Akad serta resepsi pernikahan telah dilalui oleh Alesha dan Zavian pada hari ini. Kini waktunya untuk merehatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan karena melewati beberapa proses prosesi pernikahan. Disamping itu Alesha sendiri masih belum menyangka dirinya akan menikah secepat ini. Ia sungguh bingung menjalani awal pernikahan yang tidak didasari oleh cinta. Dahulu ia berhayal akan bertemu dan menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan ia menikah dengan seorang polisi yang juga pernah menangkapnya waktu itu.
Krieet
Pintu itu terbuka. Orang yang baru saja ia pikirkan baru saja masuk ke kamar.
“Kamu belum tidur?.” Tanya Zavian sembari merebahkan tubuhnya di samping Alesha.
“Belum ngantuk.” Jawab Alesha canggung.
“Ada yang ingin saya sampaikan.” Ucap Alesha dengan nada agak berhati-hati.
“Apa?.” Zavian langsung berbalik menghadapnya.
“Mengenai mahar yang kamu berikan, saya ingin mengembalikannya.” Ungkap Alesha
“Kenapa?.” Tanya Zavian dengan memandang Alesha secara lekat.
“Saya rasa ini berlebihan, kemarin saya hanya ingin membuat mu berhenti mengejar saya.” Ungkap Alesha lagi.
“Alesha Shaqueena, satu hal yang harus kamu ketahui. Terlaksananya suatu pernikahan karena adanya akad. Dan akad memiliki yang namanya mahar sebagai persyaratan untuk menikah. Apa bila kamu mengembalikan itu kepada saya, sama halnya pernikahan ini tidak sah.” Tutur Zavian.
“Apa ada lagi?.” Tanya Zavian padanya memastikan apakah ada lagi yang ingin ditanyakan oleh wanita yang baru saja menjadi istrinya.
“Tidak ada.” Jawab Alesha singkat. Sebenarnya ia benar-benar tidak berniat meminta mahar sebanyak itu, hal itu ia lakukan untuk melihat sampai mana perjuangan Zavian. ia sendiri juga tidak menduga Zavian mampu menuruti hal tersebut.
“Baiklah saya tidur duluan.” Ucap Zavian yang kemudian memejamkan matanya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Gemuruh angin menerpa gamis panjang berwarna hazel milik wanita yang sedang memikirkan masa depan putra sulungnya yang baru saja menikah. yaitu dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak ia kenal asal usulnya.
“Bunda belum tidur?.” Tanya Ayah Fathan yang kebetulan lewat dan melihat istrinya berdiri ditepi kolam renang.
“Bunda lagi mikirin sesuatu?.” Tebak ayah Fathan pada bunda Amalia.
“Bunda sedang memikirkan bagaimana masa depan Zavian nanti.” Ucap Bunda Amalia dengan wajah yang sangat gelisah.
“Masih tidak menyangka dia secepat itu menikahi seorang perempuan yang kita sama sekali tidak tahu asal usulnya.” lanjutnya. Ayah Fathan mengambil kedua tangan istirnya itu ke dalam gengamannya
“Masa depan bukanlah urusan kita bund. Masalah bunda mengkhawatirkan masa depan Zavian biarlah itu menjadi urusan Allah. Kita sebagai orang tua hanya perlu memberikan dukungan dan doa untuk mereka.” Ucap Ayah Fathan menenangkan istrinya.
“Bunda tahu ayah, masa depan itu urusan Allah. bunda ini hanyalah manusia biasa ayah, wajar kalau bunda merisaukan bagaimana nanti nasibnya Zavian. apalagi penampilan Alesha yang seperti itu.” Ungkapnya
“Seperti apa?.” Tanya Ayah Fathan yang tidak pahammaksud istrinya.
“Ayah bisa lihat sendiri kan bagaimana dia tidak bisa menutup auratnya dengan sempurna?.”
“Ayah tahu, lagi pula manusia itu perlu proses bunda. Kita biarkan saja bagaimana Zavian memimpin rumah tangganya.” Ucap ayah Fathan.
“Justru itu ayah, bunda kasihan sama Zavian. Tanggung jawabnya sangat besar.” Keluh bunda Amalia.
“Ya itu resikonya kita sebagai laki-laki yang menjadi imam untuk istri dan anak-anak nantinya. Satu hal yang perlu bunda ketahui. Laki-laki sejati adalah dia yang mampu mensolehahkan perempuan, bukan yang menemukan perempuan solehah.” tutur ayah Fathan.
“Ayah emang nggak akan pernah ngertiin bunda.” Bunda Amalia merajuk dan pergi meninggalkan ayah
“Bun, bundaa..” panggil ayah Fathan yang tentunya tidak digubris sama sekali oleh Bunda Amalia.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Gemercik air sayup terdengar halus di gendang telinga milik perempuan berambut sebahu. Ia membuka matanya yang begitu berat karena rasa kantuk yang sedikit tersisa. Ia lansung terperanjat ketika melihat warna dinding serta furniture yang sangat asing menurutnya. Awalnya Alesha kaget, namun ia tersadar bahwa kamar ini akan menjadi kamar yang selamanya akan ditempati olehnya dan tentunya dengan status baru.
“Sepertinya dia sedang mandi?.” Tebak Alesha ketika mendengar bunyi air dari arah kamar mandi. Ia pun memutuskan untuk beranjak bangun dan merapihkan tempat tidur, hari ini ia diberikan cuti oleh pak bambang yang selaku managernya. Dirinya juga harus kembali ke kosan untuk mengambil barang-barangnya yang masih ada disana.
Drrrttt drttt
Ponsel Alesha berdering.
“Qiana?.” Baca Alesha dilayar ponselnya. Ia pun segera menerima panggilan itu dengan berjalan kearah balkon kamar.
“Aku belum bisa Qi, nanti pokoknya aku kasih kamu kabar kalau udah gimana-gimana.” Ucap Alesha yang langsung mentup panggilan teleponnya dengan Qiana.
Hufftt
Alesha membuang nafasnya dengan kasar sembari menatap pemandangan dari balkon.
“Kamu habis teleponan dengan siapa?.” Suara khas baritone itu muncul dengan tiba-tiba dibelakangnya. entah sudah berapa lama Zavian berada dibelakangnya, dan sudah sejauh apa mendengar percakapannya tadi bersama Qiana di telepon. Alesha berharap ia tak mendengar apapun pembicaraanya nanti.
“Sudah berapa lama kamu disitu?.” Tanya Alesha seperti sedang mengintrogasi Zavian.
“Baru saja.” Jawab Zavian santai.
“Apa kamu mendengar pembicaraan ku?.” Tanya Alesha lagi, ia harus memastikan bahwa Zavian tidak mendengar apapun.
“Tidak.” Jawab Zavian singkat. Alesha langsung bernafas dengan lega ketika Zavian mengatakan tidak.
“Memangnya kenapa? apa orang ditelepon itu mengganggu mu?.” Tanya Zavian penasaran.
“Tidak, hanya saja ini obrolan tentang perempuan, saya malu jika ada lawan jenis yang mendengarnya.” Alasannya. Zavian memicingkan matanya, ia sedikit curiga dengan ucapan Alesha. Wajar bertahun-tahun menjadi polisi membuat Zavian memiliki sikap skeptis, yaitu tidak mudah untuk mempercayai siapapun.
“Kenapa menatapku seperti itu?.” Tanya Alesha dengan nada ketus
“Kenapa? Apa yang salah? Haram juga tidak kan?.” Goda Zavian sembari berjalan mendekat pada Alesha.
Glup
Alesha menelan salivanya dengan kasar kala Zavian semakin mendekatinya. Ia langsung menutup kedua matanya, dirinya baru sadar ternyata sedari tadi Zavian hanya mengenakan handuk sepinggang saja. Tampilan itu memperlihatkan seluruh bagian atas milik Zavian. untuk pertama kali dalam hidupnya, baru ini Alesha melihat roti sobek dengan secara nyata selain di drama-drama. Ketika melihat hal itu pada aktor-aktor menurut Alesha biasa saja, namun entah mengapa berbeda kali ini.
“Apa kamu ingin menutup mata lebih lama lagi?.” Tanya Zavian. suara Zavian terdengar seperti sudah jauh beberapa meter darinya, Alesha pun langsung membuka matanya.
“Pak polisi freak.” Umpat Alesha dalam hatinya.
“Saya bisa mendengarnya.” Ucap Zavian. Alesha yang masih berada di balkon mengerutkan keningnya. Ia cukup kaget ketika Zavian tahu apa yang ia ucapkan dalam hati.
Alesha tidak menggubrisnya ia tetap berada di balkon, membiarkan Zavian selesai mengenakan pakaiannya secara lengkap. Walaupun sudah halal, tetap saja Alesha malu.
“Saya sudah selesai, jika kamu ingin masuk silahkan. Saya juga sudah mau pergi.” Ucap Zavian dengan suara agak besar agar Alesha mendengarnya.
Alesha yang masih berdiri di balkon sambil memandang pemandangan, akhirnya masuk setelah mendengar bunyi pintu yang artinya Zavian telah keluar kamar. Ia pun segera masuk dan juga bersiap untuk pergi ke kosan mengambil barang-barangnya yang masih ada disana.