah tanpa tujuan pasti. Sesekali aku menengok ke belakang melihat Sarah. Ia terlihat tersenyum ke arahku. Aku mengendus-endus rerumputan di bawah sebuah pohon dan memutuskan untuk bersantai sejenak di situ. Dari jarak beberapa meter aku mengamati Sarah. Ia terlihat mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu mulai melamun. Aku ingat kami dulu beberapa kali pernah mengunjungi taman ini saat masih berkencan. Setelah menikah, seingatku aku tidak pernah lagi mau diajak ke sini. Sarah akhirnya hanya pergi berdua dengan Misty. Aku jadi merasa bersalah saat mengingat betapa kurangnya waktu yang kuhabiskan bersamanya setelah kami menikah. Sekaligus juga memuji kesabaran Sarah selama ini yang masih mau bertahan hidup denganku, si lelaki b******k yang tidak tahu diri. Rumah tangga kami memang hampir tidak ada konflik. Kami jarang sekali bertengkar. Namun, komunikasi kami juga makin memburuk. Hampir tidak ada lagi obrolan dari hati ke hati seperti dulu. Aku hanya singgah ke rumah untuk tidur lalu kembali larut dalam duniaku sendiri. Sarah beberapa kali sudah berusaha untuk memperbaiki situasi walaupun secara tidak langsung. Ia mengusahakan diri untuk bangun pada dini hari saat aku pulang bekerja dan bertanya tentang hariku. Namun, aku memilih untuk tidak banyak bicara dan langsung berangkat tidur. Semakin kusadari bahwa aku telah bertindak terlampau kejam pada istriku itu. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam diriku. Layakkah aku memiliki wanita sepertinya untuk menjadi milikku? Apa seharusnya dia berhak untuk hidup lebih bahagia? Seorang pria tampak mendekati bangku tempat Sarah duduk. Aku menyipitkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Rasanya aku mengenali figur tinggi kurus dan berambut merah itu. Apa itu Paul? Apa yang ia lakukan di sini? Aku segera berlari mendatangi Sarah. Mereka berdua tampak bercakap-cakap dengan akrab. Paul mengambil tempat di sebelah Sarah dan mencondongkan tubuhnya saat mengobrol. Aku segera melompat ke tengah-tengah mereka dengan tiba-tiba. Keduanya tampak terkejut, terutama Paul. Ia segera mengambil jarak menjauh dariku, wajahnya terlihat berkerut. Sepertinya ia tidak suka kucing. Rasakan olehmu! "Misty! Kau membuat aku kaget saja." Sarah menegurku. Aku tidak peduli. Duduk menghadap ke arah Paul dan menatapnya dengan tatapan mematikan sambil mengibaskan ekor. Paul tertawa dengan gugup. "Sarah, kucingmu sepertinya tidak menyukaiku." Ia melihatku dengan pandangan sedikit takut. "Apa dia memang seperti ini pada semua orang?" "Biasanya Misty kucing yang manis. Umm, dia memang sedikit pilih-pilih orang. Tapi tenang saja, dia tidak pernah mencakar, kok." Sarah tampak berusaha menenangkan Paul. Huh, siapa bilang. Aku dengan senang hati akan mencakar habis muka Paul jika ia berani macam-macam dengan istriku. Entah mengapa aku mempunyai semacam firasat tidak baik tentang temanku ini. "Jadi apa yang membawamu ke sini, Paul? Apa kau memang sering mengunjungi taman ini?" Sarah mencoba memperbaiki suasana. Paul mengangguk dengan bersemangat. "Aku tergabung dengan sebuah klub para musisi jalanan kota ini. Kami sering berkumpul di sini untuk berdiskusi dan bertukar pikiran tentang musik." Paul lalu menunjuk ke arah segerombolan orang yang duduk melingkar di rerumputan. Paul dulu memang pernah mengajakku untuk bergabung. Namun, aku langsung menolak. Aku lebih suka berdiskusi tentang musik dengan orang-orang yang kuanggap memang layak. Rasanya aku memang terlalu idealis dalam hal itu. Segerombolan orang yang mengoceh tentang musikalitas mereka masing-masing tidak menarik minatku sama sekali. "Jadi, bagaimana keadaan Devon? Sudah ada kemajuan?" Paul bertanya sambil menatap Sarah dengan penasaran. Sarah mengangguk sambil tersenyum. "Kemarin dia menggerakkan jarinya. Cuma beberapa detik saja, tapi sudah membuatku sangat senang." "Oh, syukurlah." Paul memalingkan wajahnya dan memandang lurus ke depan. Entah kenapa, aku menangkap nada sedikit kecewa dari suara Paul. Memangnya apa yang ia harapkan? Kabar bahwa aku akan tetap berbaring tak sadarkan diri seumur hidup? "Eum, Sarah. Aku tahu tidak sopan bertanya tentang ini padamu. Apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Namun, aku penasaran apa yang akan kau lakukan jika seandainya Devon tidak akan pernah sadar kembali?" Bulu-bulu di tubuhku otomatis berdiri tegak. Aku mengeluarkan suara geraman dan membungkukkan tubuh bersiap untuk menerkam. Jaga mulutmu kawan! Paul sontak berdiri ketakutan. Sarah segera meraih tubuhku dan mendekap dengan erat. "Misty, ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba marah seperti itu?" Sarah menghadapkan mukaku ke wajahnya. Sekarang kami saling bertatapan. "Jangan nakal, Misty!" Ia memberi peringatan. Paul mengusap wajahnya berkali-kali sambil tertawa gugup. "Aku rasa dia tidak suka ada yang dekat-dekat dengan tuannya. Sungguh kucing yang sangat posesif." "Maafkan aku, Paul. Tidak biasanya Misty seperti ini. Umm, sepertinya aku harus pulang sekarang." Sarah kembali memakaikan rompi harness di tubuhku. Setelah melambaikan tangan pada Paul, kami berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Di dalam perjalanan, Sarah mengomeliku habis-habisan. "Aku tidak mengerti dengan tingkahmu akhir-akhir ini, Misty. Kau tidak seperti biasanya. Mengapa kau menakuti Paul seperti tadi? Aku tahu kau memang tidak gampang dekat dengan seseorang, tapi tidak harus jadi agresif seperti itu." "Miaw miaw miaw." Aku kira Paul menyukaimu, Sarah dan aku tidak terima lelaki itu berusaha mengambil celah dari kemalangan yang aku alami! Kau juga tidak perlu bermanis-manis padanya! Ingat, kau masih istriku! Aku berhak cemburu. Sarah melirik dengan kesal karena aku menjawab perkataannya. Kami akhirnya sampai di rumah. Aku melompat turun dari mobil tanpa menunggu Sarah. Hatiku diliputi kekesalan karena kejadian tadi. Terdengar Sarah memanggilku, tapi aku tidak mengacuhkan dan memilih duduk di rerumputan paling sudut di dekat pagar. Setelah kupikirkan, ini adalah pertengkaran pertama kami sebagai seorang suami istri. Namun, kenapa harus saat aku berwujud seekor kucing? Sungguh menyebalkan! Aku menghindari Sarah sampai akhirnya ia kembali pergi ke rumah sakit sore harinya. Ia terlihat sedih saat aku memberontak ketika ia berusaha menggendongku seperti biasanya. Tidak, Sarah! Jangan sentuh aku dulu. Aku marah padamu. Atau ... justru aku marah pada diriku sendiri karena ketidakberdayaan ini. Entahlah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN