KERAS KEPALA

921 Kata
Alesha tidak dapat bekerja dengan tenang di hotel, ia sering mendapat terror dari anak buah pemilik clubbing. Apalagi semalam ia sudah memukuli tamu VIP di clubbing itu. Alesha juga tak ingin melanjutkan menjadi pelayan di sana. Meski kini ia bingung bagaimana caranya untuk segera dapat melunasi hutang sepupunya itu. “Ada apa Sha?.” Tanya sang manager hotel kepada Alesha. Ia melihat Alesha sedari tadi tak tenang. “Tidak kenapa-kenapa pak.” Jawab Alesha. “Dari pada kamu melamun, gimana temani saya ngopi aja?.” Ajak pak Bambang padanya. Selaku atasannya Alesha pun tak dapat menolak. Mereka akhirnya pergi ke kedai kopi terdekat. Menurut Alesha bagus juga untuk ngopi disaat pikiran kacau, apalagi ditraktir. “Kamu mau pesan apa Sha?.” Tanya pak Bambang yang masih melihat-lihat menu. “Americano saja pak.” Jawabnya. “Wah kita sama yah, saya juga baru aja mau pesan Americano. Apa jangan-jangan kita berjodoh?.” Ujar pak Bambang dengan sengaja menekan kata-katanya yang terakhir. Pak Bambang sedari dulu menaruh rasa pada Alesha. Akan tetapi Alesha berpura-pura tidak tahu saja, karena pak bambang bukanlah tipenya Alesha. Yang pertama, pria itu sudah berumur kepala tiga, kedua pria itu sudah tiga kali nikah cerai,dan yang terakhir pria itu botak. Sungguh itu bukan tipe yang Alesha inginkan. “Hehehehe bapak bisa aja.” Ucap Alesha seraya tertawa karir. “Permisi, kamu yang gadis semalam itu kan?.” Tanya Zavian yang ternyata juga tengah memesan kopi di sana. “Eh pak polisi, mau ambil jaket yah? Belum saya cuci pak. Besok saja bagaimana?.” Ucap Alesha. “Saya tidak ingin membicarakan masalah jaket hari ini.” “Boleh saya pinjam sebentar?.” Izin Zavian kepada pak Bambang. Alesha dan Zavian pun duduk di meja yang terpisah dari pak bambang. “Maaf sudah mengganggu waktu kencan anda.” Zavian tak enak kepada Alesha. “Pak polisi salah paham. Saya sama pak bambang hanya rekan kerja.” Alesha meluruskan pemahaman Zavian. “Saya ingin menyampaikan ini ke kamu.” Zavian menyerahkan handphonenya ke Alesha. “Kenapa narasinya begini? Kejadiannya kan tidak seperti itu? sangat jelas bahwa video ini diedit mundur.” Alesha kaget ketika melihat video yang bersebaran tentang dirinya dan Zavian di media sosial. “iya, disitu terlihat saya sudah merobek bajumu, lalu kamu lari dan saya menodongkan pistol. Padahal yang sebenarnya, saya menodongkan pistol ke kamu setelah itu kamu berbalik dan baju mu memang sudah robek duluan.” “Lalu siapa yang mengedit video ini? Dan siapa yang sudah membuat narasi palsu seperti ini?.” Tanya Alesha penasaran siapa yang telah menciptakan fitnah antara ia dan Zavian. “Siapa pelakunya tidaklah penting, yang terpenting sekarang menikah lah dengan saya.” >>>>>>>>> Tak bisa tidur. Rasa gelisah menyelimuti pikiran Alesha. Ajakan nikah polisi itu membuat Alesha kepikiran terus. Meskipun polisi itu memilki paras yang menawan, tetapi menurut Alesha tak lucu bila ia menikah dengan laki-laki yang menangkap dan menuduhnya memakai narkoba. Parahnya lagi tidak ada cinta di antara mereka. Berbicara tentang cinta, ah rasanya Alesha juga tidak mempercayai ada cinta yang tulus di dunia ini. Bagi Alesha Sembilan dari sepuluh orang di dunia ini menikah hanya karena kepentingan bersama, bukan karena cinta. “Woyyy.” Qiana membuyarkan lamunan Alesha. “Ih Qiana. Aku kaget nih.” “Lagian malam-malam bukannya tidur malah melamun.” “Lagi mikirin apa sih?.” Tanya Qiana penasaran, ia melihat sepupunya itu tak seperti ini. “Kamu ingat tidak, polisi yang sempat aku ceritakan kemarin?.” “Kenapa?.” Tanya Qiana dengan seksama. “Tadi siang kita sempat ketemu. Parahnya lagi dia mengajak aku nikah.” “Apa? Wih gila sih.” Ujar Qiana. “Gila kan?.” “Tapi kenapa dia ajak nikah tiba-tiba begitu?.” Tanya sepupunya itu. “Panjang lah ceritanya.” “Terima saja kamu juga kan masih lajang.” Ujar Qiana. “Sudah ah, susah bicara sama kamu.” Ucapnya yang kemudian menarik selimut hendak untuk tidur saja. “Oh iya, Urusan pemilik clubbing itu bagaimana?.” Tanya Alesha. “Dia tidak akan menagih kita lagi.” Ucap Qiana. “Kenapa?.” Tanya Alesha heran. “Dia ditangkap. Ternyata si bodoh itu pengedar narkoba.” “Syukurlah, semoga dia mendekam dengan lama di penjara.” Doanya. “Aamiin.” Qiana mengaminkan doa sepupunya itu. >>>>>>>>>>> Pagi pagi bukannya disuguhi sarapan, yang ada Alesha dibuat terkejut dengan pria berseragam coklat itu di depan hotel, tempat ia bekerja. Semua orang yang lalu lalang di sana menjadi segan. Orang-orang heran dengan adanya polisi di depan hotel. Pastinya mereka akan berasumsi bahwa polisi itu ingin menangkap seseorang yang terlibat kasus kriminal. Alesha tidak mengerti dengan maksud Zavian yang sangat bersikeras mengajaknya untuk menikah hanya karena sebuah video recehan menurutnya. Sudah tiga hari ini Zavian bermunculan terus dihadapannya, di hotel, maupun di kosnya. “Untuk apa anda kemari? Perkataan saya kemarin sudah jelas, saya menolaknya.” Tegas Alesha pada Zavian. “Tidak ada kata mundur untuk saya.” Ucapnya “Menikahlah dengan saya, apapun yang kamu minta akan saya penuhi.” Lanjutnya. “Oh ya?.” Alesha memutar kedua bola matanya, tak habis pikir dengan orang yang ada dihadapannya kini. “Berhentilah pak polisi, saya pagi ini ingin bekerja. Tolong jangan ganggu saya.” Ucapnya sambil bersedekap d@da. “Saya akan menunggu kamu di kedai kopi yang kemarin. Kita negosiasi kembali, apapun itu yang kamu minta akan saya penuhi.” Ucap Zavian ambisius namun dengan nada datarnya. “Dasar keras kepala.” Batin Alesha dalam hatinya. “Baiklah.” Ucap Alesha, tak punya pilihan lain selain mengalah untuk saat ini. Waktu terus berjalan, dirinya harus bekerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN