NASEHAT PENTING

1189 Kata
“Saya Terima nikah dan kawinnya Alesha Shaqueena binti Mahendra dengan mahar seratus ribu dirham dibayar tunai.” Ijab kobul itu dilafadzkan oleh Zavian hanya dengan satu kali tarikan nafas. Semua ikut berbahagia pada hari itu kecuali Bunda Amalia yang terlihat masih tidak ikhlash akan pilihan anaknya itu. Bunda Amalia tidak menyangka akan keputusan Zavian yang memilih makmumnya dengan begitu cepat. “Nak Zavi, wanita yang sedang berjalan kemari sekarang telah menjadi istri nak Zavi yang sudah halal untuk nak Zavi gauli. Adapun sewaktu waktu istri nak Zavi berlaku nusyuz, maka nak zavi dapat menyelesaikannya dengan menasehati, jikalau pun tidak sanggup untuk menasehati maka tinggalkan ia ditempat tidur atau yang terakhir memukulnya, tetapi memukul jangan sampai menyakiti apalagi sampai memukul dibagian wajah.” Nasihat penghulu pada Zavian. Seketika Hati Zavian tergetar ketika menoleh kebelakang dan melihat wanita yang berjalan menuju kearahnya. Wanita itu telah menjadi istrinya sekarang. “Sekarang nak Zavi boleh mencium kening istri nak Zavi.” Ucap pak penghulu. Zavian sedikit gugup, pasalnya ia tak pernah merasakan yang namanya menyentuh seorang wanita selain bundanya. Alesha pun sama gugupnya, meski ia pernah berpacaran tetap saja dirinya merasakan gugup disentuh oleh laki-laki yang belum lama berkenalan dengannya. Zavian mengatur deru nafasnya, ia mendekatkan perlahan kepalanya dikeningnya Alesha. Kecupan singkat itu akhirnya terlaksana, Alesha merasa seperti tersengat listrik ketika bibir Zavian menempel dengan singkat dikeningnya. Selepas itu Zavian menaruh telapak tangannya diubun-ubun Alesha dan membacakan doa, hal ini termasuk salah satu sunnah Rasulullah. Perlakuan Zavian itu disaksikan oleh seluruh keluarga dan tamu yang datang. “Bunda lihatkan? kalau jodoh tidak akan kemana. Baru saja kemarin bunda merisaukan Zavian yang belum membawa calon. siapa sangka belum seminggu ia sudah membawa makmum pilihannya sendiri.” Seru ayah Fathan pada bunda Amalia. “Ayah mengejek bunda?.” Bunda merasa kesal dengan ucapan ayah Fathan. “Kenapa bunda mengira begitu? Ayah kan cuman…” “Sudahlah.” Ucap bunda yang beranjak pergi. “Eeeh bunda mau kemana?.” Tanya Ayah Fathan yang bingung melihat bunda tiba-tiba mau pergi. “Mau ke tukang kunci, bunda mau ganti kunci pintu.” Jawab bunda Amalia. “Lagi ada acara begini kok malah ke tukang kunci sih!?.” Monolog ayah Fathan. “Kenapa yah?.” Tanya Almeer yang kebetulan lewat dan melihat ayahnya tampak sedang kebingungan. “Ini ayah heran, lagi ada acara gini bunda kamu mau ke tukang kunci. Katanya mau ganti kunci pintu.” jelasnya “Wah ini sih ayah harus hati-hati.” Ucap Almeer. “Kemungkinan ayah bakal tidur di luar malam ini. Emang ayah lagi buat salah sama bunda?.” Tanya Almeer. “Jangan becanda kamu.” Ucap ayah Fathan marah ketika Almeer menakuti-nakutinya. “Kalau seingat ayah, ayah tidak buat salah apa-apa deh.” Ucap Fatham yang makin bingung dengan perkiraan putranya itu.” Lanjutnya “ya itu kan menurut ayah. Coba tanyain aja nanti.” Ucap Almeer. “Apa bunda kamu marah sama becandaan ayah tadi?.” Tanya Fathan. “Umur boleh tuaan ayah, tapi kalo soal analisis mood perempuan? ya Almeer jagonya. Kalau yang dari Almeer pelajari, kemungkinan besar bercandaan ayah menyinggung hati wanita yang selembut pangsit itu.” Ucap Almeer yang menyombongkan dirinya di depan sang ayah. “Yeah, kamu pintarnya juga itu turunnya dari ayah. Dulu ayah paling jago baca perasaan perempuan apalagi memporak-porandakan hati mereka.” Ucap ayah Fathan yang juga ikut menyombongkan dirinya di depan putra bungsunya. “Kurang kenceng suaranya yah.” Ucap Bunda Amalia yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya ayah Fathan. “Eeh bunda. Ini tadi kita lagi bahas triler drama yang lagi ongoing.” Alasan ayah Fathan pada Bunda. “Almeer samperin kak Zavian sama istrinya dulu ya ayah, bund.” Almeer memahami situasi seperti ini. Untuk itu ia memilih pergi meninggalkan ayah dan bundanya, “Ayah juga deh.” Ujar Fathan yang ancang-ancang ingin kabur dari istrinya. “Ayah tetap disini.” Tegas bunda Amalia. “Ayah mau lihat Zavian sama istrinya bund.” Ucap ayah Fatahan beralasan ingin menengok putra sulungnya agar bisa kabur dari istrinya. “Maafin Almeer yah. Almeer tidak bermaksud meninggalkan ayah.” Bisik Almeer pada ayah Fathan yang tengah mematung, takut karena mendapatkan tatapan maut dari bunda amalia. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> “Selamat atas pernikahannya bang Zav.” Ucap Reyhan yang juga di undang juga oleh Zavi diakad pernikahannya. “Selamat yah Ipda Zavi. Semoga Sakinah Mawadah Warhama.” Ucap Bripda Zihan yang turut mendoakan atas pernikahan Zavian dan Alesha. “Soal sakinah sudah pasti sakinah Bripda Zihan. Pengantin wanitanya kayak bidadari gini, sudah pasti bikin sakinah.” Ujar Almeer. “Hati-hati kalau bicara meer, tahu sendiri kan abang mu seperti apa?.” Ujar Reyhan mewanti-wanti sepupunya agar tidak berlebih dalam bercanda. “Dia nggak mungkin cemburu komandan Reyhan, orang saya juga sudah tunangan.” Ucap Almeer sembari memarkan cicin tunangannya di depan mereka. “Tinggal komandan Reyhan nih yang perlu dipertanyakan.” lanjutnya Almeer. Reyhan sudah biasa bercanda bersama Zavian dan Almeer, sebab Reyhan merupakan sepupu mereka dari sebelah Ibu. Bunda Amalia menjadi tante untuk Reyhan. “Sudah-sudah, hentikan candaanya. Kasihan loh Ipda Zavi dan nona Alesha pasti sangat lelah hari ini.” “Jangan langsung di jebol yah bang. Ingat istrahat, habis ini masih ada resepsi loh.” Ucap Almeer yang langsung diberi mata melotot dari Zavian. Alesha sendiri sedari tadi hanya bisa tertawa tipis menghargai adik ipar dan para sahabat dari suaminya itu. “Kado dari aku jangan lupa dibuka bang.” Bisik Reyhan sembari memberikan kotak berukuran kecil pada Zavian yang juga diterima Zavian dengan senang hati, meski ia sendiri sedikit mencurigai isi dari kotak tersebut. “Maafkan mereka. Mereka memang suka bercanda.” Zavian meminta maafpada Alesha atas sikap adik dan sepupunya. “Saya tidak masalah kok, saya juga orangnya tidak begitu kaku. Saya malah suka dengan orang yang mudah diajak untuk bercanda.” Ucap Alesha. “Termasuk dengan laki-laki?.” Tanya Zavian. “Iya, saya orangnya mudah bergaul.” Jawab Alesha tanpa beban. “Jangan.” Ucap Zavi. “Hah? Jangan apa?.” Tanya Alesha yang tak mengerti maksud ucapan Zavian. “Jangan lagi, kamu sudah menjadi istri saya.” Ucap Zavian dengan wajah datarnya. “Oh my god, belum apa-apa dia udah seposesif ini? Apa mungkin dari awal dia udah cinta nih sama aku?.” Monolog Alesha dalam hatinya. “Kenapa diam? Apa kamu lelah? Kita istrahat saja kalau begitu, lagi pula akadnya sudah selesai.” Ajak Zavian pada Alesha. “Terus tamunya?.” Tanya Alesha pada Zavian. “Ada keluarga saya yang akan mengurusnya. Ayo saya antarkan kamu ke kamar kita.” Ucap Zavian. “What? Kamar kita!? makin deg degan nih tuhan.” Monolognya lagi didalam hati “Alesha Shaqeena.” Panggil Zavian. “Ya?.” “Apa kamu baik-baik saja? Tangan mu dingin? Kamu sakit?.” Tanya Zavian yang merasakan suhu tangan dari Alesha yang begitu dingin. “Tidak, a a aku sehat. Sangat sehat, ini mungkin pengaruh suhu ACnya yang terlalu dingin.” Ucap Alesha bohong agar ia tak diketahui sedang grogi. Sesungguhnya ia sangat bingung harus berbuat apa nanti bila sudah sekamar bersama Zavian. Ia tidak menduga akan menikah secepat ini. Ia akan berbagi kasur bersama seorang lelaki yang setiap pagi dan malamnya akan selalu ia lihat wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN