AWAL PERTEMUAN
Suasana clubbing yang redup tak membuat nyali Alesha ciut. Ia dengan berani menerobos masuk dan mencari pemilik club ini. Qiana merasa bersalah pada Alesha, gara-gara dirinya Alesha harus berurusan dengan orang-orang seram. Qiana merutuki dirinya dalam hati, karena sudah berhutang sebanyak itu hanya karena judi.
“Hey kalian.” Panggil Alesha pada pria bertatto yang tadi siang datang mengobrak-abrik kosan Qiana. Pria itu tersenyum puas ketika Alesha menepati janjinya untuk datang menyelesaikan hutang sepupunya.
“Bos ku sudah menunggu di ruangannya.” Ucapnya pria bertatto itu. Alesha dan Qiana pun mengikutinya. Sesampai di depan ruangan Paling ujung, yaitu ruangan bos mereka. Alesha sedikit gemetar, tangannya mulai dingin. Berulang kali ia merapal doa dalam hati. Kalau saja bukan demi sepupunya, ia tak akan mau seperti ini.
“Masuklah.” Perintah pria bertatto itu pada Alesha dan Qiana. Mereka berdua masuk sambil berpegangan tangan.
“Duduklah.” perintahnya. Alesha dan Qiana langsung duduk.
“Kau kah Alesha?.” Tanya pria itu sembari menunjuk Alesha.
Bau alkohol itu menguar ketika pria itu bicara. Bajunya juga sudah tak di kancing lagi.
“Langsung saja, aku kemari ingin membahas hutang sepupu ku. Aku akan membayar hutang itu dengan mencicilnya.” ucapnya percaya diri. Alih-alih menjawab, Pria itu malah terbahak-bahak dengan penuturan Alesha.
“Terus terang, aku menolak jika kau mencicilnya. Tetapi aku punya cara lain.” Ucapnya. Alesha dan Qiana langsung berbinar setelah mendengar bahwa mereka punya jalan lain.
“Jadilah bartender di club ini selama dua bulan penuh.” Lanjutnya. Mereka berdua saling memandang.
“Aku mau.” Ucap Qiana. Dirinya tidak keberatan jika harus menjadi bartender.
“Bukan kau, tapi aku mau dia.” Ucap pria itu seraya menunjuk Alesha.
>>>>>>>>>>
Sesuai dengan kesepakatan semalam. Alesha menerima tawaran dari pemilik itu. Qiana sudah menyuruh Alesha untuk menolak. Tetapi Alesha Bersikeras untuk tetap menerimanya. Alesha merasa tak masalah jika harus membagi waktunya untuk bekerja di hotel dan malamnya di clubbing.
“Alesha.” Panggil Reza, pemilik clubbing.
“Hari ini kita punya tamu VIP, jadi kamu yang layani mereka.” Ujarnya. Alesha ingin menolak, tetapi ia teringat akan kesepakatan kemarin. Dimana ia tidak dapat menolak apapun yang diperintahkan selama bekerja disini.
Berulang kali Alesha menarik nafasnya agar rileks. dirasa sudah cukup rileks, ia memberanikan diri untuk masuk sambil membawa dua botol whiskey.
di dalam dirinya sudah di sambut oleh tiga orang laki-laki.
“Suitt.” Salah satu dari mereka memanggil Alesha dengan bersiul. Alesha pun ikut bergabung duduk bersama mereka.
“Baru ya?.” Tanya lelaki yang ada di depannya.
“Kalau dilihat-lihat barang baru nih bos.” Seru laki-laki yang duduk di depan Alesha.
“Nama mu siapa cantik?.” Tanya laki-laki di sebelah kananya sembari menempelkan tangannya di paha mulus milik Alesha. Mendapatkan sentuhan itu dengan spontan Alesha menjauh. Para lelaki yang ada di ruangan itu saling pandang dan tertawa melihat ekspresi Alesha.
“Maaf, saya di sini bekerja. Tolong, sopan lah sedikit.” Tegas Alesha.
“Sok mahal banget.” Ujar mereka.
“Minumlah, saya sudah menuangkannya.” ucap Alesha yang telah menuangkan minum di gelas mereka.
“Kita bakal minum, kalo kamu duluan yang minum.” Ujar laki-laki yang membentaknya tadi.
“Maaf, saya tidak minum minuman seperti ini.” Ucap Alesha.
“Hahahahah… kocak banget yah? Kerja di clubbing, tapi nggak bisa minum. Rugi dong.” mereka menertawakan sikap Alesha yang begitu polos.
Tak suka dengan sikap kaku yang dimiliki Alesha. Laki-laki itu menarik bajunya dengan kasar dan alhasil baju itu robek. Robekan baju itu sedikit mengekspos bra yang dipakai olehnya. Tak terima telah dipermalukan seperti ini, Alesha melayangkan satu pukulan di wajah laki-laki yang telah merobek bajunya, dan menyirami mereka bertiga dengan sebotol whiskey.
“Bit*h.” umpat mereka bertiga setelah mendapat siraman dari Alesha.
“Anj**g, wanita jalang seperti mu harus diberi pelajaran.” teriak laki-laki yang telah diberi pukulan oleh Alesha.
Laki-laki itu mendorongnya hingga terpental ke lantai. tubuhnya di ditindih. Alesha berteriak meminta tolong. posisi tak berdaya yang dialami Alesha menjadi tontonan dan bahan tertawaan mereka.
Dorrr….
Bunyi tembakan itu terdengar dari luar ruangan. Mereka terdiam, Alesha mengambil kesempatan itu dengan membenturkan kepalanya pada laki-laki yang telah menindihnya. Alesha juga menggigit tangan mereka yang menahannya.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Alesha Berhasil keluar dari ruangan itu, Tetapi dirinya dibuat bingung dengan orang-orang yang berlarian tak karuan. Ia juga melihat beberapa orang menggunakan seragam polisi.
“Jangan bergerak.” Suara khas baritone itu muncul dari arah belakangnya. Alesha berbalik, Pria itu ternyata adalah polisi. Alesha bisa tahu karena ada pistol di genggamannya.
“Astagfirullah.” lelaki itu menutup matanya kala Alesha berbalik.
Alesha menutup bagian depannya yang robek dengan kedua tangan, ia sadar apa yang menjadi penyebab pria itu menutup mata.
“Maaf, saya tadi hampir diperkosa.” Ucap Alesha jujur.
Pria itu melepas jaketnya dan memberikannya kepada Alesha dengan keadaan menutup mata.
“Sudah saya pakai.” Ucap Alesha yang sudah memakai jaket yang diberikan oleh polisi itu.
“Kalau begitu kamu ikut dengan saya sekarang.” Ucapnya dengan tiba-tiba.
“Kemana?.” Tanya Alesha bingung.
“Ke kantor polisi, tempat ini terindikasi adanya transaksi narkoba. maka kamu harus diperiksa,” Jelas polisi tersebut.
“Narkoba? yang benar saja. Maaf pak polisi. Pertama, saya ini adalah korban yang hampir saja diperkosa dan yang kedua saya tidak memakai narkoba.” Tekan Alesha kepada polisi itu.
“Zihan borgol dia.” Perintah polisi tersebut kepada salah satu temannya yang juga polisi. Alesha memejamkan matanya. dirinya sangat teramat kesal, niat ingin membantu sang sepupu, yang ada di tangkap Polisi.