"Kau ingin menjenguk, Harry?" seru Ben tampak berbasa-basi.
Christopher menjawab dari tempat ia berdiri. "Iya, Sir. Saya tidak bisa datang ke rumah sakit tadi. Jadi saya memutuskan untuk mampir sebelum berangkat kerja."
Ben mengangguk. "Kau kerja di Harley's, bukan?"
"Iya, Sir. Saya pelayan di sana." Christopher menjawab dengan bangga. Aku acungkan jempol untuk rasa bangganya akan pekerjaan yang ia tekuni.
Ben kembali mengangguk-angguk cepat. Kepalanya tampak seperti burung kelaparan yang sedang mematuk makanan.
"Boleh minta waktumu nanti sebentar saja? Ada yang ingin kutanyakan padamu." Ben langsung berkata tepat pada sasaran.
Ini dia! Mampuslah aku!
"Baik, Sir. Kalau begitu saya masuk dulu." Christopher berpamitan dengan sopan.
Ben duduk di kursi teras. Ia dengan kesabaran seorang biksu menunggu Christopher keluar dari rumah Mr. Red. Aku juga tidak beranjak dari situ dan mengambil tempat di kursi satunya lagi.
Seandainya aku ada dalam wujudku yang dulu dan duduk berdampingan dengan mertuaku seperti ini, mungkin peristiwa itu bisa masuk dalam salah satu keajaiban dunia.
Jika hubungan kami baik-baik saja, mungkin sekarang kami sedang bertukar cerita sambil menikmati secangkir teh atau kopi. Kami mungkin akan membicarakan tentang isu-isu politik paling hangat belakangan ini. Seperti normalnya pembicaraan mertua dan menantu.
Kira-kira setengah jam kemudian, aku juga tidak tahu pasti, Christopher muncul dari pintu depan. Ia segera menoleh saat Ben memanggil dan mengisyaratkannya untuk mampir.
Dengan kelincahan yang dimiliki seorang waitress berpengalaman, Christopher melangkah cepat melintasi pagar menuju teras.
"Namamu Christopher, bukan? Aku Ben. Ayahnya Sarah." Ben mengulurkan tangan.
Christopher menyambut uluran tangan keriput itu. "Artinya Anda mertua Devon, Sir?"
Ben mengangguk, walau tampak enggan. "Duduklah di situ." Ben menunjuk kursi di sebelahnya tempat aku meringkuk.
"Oh, ada kucing!" Christopher mundur dengan cepat. Matanya terlihat ketakutan saat melihatku. "Berbulu hitam, persis seperti kucing yang dulu menggigit saya waktu kecil."
Ben berdiri cepat dan mengambil alih tubuhku dalam pangkuannya. Aku sebenarnya ingin melepaskan diri, tapi mengingat bahwa hanya dari situ aku bisa menyimak obrolan mereka dengan jelas, aku berusaha untuk bertahan.
"Kucing ini tidak berbahaya. Malahan, dia kucing yang luar biasa." Ben mengelus kepalaku dengan lembut.
Ben lalu dengan berapi-api mengisahkan betapa heroiknya tindakan penyelamatan yang kulakukan tadi pagi. Christopher yang telah menempati kursi di sebelahnya hanya mengangguk kecil sambil sesekali melirik ke arahku dengan tatapan gamang.
Ben berdeham kecil setelah menyelesaikan ceritanya. "Kau kenal Devon dengan baik?"
"Umm, tidak terlalu. Bahkan mungkin dia tidak pernah menyadari kehadiran saya di situ." Christopher tertawa getir.
"Kenapa? Dia tidak berbaur dengan yang lainnya?"
Sesaat Christopher tampak ragu untuk menjawab. "Umm, saya tidak enak hati harus membicarakan tentang dia kepada Anda."
Ben langsung menyambar. "Tidak apa-apa. Kemukakan saja pendapatmu tentang dia."
Setelah menguasai dirinya, Christopher kemudian tampak membulatkan tekad untuk bercerita. "Devon hanya bergaul dengan gadis-gadis cantik yang ada di Harley's. Pramusaji, bartender, bahkan para tamu, asalkan mereka berparas cantik, maka Devon akan berada di dekat mereka."
Damn! Skak mat! Aku merasa mati kutu.
"Hampir semua gadis yang bekerja di Harley's pernah dia ajak berkencan. Belum lagi para tamu. Devon menyukai mahasiswi-mahasiswi cantik. Saya akui seleranya memang bagus."
Aku mendongak ke arah Ben, mengamati perubahan ekspresinya. Wajah lelaki tua itu tampak memerah. Urat di keningnya terlihat berkedut dengan rahang mengatup.
Christopher sepertinya juga menyadari mimik wajah Ben yang berubah menyeramkan. Dengan wajah menyesal ia cepat mengajukan permintaan maaf.
"Ma-maafkan saya, tidak seharusnya saya berkata seperti itu. Ba-bagaimanapun dia menantu Anda."
Ben mengembuskan napas berat. Ia sepertinya sedang berusaha mengendalikan emosi. Aku membeku. Ironis sekali rasanya bahwa menantu yang sedang ia bicarakan dan dibencinya setengah mati, saat ini justru ada di pangkuannya.
"Tidak apa-apa, Christ. Sebenarnya aku sudah lama tahu. Sebelumnya sudah ada orang yang memberikan informasi seperti ini padaku."
Aku tersentak. Siapa orang itu?
Christopher terlihat gelisah. Ia berkali-kali mengubah posisi duduknya.
"Benarkah sewaktu kecelakaan itu terjadi dia sedang bersama seorang gadis?"
Oh, mulai lagi!
Christopher mengangguk. "Betul, Sir. Saya melihat sendiri. Kabarnya gadis itu seorang mahasiswi. Mereka baru saja berkencan beberapa minggu dari berita yang saya dengar."
Ben menepuk pahanya dengan keras, membuat aku terkejut, dan memutuskan untuk melompat turun.
Christopher juga ikut melonjak dari kursinya. Wajahnya tampak memucat. Ia pun terlihat mengusap wajah berkali-kali dengan gugup.
"Baiklah, Nak. Terima kasih atas semua informasinya." Ben tampak ingin segera menyudahi pembicaraan.
Christopher langsung melompat berdiri. Sepertinya ia memang sudah menunggu momen tersebut. "Tidak masalah, Sir. Saya pamit sekarang."
Seperti dikejar setan, Christopher langsung berlari menuju mobilnya. Ben masih duduk terdiam di kursi, keningnya tampak berkerut. Tak lama kemudian ia berdiri dan masuk ke rumah. Aku bergegas mengikuti dari belakang.
"Kau dari mana saja, Ben? Ayo kita makan siang. Aku dan Sarah sudah beres memasak." Helen berseru dari dapur saat melihat Ben masuk ke ruang tengah.
Lelaki itu segera datang dan duduk di kursi meja makan. Sarah terlihat sibuk menata piring dan meletakkan makanan yang baru saja matang.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu cemberut begitu?" Helen yang duduk di sebelah Ben menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya.
Sarah yang menempati kursi berhadapan dengan sang ayah pun ikut menyimak perubahan itu. Aku segera melompat ke kursi di sebelahnya untuk memantau situasi.
"Daddy baik-baik saja?" tanya Sarah yang tampak khawatir.
Ben mengibaskan tangan seolah meminta mereka untuk mengabaikan dirinya. "Aku baik-baik saja. Hanya kelaparan." Ia menjawab dengan kaku.
Helen dengan cekatan langsung menghidangkan makanan untuk sang suami. Siang ini Helen dan Sarah membuat menu ayam goreng, mashed potato, dan kacang polong. Perutku tiba-tiba bergemuruh, aku juga kelaparan.
"Miaw." Sarah, kasihani aku. Aku juga lapar.
Refleks Sarah langsung menoleh saat mendengar aku mengeong. Ia lalu mengambil sepotong ayam goreng, meletakkan potongan itu di sebuah piring lalu menaruhnya di atas kursi.
Kami pun menyantap hidangan masing-masing dalam suasana hening. Sepertinya suasana hati semua orang jadi berubah gara-gara sikap Ben.
"Umm, Dad. Apa Daddy tidak mau sesekali menengok Devon ke rumah sakit?"
Aku otomatis mendongak. Oh, Sarah! Jangan bahas hal itu sekarang ini. Topik pembicaraan tentang diriku adalah hal terakhir yang harus dibahas saat Ben sedang dalam kondisi seperti ini.
"Buat apa?" Ucapan itu tampak enteng keluar dari mulut Ben. Ia bahkan tidak mengangkat wajah saat menjawab.
Sarah tampak terluka. Wajahnya langsung terlihat sedih dan muram. "Aku tahu Daddy tidak menyukai Devon, tapi bisakah untuk saat sekarang ini Daddy membuat pengecualian?"
"Aku akan berbicara padanya nanti setelah dia sadar kembali." Ben menjawab pendek.
Sarah terdiam, begitu juga Helen. Mereka berdua sepertinya paham bahwa keputusan Ben tidak akan bisa diubah. Sekarang aku mengerti dari siapa Sarah mendapatkan sifat keras kepalanya.
Aku bisa memaklumi Ben. Jika aku berada di posisinya, aku juga akan melakukan hal serupa. Tak ada seorang pun ayah di dunia ini yang akan sanggup melihat sang putri dikhianati oleh pasangan hidupnya.
Sesudah menandaskan makanannya, Ben langsung masuk ke kamar. Padahal biasanya ia selalu menghabiskan waktu di depan televisi setelah menyelesaikan makan siang. Tampaknya pembicaraan dengan Christopher tadi betul-betul membuat ia terpukul. Diam-diam aku menaruh kasihan pada lelaki tua itu.
Perasaan menyesal diikuti perasaan lainnya, bercampur aduk di dalam hatiku. Dulu aku tidak pernah membayangkan bahwa semua tindakanku itu akan melukai hati banyak orang. Saat aku menyadarinya, semua sudah terlambat.
Adakah kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri? Tuhan, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi ....