Tindakan Heroik

1807 Kata
Pagi ini aku mengantuk sekali. Semalaman aku tidak bisa tidur karena pertengkaranku dengan Sarah kemarin. Aku juga bertanya-tanya dalam hati, pantaskah aku sedemikian cemburunya, sementara di belakang Sarah aku sering bermain api dengan wanita lain. Ah, tapi tetap saja, aku adalah suaminya. Aku berhak cemburu saat pria lain dengan terang-terangan menunjukkan rasa tertariknya pada istriku. Aku berguling-guling di atas kasur mencoba untuk tidur kembali. Namun, tetap saja mata ini tidak mau terpejam. Akhirnya aku menyerah dan memilih keluar dari kamar untuk berjemur. Helen yang melihatku melintas segera memanggil untuk sarapan. Aku pura-pura tidak mendengar dan melompat keluar melalui teralis jendela karena pintu tertutup rapat. Maaf, Helen, aku sedang tidak nafsu makan sekarang ini. Aku mengambil tempat favoritku untuk berbaring seperti biasanya di atas rumput. Aku melihat Mr. Red tengah sibuk memangkas rumput pagar pembatas yang makin rimbun. Ia membentuk bagian atas pagar hidup itu menjadi bergelombang. Berkali-kali ia melangkah mundur untuk melihat hasilnya kemudian tersenyum puas. Teruskan pekerjaanmu, Pak Tua. Aku mengedipkan mata malas. Kuharap di masa tua nanti aku juga akan punya semangat tinggi seperti tetanggaku itu. Hmm, dengan rambut yang masih utuh tentunya. Aku benci menjadi botak. Aku masih mengawasi Mr. Red walau sesekali mataku terpejam karena mengantuk. Tak lama kemudian aku menangkap suatu keanehan. Mr. Red tampak terhuyung sambil memegang dadanya. Beberapa detik kemudian tubuhnya roboh menghilang dari pandangan mataku karena tertutup pagar semak. Aku segera melompat berdiri dan berlari menuju pagar pembatas. Tanpa pikir panjang segera menerobos pagar itu karena terlalu tinggi bagiku untuk melompat di atasnya. Tubuhku terasa perih karena tertusuk ranting-ranting kecil yang tajam. Mr. Red terbaring di rumput tak bergerak. Aku menghampirinya dengan panik. Mata lelaki tua itu terpejam dengan wajah pucat dan bibir kebiruan. Aku mendekatkan wajahku ke hidungnya untuk memastikan ia masih hidup. Syukurlah ia masih bernapas walau embusan napasnya terasa lemah. Aku mencoba berteriak untuk meminta pertolongan. Setelah menyadari usahaku sia-sia, aku segera berlari menuju pintu depan untuk memanggil Mrs. Red. Sialan! Pintu depan terkunci rapat, begitu juga jendelanya. Aku mengeong dengan suara keras sambil mencakar-cakar pintu berharap suaraku akan terdengar oleh wanita itu. Namun, tetap saja tidak ada respon. Sayup terdengar alunan musik dari dalam rumah. Mungkin itu penyebab Mrs. Red tidak mendengar ada keributan di luar. Aku kembali berlari menuju rumah. Hanya kedua mertuaku satu-satunya harapan. Ben dan Helen tampak sedang duduk di ruang tengah asyik menonton televisi. Aku melompat ke pangkuan Helen sambil mengeong dengan keras. "Miaw miaw." Tolonglah, Helen. Mr. Red sedang sekarat! Helen terlihat terkejut saat aku tiba-tiba melompat ke pangkuannya. "Ada apa denganmu, Misty? Kau lapar?" Tidak, Helen! Tidak! Aku turun dari pangkuannya dan kembali mengeong keras sambil berkali-kali menoleh ke arah pintu, berharap mereka mengerti maksudku. Aku berputar-putar mengelilingi kaki mereka. Akhirnya dengan putus asa aku menggigit ujung celana Ben untuk menarik perhatiannya. Ben mengerutkan alisnya. "Apa ada sesuatu yang ingin diberitahu oleh kucing ini?" Iya, Ben, benar! Ayo ikuti aku! Aku berlari dengan cepat ke pintu depan sambil melihat ke belakang untuk memastikan Ben mengikutiku. Ben membuka pintu dengan terburu-buru. Secepat kilat aku melesat menuju pekarangan Mr. Red dengan Ben di belakangku. "Ya, Tuhan! Apa yang terjadi denganmu Harry!" Ben menghampiri Mr. Red dan memeriksanya dengan saksama. Helen muncul tak lama kemudian. Ia membekap mulut saat melihat pemandangan di hadapannya. "Helen, cepat beritahu Rosie!" Ben berteriak memerintah. Helen segera berlari menuju pintu depan. Memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian Mrs. Red keluar sambil berteriak panik melihat keadaan suaminya. "Oh, Sayangku! Apa yang terjadi padamu!" Ia berlutut dan meraih kepala suaminya dalam pelukan sambil menangis keras. "Helen! Ambil kunci mobil! Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" Mereka bertiga lalu membopong Mr. Red memasuki mobil milik Sarah. Beberapa hari terakhir Sarah memang lebih memilih mengendarai mobil jeep milikku untuk pergi ke rumah sakit. "Misty! Jaga rumah baik-baik!" Helen berseru padaku saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumah. Semoga saja Mr. Red baik-baik saja. Walaupun pria tua itu menyebalkan, tapi aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku masih berdiri di depan pagar saat mobil Sarah mendekat dan akhirnya berhenti. Apa tadi mereka berpapasan di jalan? Hmm, sepertinya tidak saat melihat muka Sarah yang tampak biasa saja saat turun dari mobil. "Hai, Misty! Apa yang kau lakukan di luar? Kau menemukan sesuatu?" Sarah lalu menggendongku masuk ke rumah. Amarahku yang masih tersisa menguap begitu saja saat berada dalam dekapannya. Aku tidak bisa berlama-lama mendiamkan Sarah. "Hallo, Mom, Dad!" Sarah melangkah menuju ruang tengah. Sepertinya ia merasa heran melihat televisi menyala tanpa ada penontonnya. Sarah melepasku di atas sofa. Ia kemudian melongok ke dapur yang kosong, lalu memeriksa kamar orang tuanya. Sejurus kemudian ia kembali dengan wajah bingung campur khawatir. "Ke mana semua orang?" gumam Sarah. Ia lalu menoleh ke arahku yang masih duduk manis di sofa. "Kau tau ke mana Mom dan Dad, Misty? Ahh, konyol rasanya bertanya padamu." Sarah menggeleng-geleng lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelahku. Aku naik ke pangkuannya. Ingin menjelaskan, tapi percuma. Sarah membelai punggungku sambil melamun. Mungkin ia sedang mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Mendadak Sarah bangkit dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Aku mengikuti dari belakang. Sarah menuju kediaman Mr. Red. Melintasi pagar tanaman untuk masuk ke teras lalu mengetuk pintu. Menyadari tidak ada penghuni di dalam, Sarah kembali melangkah gontai menuju rumah. Tidak ada lagi orang yang bisa ditanyai di sekitar sini. Para penghuni perumahan ini rata-rata pasangan pekerja. Pagi hingga sore hari, kawasan ini cenderung lengang. Sarah kembali masuk ke rumah. Ia mencoba menghubungi ponsel ibunya. Terdengar sayup bunyi dering dari dalam kamar Helen. Ternyata Helen tidak membawa ponselnya. Sementara Ben, lelaki tua itu memang tidak mau memiliki ponsel. Dasar pria kuno yang ketinggalan zaman. "Kau belum makan, Misty?" Sarah menuju dapur untuk memeriksa. Aku mengeong sambil mengikuti langkahnya. "Miaw miaw." Tadinya aku tidak nafsu makan, tapi sekarang aku lapar, Sarah. Aku menggesekkan tubuhku bolak-balik ke kakinya. Sarah langsung mengerti. Ia segera mengambil dua potong daging asap dan meletakkannya di sebuah wadah plastik. "Kapan kau akan kembali makan seperti biasa, Misty." Ia terdengar menggerutu. Aku memutuskan untuk mengacuhkannya dan segera melahap makananku. Sarah kulihat mengambil sekotak cornflakes dan s**u dari lemari. Ia kemudian duduk di kursi meja makan dan menikmati sarapan. Sesudah sarapan, Sarah berbaring di sofa. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk. Ia terlihat menguap beberapa kali. Aku tahu bahwa dia kurang tidur selama di rumah sakit. Matanya tampak cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya. Tak lama kemudian mata Sarah terpejam. Aku melompat ke atas sofa dan ikut berbaring di dekat kakinya. Aku sekilas melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah satu jam berlalu sejak kepergian dua pasang suami istri itu ke rumah sakit. Semoga saja Mr. Red tidak apa-apa. Tanpa sadar aku ikut tertidur. Kami berdua terbangun saat mendengar suara memanggil dari luar. Aku memeriksa jam, sudah pukul satu siang rupanya. Sarah bangkit dengan sedikit terhuyung dan membukakan pintu depan. Ben dan Helen tampak berdiri di depan pintu. "Mom, Dad. Kalian dari mana saja?" Sarah mengucek matanya yang terlihat lengket. Ben dan Helen masuk ke rumah. "Harry terkena serangan jantung ringan tadi pagi. Aku dan ibumu membawanya ke rumah sakit. Untung dia cepat dapat pertolongan." Ben menjatuhkan tubuhnya yang tambun ke sofa ruang tengah. Sarah menutup mulutnya dengan perasaan terkejut yang terpampang nyata di wajahnya. "Kasihan Mr. Red. Jadi sekarang bagaimana keadaannya?" Helen ikut duduk mengambil tempat di sebelah suaminya. "Sudah tidak apa-apa. Seharusnya dia dirawat untuk beberapa hari di rumah sakit. Tapi lelaki keras kepala itu minta untuk dirawat di rumah saja." "Rumah sakit hanya akan membuatmu semakin sakit." Ben bergumam seolah menyetujui tindakan Mr. Red. Hmm, mereka benar-benar cocok dan serasi. "Omong kosong, Ben. Rumah sakit akan membuatmu sembuh, bukan sebaliknya." Helen menyanggah ucapan suaminya. Ben hanya mengibaskan tangan menanggapi. Tiba-tiba mata Ben tertuju padaku yang sedang meringkuk di atas karpet. Ia menatapku lama dengan pandangan yang sulit kuartikan. "Kucing ini ... kucing ini sungguh luar biasa ajaib." Matanya seketika tampak berbinar-binar. Sarah mengerutkan keningnya. Ia bolak-balik menatapku dan ayahnya. "Maksud, Daddy?" Ben dengan bersemangat menceritakan saat aku berusaha memberitahu akan kondisi Mr. Red yang terkapar. "Dia seperti kucing yang terlatih. Apa kau pernah memasukkan kucing ini ke suatu kursus penyelamatan, Sarah?" Helen bertanya. Sarah menggeleng. Wajahnya terlihat penuh kebanggaan saat menatapku. Aku menjadi salah tingkah saat ketiga orang itu menatapku nyaris tak berkedip. Ben bangkit dari sofa dan berusaha menggapai tubuhku. Aku terlambat untuk menghindar. Dalam sekejap aku sudah berada dalam gendongan lelaki tua itu. Oh, rasanya aneh sekali. "Aku belum pernah sekali pun suka pada seekor kucing, tapi kau adalah pengecualian, kucing kecil." Ben mengelus kepala dan leherku dengan canggung. Hentikan, Ben! Rasanya terlalu aneh. "Oh, Ben. Kau manis sekali." Helen menatap suaminya dengan tatapan memuja. Aku hanya bisa berdiam diri dalam gendongan lelaki itu. Seandainya dia tahu siapa yang sedang dia peluk sekarang. Mungkin dia akan langsung melempar tubuhku sejauh mungkin lalu melakukan ritual pembersihan diri. "Miaw miaw." Aku akhirnya memutuskan untuk membebaskan diri. Ben kembali menaruhku di lantai lalu mengelus punggungku sejenak. Sarah meregangkan tubuhnya sejenak lalu melangkah menuju dapur. "Aku akan memasak makan siang!" serunya. "Mari aku bantu." Helen mengikuti langkah putrinya. Ben kembali menghenyakkan tubuhnya yang besar itu ke sofa setelah menghidupkan televisi. Sesaat kemudian ia tampak bosan karena tidak menemukan acara yang diminatinya. "Acara televisi sekarang banyak yang tidak bermutu." Ia menggerutu. Yah, buat acaramu sendiri, Ben. Bagaimana dengan ide tentang sebuah film 'menantu b******k yang berubah wujud menjadi seekor kucing'. Aku yakin acara itu akan menarik perhatian banyak orang. Ben berdiri dan melangkah menuju pintu depan. Aku yang tidak tahu harus melakukan apa, memutuskan untuk mengikutinya. Sesampainya kami di teras, sebuah mobil sedan butut berhenti di depan rumah Mr. Red. Ben memicingkan mata untuk mengamati siapa pengemudinya. Seorang pemuda bertubuh berisi keluar dari mobil berwarna abu-abu pudar itu. Aku sepertinya pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Oh ya, itu Christopher, pramusaji yang bekerja di Harley's. Oh, tentu saja, dari obrolan yang pernah kudengar waktu itu pemuda ini adalah keponakan dari Mr. Red. Ia tentu datang untuk menjenguk pamannya. Sejenak pemuda itu mematut dirinya lewat kaca jendela mobil. Aku menertawakan gaya fashionnya yang menurutku konyol. Ia mengenakan kemeja berwarna biru cerah dari bahan mengkilap yang sepertinya tidak cocok dengan musim panas sekarang ini. Celana panjang dari bahan katun kaku yang lebih cocok dikenakan oleh pria usia lanjut tampak menggelikan saat ia kenakan. Hei, Anak Muda! Kau tidak punya kaca di rumah? Christopher terlihat mengusap rambutnya sebagai sentuhan terakhir. Rambut yang senantiasa tampak mengkilap dan memantulkan sinar matahari di atasnya. Ia menyudahi tindakan mengagumi dirinya sendiri dan memutar tubuh memasuki halaman. Matanya lalu tertuju pada Ben yang sedang berdiri mengamati dari tadi. Christopher tersenyum ramah dan melambaikan tangan. Ben membalas sambil mengangguk. Aku tiba-tiba merasa was-was. Khawatir Ben akan mencoba mengorek sesuatu dari pemuda itu nantinya. Ia cukup hanya mendengar dari mulut Mr. Red saja, tidak perlu mewawancarai Christopher secara langsung. Akan tetapi, tak lama kemudian, akhirnya kekhawatiranku menjadi nyata ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN