KEPUTUSAN KONYOL

976 Kata
Alesha duduk dengan santai menunggu gilirannya untuk dimintai keterangan, menurutnya ia tak perlu khawatir, karena dirinya tak memakai barang seperti itu. Alesha memandang polisi yang sudah berani menangkapnya itu dengan tatapan jengkel, sesekali ia menggigit bibirnya karena kesal. Harusnya setelah bekerja dari clubbing ia menikmati ulang tahunnya malam ini. “Hey kamu.” Panggil polisi itu. “Saya?.” Tanya Alesha yang tak yakin kalau dirinya yang di panggil. “Iya kamu, siapa lagi?.” Jawabnya ketus. “Duduk.” Ucapnya, terdengar memerintah. “Nama? Umur dan pekerjaan.” Tanya polisi yang menangkap Alesha. “Alesha Shaqueena, umur dua puluh empat tahun, resepsionis hotel.” Tuturnya. “Apa ini?.” Tanya Alesha yang bingung telah diberi sebuah wadah berukuran kecil. “Urin mu harus dites.” Jawabnya dengan datar. “Perlu kah? Sudah saya katakan, saya ini bukan pemakai, bukan berarti saya ada di sana saya ikut memakai barang itu juga.” Ucap Alesha dengan kesal. “Zihan.” Panggil polisi itu pada bawahannya. “Ya IPDA Zavi.” Polisi perempuan yang dipanggil itu langsung berdiri. “Bawah dia ke toilet. paksa dia sampai mengeluarkan urin nya.” Perintah Zavi pada Zihan salah satu bawahannya. “Oh ya ampun.” Ucap Alesha yang tak habis pikir, betapa menjengkelkan orang yang ada dihadapannya kini. Beberapa jam menunggu akhirnya hasil tes pun keluar. Hasil tes urin dari Alesha negatif, yang artinya Alesha tak memakai barang tersebut. Ia pun bernafas dengan lega, sembari memberikan tatapan mengejek pada Zavian . beberapa dari mereka ditahan oleh polisi, dan yang lainnya dibebaskan pulang. “Boleh minta nomornya? Jaket ini akan saya pulangkan besok.” Alesha meminta nomor Zavian, tanpa kata apapun Zavian langsung menuliskan nomornya, dan memberikannya pada Alesha. “Oke, sampai jumpa pak polisi.” Ucap Alesha seraya melambaikan tangannya. Jangankan membalas lambaian tangan Alesha, tersenyum saja tidak. Polisi itu muda itu sangat berbeda, dirinya punya tatapan tajam dan sikapnya sangat kaku. Semua rekan kerjanya, apalagi bawahannya sangat segan pada polisi muda itu. namun walaupun kaku, Zavian sangat cerdas dan memilki banyak prestasi, ada begitu banyak kasus yang ia ringkus dan selesaikan selama berada di kepolisian. Polisi muda itu bernama Zavian Fathanah Allaric. Putra sulung dari Fathan Allaric dan Amalia. Dibalik kecerdasannya, ia ternyata sedang diterpa patah hati yang amat mendalam. Perempuan yang selama ini ia kagumi, dilamar lebih dulu oleh adiknya sendiri. Perempuan itu bernama Fatimah Pratama. Perempuan itu cantik nan kalem. Keluarga Fatimah sangat dekat dengan keluarga Zavian. Kedekatan keluarga ini membuat Mereka berdua menjadi teman baik. Paras yang menawan serta perilaku yang sangat baik, membuat Zavian kagum hingga jatuh cinta kepada seorang Fatimah. Namun itu semua harus ia kubur dalam-dalam. Dari dulu Zavian merencanakan ingin meminang Fatimah setelah ia lulus dari akademis kepolisian. Akan tetapi setelah lulus dan pulang ke rumah, Almeer Fathanah Allaric yang merupakan adiknya, mengatakan tengah mendambakan seorang perempuan, yang tidak lain adalah perempuan yang didamba juga olehnya. Hal itu membuat Zavian perlahan mundur, karena ia tak mau bersaing dengan adiknya sendiri. Ikhlas, itulah satu kata yang harus ia tanamkan dalam hatinya. >>>>>>>>>>> “Asalamualaikum.” Ucap salam dari zavian yang baru saja pulang ke rumah. “Walaikumsalam, baru pulang nak?.” Tanya bunda Amalia yang tengah sibuk menyiapkan piring makan diatas meja. “Iya Bun.” Jawab Zavian yang langsung mendudukan bokongnya dikursi makan. “Gimana mau punya calon, kalau kerjanya dari pagi ke pagi gini?.” Celetuk bunda Amalia yang khawatir pada anaknya, pasalnya Zavian tak pernah terdengar dekat dengan lawan jenis manapun selain Fatimah. “Soal jodoh, Zavi serahin ke Allah saja bun.” Ucap Zavi. “Ayah setuju.” Ucap Ayah Fathan dengan suara setengah berbisik. Drrtttt drrttt Bunyi Ponsel dari saki milik Zavian. “Waalaikumsalam, ada apa Rey?.” Tanya Zavi kepada sang penelepon. “Maaf mengganggu waktunya bang Zav, saya cuman mau mengabarkan ada sesuatu hal yang besar mengenai bang Zav, Komandan meminta bang Zav untuk kembali ke kesatuan.” Ucap Reyhan. Zavian yang baru saja mau memulihkan energinya di rumah, terpaksa harus kembali ke Polres. “Mau pergi lagi nak?.” Tanya bunda Amalia yang melihat anaknya sudah beranjak dari duduk. “Iya Bun, ada panggilan dadakan dari komandan Ari.” “Iya sudah, hati-hati yah nak.” Ucap bunda Amalia. Di Polres Zavian langsung menghadap kepada komandan Ari selaku kapolres yang berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol). Di dalamnya sudah ada Reyhan dan juga Zihan yang merupakan rekan kerja Zavian. Dari raut wajah mereka tampak sangat serius ketika Zavian masuk. “Duduk Zav.” Komandan Ari mempersilakan Zavian duduk. “Zav, apa kamu sudah membuka media sosial mu pagi ini?.” “Belum Komandan.” Jawab Zavian. “Apa Ini?.” Tanya Zavian kepada komandan Ari yang menyerahkan handphone milik komandan kepadanya. “Lihat dan bacalah.” Ucap Komandan. “Narasi ini tidak benar komandan. Zihan ada di sana, dia melihat semuanya.” Bantah Zavian mengenai video yang beredar tentang dirinya. “Iya komandan, IPDA Zavi tidak pernah melakukan hal sekeji itu.” Zihan ikut membantah juga mengenai narasi yang tidak benar mengenai Zavian. “Saya tahu itu hanyalah narasi yang dibuat-buat oleh mereka yang ingin menjelekan kita. Mereka ingin kita teralihkan dari kasus narkoba besar-besaran ini.” Ucap komandan Ari. “Lalu apa yang harus kita lakukan komandan?.” “Zavi, apakah kamu bersedia untuk mengorbankan dirimu demi kesatuan ini?.” “Saya siap komandan.” “Nikahi gadis itu, dengan begitu narasi ini akan tenggelam begitu saja.” “Kenapa seperti itu komandan? Kita kan bisa memanggil perempuan itu untuk melakukan klarifikasi.” Protes Reyhan yang tak terima dengan rujukan masalah yang diberi oleh komandan Ari. “Klarifikasi hanya akan sia-sia, mereka bisa saja menyerang lagi dengan narasi baru. Satu-satunya cara hanyalah seperti apa yang saya katakan.” “Saya menerimanya komandan. Saya akan nikahi gadis itu.” Ucap Zavian dengan serius. Reyhan dan juga Zihan kaget dengan keputusan Zavian yang mereka anggap sangat konyol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN