Suasana rumah begitu sepi tanpa kehadiran Ben dan Helen. Aku dan Mozzy kebingungan menghabiskan waktu dalam kondisi rumah terkunci rapat seperti sekarang ini.
Pagi ini, kami berdua duduk di depan pintu sambil sesekali mengintip lewat jendela ruang tamu. Sudah pukul sembilan pagi dan Sarah belum juga muncul. Aku penasaran apakah Paul juga akan mengantarnya pulang hari ini?
Rasa penasaranku terjawab saat sebuah taksi berhenti di depan rumah dengan Sarah keluar dari kursi penumpang. Aku bersorak dalam hati, ternyata istriku itu lebih memilih pulang sendiri.
Akan tetapi, rasa gembiraku lenyap saat melihat ekspresi wajah Sarah ketika melangkah masuk ke halaman menuju teras. Wajahnya tampak begitu kuyu dan sembab. Apa ia habis menangis?
Suara kunci yang dimasukkan ke lubangnya terdengar diikuti sosok Sarah yang muncul dari ambang pintu yang sekarang terbuka lebar. Ia melangkah masuk tanpa mengacuhkan aku dan Mozzy yang berdiri di dekat pintu untuk menyambutnya.
"Miaw miaw"
Aku berusaha menarik perhatiannya, tetapi nihil. Sarah terus melangkah masuk ke kamar dan membanting dirinya di atas kasur lalu menangis tersedu-sedu.
Aku dan Mozzy saling berpandangan. Perasaanku mulai tidak nyaman. Mozzy memberi isyarat supaya aku melompat naik ke ranjang untuk melihat keadaan Sarah.
"Aku keluar dulu." Kucing putih itu membalikkan tubuhnya keluar dari kamar.
Aku melompat naik dan mengendus-endus rambut Sarah sambil mengeong. Ia masih terus menangis menyembunyikan mukanya di balik bantal.
Tak lama ponsel Sarah berbunyi. Setelah beberapa kali deringan, akhirnya Sarah meraih tas yang tergeletak tak jauh darinya lalu menarik ponsel itu keluar.
"Haloo ...." Ia berucap dengan suara serak dan sengau.
"Aku sudah di rumah. Maaf, aku tadi naik taksi untuk pulang. Aku tidak bisa menunggu, pikiranku sangat kacau sekarang. Hasil test Devon sudah keluar ...." Tangisan Sarah kembali pecah.
Jantungku seolah dipukul dengan telak hingga untuk sesaat aku sulit bernapas. Jadi itu yang membuat Sarah menangis. Hasilnya tentu sangat buruk, bukan?
"Bisa kau ke sini sekarang, Paul? Aku butuh seseorang untuk bercerita. Mommy tadi tidak mengangkat ponselnya. Mungkin mereka masih sibuk. Baiklah, terima kasih, Paul."
Sarah mengakhiri pembicaraan dan melempar ponsel itu begitu saja. Ia kembali berbaring telungkup dan melanjutkan tangisnya.
Aku membeku di tempatku berdiri sambil berusaha menebak-nebak bagaimana hasil test itu. Apa tubuhku memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi? Apa akhirnya aku akan mati? Seingatku, aku masih punya waktu sekitar dua minggu lagi. Apakah waktunya dipercepat? Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya? Ah, ini sungguh kacau.
Sarah akhirnya bangkit dan beranjak masuk ke kamar mandi. Terdengar gemercik air menandakan ia sedang membasuh tubuhnya. Aku menunggui hingga ia selesai dan akhirnya keluar dengan rambut basah.
Seusai berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, terdengar bunyi bel dari luar. Sarah bergegas keluar kamar menuju pintu depan. Aku mengekor dari belakang. Mozzy kulihat sedang berbaring di atas sofa sedang menyibukkan diri dengan menjilati kaki depannya.
"Masuklah, Paul."
Paul yang masih berdiri di depan pintu menatap Sarah dengan kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. "Kau baik-baik saja?"
Sarah menggeleng. "Aku sedang tidak baik-baik saja, Paul. Duduklah."
Paul lalu masuk dan mengambil tempat di samping Sarah. Aku langsung bertindak cepat dengan melompat di tengah-tengah mereka. Paul sedikit tersentak dan otomatis menggeser tubuhnya menjauh.
"Ceritakan padaku. Bagaimana hasil test itu."
Sarah menghela napas sejenak. "Pagi tadi dokter memanggilku masuk dalam ruangannya. Ia menyerahkan beberapa lembar kertas berisi sesuatu yang tidak aku mengerti isinya."
Sarah mengubah posisinya menghadap Paul lalu melanjutkan. "Dokter membacakan hasil test itu. Menurut hasil test EEG, EKG, CT Scan, MRI dan masih ada lagi aku tidak begitu ingat, dokter bilang kalau Dev mengalami mati otak ... dia tidak akan sadar kem-bali, dia ...." Sarah tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tangisnya kembali pecah.
"Sarah, aku ikut sedih mendengarnya." Tangan Paul bergerak hendak menyentuh bahu Sarah. Aku langsung bergerak maju sambil menggeram perlahan. Paul langsung menarik tangannya dan menatapku dengan pandangan cemas.
"Selama ini Dev bertahan hanya karena alat penunjang hidup yang terpasang di tubuhnya. Dokter bilang, jika ventilator-nya dilepas, Dev tidak akan mampu untuk bernapas dan jantungnya akan berhenti berdetak. Oh, Paul ... kenapa bisa seperti ini?" Sarah menyusut hidungnya yang berair. Paul langsung bergerak cepat mengambil sapu tangan yang ada dalam sakunya dan menyodorkan pada Sarah.
"Jadi, seandainya alat itu dilepas, Devon tidak akan bertahan, begitu?"
Sarah mengangguk sambil mengucek hidungnya menggunakan sapu tangan dari Paul. "Dev tidak akan bisa kembali sadar atau bernapas sendiri karena otaknya sudah tidak berfungsi, tapi ... waktu itu aku menyaksikan sendiri kalau jari Dev bergerak. Aku sudah bilang pada dokter dan sekarang dokter bilang kalau itu tidak mungkin. Menurutnya bisa saja aku salah lihat. Bagaimana mungkin aku bisa salah ...."
Paul mengangguk perlahan. "Jadi, apa saran dokter untuk selanjutnya, Sarah?"
Sarah meremas jemarinya yang saling bertautan. "Dokter bilang, aku harus merelakan Dev. Dokter bilang, aku harus membiarkan Dev pergi dengan melepaskan semua alat penunjang hidupnya. Bagaimana aku bisa melakukan itu semua ... bagaimana aku bisa!" Ledakan tangis Sarah kembali terdengar. Paul tak tinggal diam. Ia langsung berdiri dan duduk di samping Sarah lalu memeluknya.
Aku yang ketinggalan momentum hanya bisa terpaku tanpa bisa bergerak. Jadi ... memang sudah tidak ada harapan lagi bagiku. Ternyata hanya sampai di sini.
Aku hanya bisa berdiam diri menyaksikan istriku dalam pelukan Paul. Entahlah, dalam situasi ini rasanya aku bisa mentolerir hal itu. Sarah sedang butuh kekuatan dan aku tidak bisa memberikan itu padanya. Aku benar-benar merasa kecil dan tidak berarti saat ini.
Setelah beberapa menit, Sarah mengurai pelukan Paul dan beringsut sedikit menjauh. Ia mengusap wajah dan merapikan rambut bagian depannya yang basah oleh air mata. Paul yang mengerti, kembali duduk di tempatnya semula. Wajahnya terlihat sedikit memerah.
"Terima kasih, Paul. Aku merasa sedikit lega karena sudah berbagi cerita denganmu. Jujur, rasanya jiwaku seakan tercabut saat mendengar berita itu. Benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. Aku selalu berharap Dev akan kembali pulih seperti dulu." Tatapan mata Sarah menerawang.
"Aku mengerti perasaanmu, Sarah."
"Tapi aku tidak akan menyerah, Paul. Aku tidak akan begitu saja melepaskan Dev. Mungkin aku akan memindahkan dia ke rumah sakit lain dan meminta pendapat kedua. Mungkin aku akan meminta test ulang, entahlah yang jelas aku tidak akan melepaskan Dev semudah itu." Mata Sarah tampak kembali hidup dan penuh tekad saat mengucapkan kalimat itu. Aku bisa melihat harapan di matanya.
Aku terpukau. Tidak menyangka jika istriku ini akan begitu keras memperjuangkan hidupku. Aku bisa merasakan cintanya padaku begitu tulus.
"Aku rasa rumah sakit yang sekarang ini sudah cukup baik, Sarah. Kuharap kau akan mempertimbangkan lagi untuk memindahkan Devon." Paul mengemukakan pendapatnya.
"Entahlah, aku akan bicarakan dulu dengan orang tuaku. Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan, aku paham itu. Namun, yang jelas sekarang ini aku akan tetap mempertahankan Dev dan tidak akan mencabut alat penunjang hidupnya."
Paul lagi-lagi mengangguk. "Oh, ya. Kau sudah sarapan?"
Sarah menggeleng. "Aku tidak akan sanggup menelan apa pun, Paul. Tidak dalam kondisi sekarang ini."
"Kau harus memaksakan diri, Sarah. Bagaimana kalau aku temani sarapan di luar. Kau juga perlu udara segar agar pikiranmu bisa sedikit tenang."
Sarah terlihat sedikit terpengaruh dengan ucapan itu. Melihat itu, Paul kembali meneruskan kalimatnya. "Kau harus kuat demi Devon. Bukan begitu?"
Sarah tersenyum getir. "Paul kau teman yang baik. Aku yakin Dev akan sangat berterima kasih padamu. Sebentar, aku ganti baju dulu."
Paul tampak senang ketika akhirnya Sarah bersedia menerima ajakannya. Bibirnya mengulum senyum. Namun, senyuman itu mendadak lenyap saat aku mendekatinya perlahan.
"Hush ... hush! Menjauh sana!" Ia mengibaskan tangannya berusaha mengusirku. Aku melangkah makin dekat sambil menatap matanya. Ingat batasanmu, Paul! Jangan coba-coba memanfaatkan situasi!
Sarah mendadak muncul dan membuatku mundur menjauh. Aku tidak mau dikurung seperti kemarin lagi. Sarah menghampiri kursi dan mengangkat tubuhku.
"Aku harus menberi makan kucingku dulu, Paul. Kau tidak keberatan menunggu sebentar?"
"Tidak ada masalah. Sepertinya kucingmu memang tampak ... lapar." Bahu Paul tampak sedikit bergidik. Ia refleks mengangkat lengannya dan memeriksa bekas luka cakaran yang masih tampak memerah.
Sarah berlalu sambil menggendongku dan memanggil Mozzy yang masih terbaring di sofa ruang tengah. Kucing putih itu dengan sigap melompat turun mengikuti Sarah hingga ke dapur.
Sarah menyiapkan semangkok makanan lembek untuk Mozzy dan potongan daging ayam rebus yang sudah disuwir halus untukku. Aku hanya diam sambil menatap mangkok itu, sementara Mozzy melahap makanannya dengan rakus.
"Makanlah, Misty. Aku pergi sebentar, ya." Sarah berjongkok dan mengelus punggungku.
Aku menengadah menatapnya. Aku masih tidak rela kau banyak menghabiskan waktu dengan Paul, Sarah. Menyakitkan bagiku menyaksikan hal itu, tapi aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.
Sarah menghela napas sejenak kemudian bangkit dan melangkah menuju ruangan depan. Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup. Aku segera berlari dan mengintip lewat jendela.
Mereka tampak berjalan beriringan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Keduanya terlihat seperti pasangan yang harmonis. Dadaku terasa sesak oleh rasa cemburu. Perasaan seperti ini seakan membunuhku secara perlahan.
"Habiskan makananmu. Kau tidak mau mati lebih cepat lagi, bukan?"
Mozzy ternyata sudah berada di belakangku. Ia menjilati cakarnya dan mengusapkan ke wajah berkali-kali. "Kau sudah tahu beritanya?" Aku bertanya dengan lesu.
"Aku sudah dengar dan aku turut menyesal. Tapi sepertinya istrimu tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan mencari cara."
Aku duduk meringkuk di lantai. Tubuhku rasanya begitu lemas. "Entahlah, Mozzy. Aku takut dia akan berubah pikiran dan merelakan alat penunjang itu dicabut. Jika begitu, tamatlah riwayatku sebelum bisa membuktikan sesuatu padanya."
Mozzy menyudahi kegiatan membasuh mukanya. Ia turut duduk meringkuk di depanku. "Kau belum tahu bagaimana nantinya. Jangan berpikiran buruk dulu. Sekarang makanlah."
Aku merasa terharu dengan perhatian dari kucing putih itu. Juga merasa bersyukur dia ada ke rumah, ini walaupun tujuan dia didatangkan begitu menggelikan.
Aku pergi menuju dapur dan menghabiskan makanan yang kali ini terasa hambar lalu kembali ke ruangan depan. Satu jam kemudian Sarah kembali. Aku mengintip dari jendela saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Sarah keluar dari kursi depan dan melambaikan tangan.
Tak lama mobil berwarna abu-abu itu kembali melaju. Sarah menyeberangi halaman dan melangkahi rerumputan menuju teras. Pintu terbuka tak lama kemudian.
"Hai, kalian menunggu aku di sini rupanya."
Kondisi Sarah sepertinya sudah lebih baik walau matanya masih terlihat sembab. Mungkin Paul memang benar. Ia butuh udara segar dan tentu saja teman untuk bercerita.
"Aku akan istirahat sebentar sebelum pergi ke rumah sakit. Mudah-mudahan aku bisa tidur." Ia bergumam lalu pergi menuju kamarnya.
"Kau tidak ikut?" Mozzy bertanya saat melihatku yang masih meringkuk di tempatku semula.
Aku menggeleng. "Aku tidak sanggup jika harus melihat dia menangis lagi nanti. Aku merasa hancur."
Mozzy berdiri lalu menggaruk telinga menggunakan kaki belakangnya. Serpihan bulunya tampak menyebar ke mana-mana. "Aku tidak menyangka dalam kehidupanku sebagai kucing akan menyaksikan kisah percintaan manusia yang begitu rumit dan menyedihkan." Ia bergumam lalu beranjak pergi.
Ya, aku pun juga tidak menyangka jalan hidupku akan seperti ini. Kadang aku masih beranggapan bahwa ini semua hanyalah mimpi. Namun, jika ini mimpi, kenapa begitu panjang dan tak kunjung berakhir?