Ruangan yang didominasi dengan warna monokrom serta lukisan-lukisan klasik, Alesha tidak dapat beristirahat dengan tenang. Kepalanya dipenuhi dengan hal-hal yang ia cemaskan sebentar malam. Ia belum siap jika nanti akan menjalani kewajibannya sebagai seorang istri.
Ia berdoa Zavian memberikannya waktu untuk beradaptasi akan hubungan mereka berdua yang diawali dengan secepat ini tanpa ada nya pacaran atau hubungan lainnya yang sering dilakukan orang-orang jaman sekrang, yaitu HTS (Hubungan Tanpa Status tapi saling terhubung).
Krieet.
Ditengah rasa cemas yang ia miliki, tiba-tiba saja pintu itu terbuka.
Sepasang mata yang begitu cerah serta tarikan sudut bibir yang begitu manis dipandang sedang menatapnya dari daun pintu. Orang itu membawakan nampan yang sudah berisi beberapa makanan dan minuman. Pesona seorang polisi muda ini membuat jantung Alesha makin berdegup tak beraturan.
“Saya membawakan kamu makanan, saya tahu kamu masih belum terbiasa dengan teman dan keluarga saya diluar sana.” Ucap Zavian yang meletakan nampan itu diatas meja.
“Maaf sudah membuat repot.”
“Sudah tanggung jawab saya, kamu istri saya. Pernikahan adalah perjanjian saya dengan Allah. Maka dari itu saya harus memastikan bahwa saya bertanggung jawab penuh akan dunia dan akhirat kamu.” Ucapnya dengan lembut. Makin terpukau lagi Alesha dibuatnya. Apakah ini balasan untuknya selama ini tak kunjung merasakan bahagia.
“Terima kasih.” Ucap Alesha. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa lagi selain terima kasih.
“Apa saya boleh bertanya.” Tanya Zavian.
“Boleh.” Jawab Alesha.
“Apa kamu sedang haid saat ini?.” Tanya Zavian.
Glup
Alesha menelan Salivanya dengan kasar. Pertanyaan Zavian sedikit membuatnya kaget. Apa yang ia cemaskan ternyata terjadi. Sudah pasti Zavian akan menagihnya malam ini. Sementara itu Zavian sendiri bingung dengan ekspresi yang timbulkan oleh Alesha yang Diam membeku dengan mata melotot dan mulut terbuka.
“Demi apa, beneran kan. Emang semua laki-laki tuh sama. Pasti dia baik-baik gini karena ada maunya. Terus aku harus jawab apa dong? Ayo mikir Alesha.” Monolog Alesha dalam hati.
“Alesha.” Panggil Zavian.
“Ehm. Saya memang sedang haid, tapi maaf sepertinya saya belum siap kalau kamu mau meminta...” ucap Alesha terpotong.
“Sepertinya kamu salah menyimpulkan pertanyaan saya Alesha. Saya menanyakan kamu haid atau tidak itu hanya untuk mengajak kamu sholat, bukan karena ingin meminta hak saya kepada kamu.” Ucap Zavian. ia sangat paham kemana arah pikiran Alesha.
“Maafkan saya.” Ucap Alesha. dirinya sangat malu sudah salah menafsirkan pertanyaan dari Zavian.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu ditengah perbincangan mereka.
“Zav, apa kamu di dalam? Ini ada kelurganya Fatimah mau ketemu sama kamu. Disambut dulu nak.” Teriak bunda Amalia dari balik Pintu.
“Saya tinggal kamu sebentar dulu yah.” Ucap Zavian yang kemudia beranjak dari duduknya.
“Lama banget buka pintunya.” Ledek ayah Fathan yang ternyata juga ada didepan pintu kamarnya Zavian.
“Ajak juga istrimu untuk menyambut mereka dibawah.” Ucap Bunda Amalia.
“Saya saja bund, Alesha sedang makan. Biar nanti dia menyusul.”
“Oh istrimu sedang makan? Ya sudah kalau begitu kamu saja yang turun yah. Biarkan istrimu makan dulu." Ucap bunda Amalia yang mampu didengarkan oleh Alesha. Kedengarannya ucapan bunda Amalia tadi seperti ditekan yang menandakan ketidaksukaan pada Alesha. Dari awal Alesha sudah merasa bahwa bunda Amalia tidak menyukainya. akan tetapi perasaan itu sering dilawan sendiri olehny.
Flashback On.
Alesha yang sudah tiga hari berturut-turut didatangi oleh Zavian dengan maksud mengajaknya untuk menikah, akhirnya merasa lelah dan akhirnya memilih untuk menerima ajakan nikah dari Zavian. Awalnya Alesha hanya mengetes Zavian dengan meminta mahar sebesar seratus ribu dirham, yang jika dirupiahkan mencapai sekitar empat ratus lima puluh juta rupiah. Alesha sengaja meminta mahar begitu banyak agar Zavian berhenti untuk mengajaknya menikah.
Permintaan mahar itu dituruti oleh Zavian. Dua hari setelah itu mereka berdua sepakat untuk menikah, Zavian mengajak Alesha ke rumahnya untuk diperkenalkan kepada keluarganya. Sampai di rumah, Alesha disambut baik oleh semuanya terkecuali bunda Amalia yang memasang wajah datar tanpa senyum sedikit pun padanya. Awalnya Alesha merasa bahwa itu hanyalah watak yang dimiliki oleh bunda Amalia.
“Bunda, Ayah, dan semuanya. Perkenalkan ini Alesha Shaqueena, wanita yang akan Zavian nikahi.” Ucap Zavian yang memperkenalkan Alesha pada keluarganya.
“Bunda sudah melihat Cv yang abang kasih kemarin ke bunda. Satu hal yang ingin bunda tanyakan pada Alesha, benar kamu ini yatim piatu?.” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut bunda Amalia. Zavian beserta yang lainnya tidak menduga bahwa bundanya akan memiliki pertanyaan yang tentunya sudah terjawab di CV.
“Bund.” Tegur ayah Fathan selaku suami dari bunda Amalia.
“Apa ada yang salah dengan pertanyaan bunda? Alesha kan dalam hitungan hari akan menjadi menantu kita? wajarkan kalau bunda ingin mengenalnya dengan baik!?.” Ucap bunda Amalia.
“Apa kamu keberatan dengan pertanyaan bunda sayang?.” Tanya bunda pada Alesha.
“Tidak sama sekali bunda. Untuk pertanyaan apakah saya ini yatim piatu, itu semua benar. Saya memang yatim piatu.” Jawab Alesha.
“Dan untuk lulusan SMA? Apa itu benar?.” Tanya bunda lagi pada Alesha.
“Iya, saya hanya lulusan SMA yang sekarang bekerja sebagai resepsionis, itu pun saya hanya pegawai kontrak.” Jawab Alesha jujur.
“Jadi kamu yatim piatu, lulusan SMA bekerja sebagai resepsionis hotel dan hanya pegawai kontrak. Tapi maharnya seratus ribu dirham!? Saya bangga sama anak saya yang memuliakan kamu dengan mahar seperti itu.” Ucap bunda Amalia. Entah Alesha harus meresponnya seperti apa? Alesha bukanlah orang yang bodoh, dirinya tahu bahwa ucapan bunda Amalia menghinanya, hanya saja diperhalus dan dibungkus dengan pujian.
Flashback off
Selepas menyelesaikan makannya Alesha turun ke bawah bergabung bersama keluarga Zavian dan ikut menyambut kedatangan tamu penting yang Zavian katakan padanya. Dari tangga Alesha sudah mendengar gelar tawa yang mereka serukan di bawah sana. Alesha sebenarnya sangat lelah hari ini, apalagi malam mereka masih harus menggelar resepsi. Seharusnya kini ia menyimpan tenanganya untuk malam nanti. Akan tetapi pesan dari Zavian tidak dapat ia abaikan, ia takut orang-orang akan membuat asumsi bahwa ia tak menghargai keluarga dan kerabatnya Zavian.
“Woy bang, ketawa aja. Itu sana istrinya dituntun jalannya, kasihan nanti jatuh gimana?.” Ujar Reyhan yang melihat Alesha menuruni anak tangga.
“Yang namanya rumah tangga itu setahu aku bang, kalau istri mau turun tangga juga harus diperhatiin, kan namanya bangun rumah tangga, jadi tangganya harus dijaga.” Ucap Almeer yang mengeluarkan satu jokesnya agar suasana makin cair dan tidak tegang.
“Not bad, lumayan lucu juga jokes mu Meer.” Ucap Reyhan yang sebenarnya ia sedikit mual dengan jokes yang dikeluarkan oleh sepupunya.
Zavian mengahampiri Alesha dan langsung mengandeng tangan Alesha serta membawa Alesha bergabung bersama keluarganya dan juga keluarga Fatimah yang tentunya akan menjadi keluarganya juga, karena Fatimah akan menikah dengan Almeer. Tatapan Fatimah pada Zavian masih merasa tak enak. pasalnya sebelum acara lamaran ia dan Almeer, Zavian menyatakan perasaanya dan sempat mengajaknya untuk menikah, tetapi ditolak. karena Zavian bukanlah kriteria yang Fatimah inginkan. Fatimah bersyukur bahwa Zavian cepat melupakan dan mendapatkan penggantinya.