Bunda Amalia, Ayah Fathan, serta Almeer sudah duduk diruang makan, menyantap sarapan di pagi hari. Zavian yang turun dari tangga dengan rambut sedikit basah, namun tersisir rapi serta pakaian seragam lengkap dibadannya, membuat yang lainnya bertanya-tanya ketika ia hanya turun sendirian tanpa makmum nya.
“Istrimu dimana Zav? apa dia masih tidur?.” Tanya bunda pada Zavian yang baru saja turun dari atas.
“Dia sudah bangun, sekarang mungkin dia sedang mandi.” Jawab Zavian yang terlihat sangat santai. Ia sendiri tidak tahu kemana maksud pertanyaan bundanya.
“Apa dia nggak tahu ini udah mau siang?.” Tanya bunda lagi.
“Biasa bun, kan masih pengantin baru. Jadi kesiangan hal biasa itu. iya kan yah?.” Ujar Almeer sembari bertanya pada ayahnya yang tentunya sudah berpengalaman.
“Dulu mah bunda kamu parah. Dia bangun nya pas matahari udah setinggi kaya gini nih.” Ucap Ayah Fathan sambil memperagakan tangannya diatas kepala.
“Ayah.” Tegur bunda. Ayah Fathan pun langsung diam, ia tidak mau semakin di cuek lagi seperti tadi malam.
“Bi.” Panggil Zavian pada bi inah seorang asisten dirumah yang sudah dua puluh tahun bekerja untuk mereka.
“Ada apa den?.” Tanya bi Inah.
“Nanti kalau istri saya sudah turun, jangan lupa suruh dia sarapan yah.” Pesan Zavian sembari membersihkan mulutnya yang terkena busa kopi dengan tisu.
“Baik den.”
“Perhatian banget sama istri.” Goda Almeer pada abangnya.
“Itulah laki-laki yang siap, kebanyakan laki-laki yang nggak siap nikah perhatian atau kepekaannya setipis tisu.” Tutur Bunda.
“Zavian sama seperti ayah, dia laki-laki yang sangat siap.” Ujar Ayah Fathan. Bunda yang mendengar itu hanya bisa tertawa karir akan tingkah suaminya.
“Bun, ayah, meer. Abang pamit kerja. Titip Alesha di rumah.” Pesan Zavian yang langsung berdiri dan memakai jaket andalannya. Sehari-hari Zavian bertugas menggunakan motor Harley kesayangan yang dibelikan oleh neneknya pada waktu ia lulus dari Akpol.
“Sweet banget sih. jadi pengen cepat-cepat nikah deh.” Ucap Almeer.
“Almeer.” Tegur Bunda Amalia.
“Bercanda bund. Bersyanda, bersyanda.” Ucap Almeer sambil bernyanyi.
Dua puluh menit perginya Zavian, Alesha pun turun. Ia melihat seisi rumah tidak ada siapa-siapa. Sayup terdengar suara itu ada dibelakang rumah arah kolam renang. Pada saat Alesha mulai melangkah menuju ke arah sumber suara untuk berpamitan pada mereka, ponselnya berdering. Panggilan itu tidak lain dari Qiana. Alesha pun segera pergi.
“Nggak sarapan dulu non Alesha?.” Tanya bi Inah yang tiba-tiba muncul dihadapan Alesha.
“Tidak bi, saya harus cepat-cepat pergi.” Jawab Alesha.
“Tapi kalau nanti den Zavian nanya ke bibi. bibi jawabnya apa?.” Tanya bi Inah.
“Bilang saja saya sudah sarapan.” sarannya. yang kemudian meneruskan langkahnya.
“Bohong itu dosa non Alesha.” Ujar bi Inah, yang takut untuk berbohong. Alesha terhenti dan membuang nafasnya dengan kasar, karena bi Inah membuatnya semakin lama untuk pergi.
“Kalau begitu bilang saja saya sedang buru-buru.” Ucap Alesha lagi.
“Nanti saya malah dimarahi lagi.” Keluh bi Inah.
“Saya yang tanggung jawab kalau dia marah-marah nanti.” Putusnya yang sudah sangat final. Dengan langkah gontai Alesha pergi keluar dari rumah.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Kriminal yang seperti kita ketahui adalah satu kata yang begitu melekat pada perkotaan dan sering kali menghantui bagi orang-orang. Dimana suatu criminal itu terjadi karena adanya suatu ketimpangan sosial yang ada pada masyarakat.
Berbicara ketimpangan sosial yang artinya terdapat kemiskinan, kemiskinan itu sendiri melahirkan beberapa pelaku kriminalitas, seperti pencopet, penculik, pencuri, penipuan, begal dan sebagainya.
Zavian yang seorang polisi tentunya harus menjadikan itu semua sebagai makanannya dalam sehari-hari. Badan luka-luka atau patah sering ia alami ketika pelaku mencoba melakukan perlawanan.
“Wah wah wah. Pengantin baru bukannya bulan madu malah langsung bertugas.” Sambut Reyhan pada Zavian yang baru saja melangkahkan kakinya di kantor.
“Loh Zav.” Komandan Ari kaget ketika Zavian datang ke kantor.
“Kamu kan sudah saya beri cuti?.” Lanjut komandan Ari yang mempertanyakan dengan cuti yang telah diberikan untuk Zavian, namun hari ini ia malah masuk untuk bertugas.
“Sepertinya saya belum membutuhkannya komandan. Saya ingin menyelesaikan beberapa tugas yang masih belum selesai.” pungkasnya.
“Ya sudah lah. Selamat atas pernikahan mu.” Ucap komandan Ari memberikan ucapan selamat pada bawahannya itu.
“Dia terlihat sangat segar kan Zihan?.” Bisik Reyhan pada Zihan. Sementara itu Zihan sendiri ikut memperhatikan Zavian dari ujung kaki sampai ujung rambut. benar saja jika dilihat Zavian terlihat sangat segar dari yang biasanya.
Dulu saja ketika ia memasuki kantor wajahnya selalu ditekuk, benar-benar tidak ada yang bisa berinteraksi dengan baik pada Zavian selain Reyhan dan Zihan. Semua para anggota yang lain sangat takut bila Zavian sudah serius dalam menangani kasus, apalagi ketika tugas yang dijalankan selalu gagal dari apa yang Ia rencanakan, semua pasti harus bersedia bekerja lebih keras.
“Reyhan.” Panggil Zavian.
“Ya IPDA Zavi?.”
“Lepas magrib kita jalankan operasi dirumah orang tuanya bagas.” Ucap Zavian. Bagas adalah salah satu DPO mereka yang sudah lama mereka incar karena terduga bagian dari penyebaran narkotika secara besar-besaran di ibukota.
“Siap IPDA Zavi.” ucap Reyhan sembari tersenyum kecut. Ia sangat malas dengan Zavian bila sudah sangat serius.
“Zihan, jangan lupa sediakan apa yang saya minta kemarin.” Peringat Zavian padanya
“Siap laksanakan.” Zihan langsung kembali ke mejanya dan menyiapkan beberapa keperluan yang Zavian minta.
>>>>>>>>>>
Alesha yang sudah berada di kos yang kawasannya lumayan jauh dari rumah keluarga Allaric. Merasa bingung dari mana untuk memulai mengemasi barang-barangnya.
Beberapa tas serta baju yang ditaksir dengan harga mahal, membuatnya tak yakin untuk menggunakannya lagi, karena sebelumnya ia sempat mendapatkan reaksi tidak baik dari ibu mertuanya, yaitu bunda Amalia.
Flashback ON
Kedatangan Alesha yang pertama kali membuat sang mertua geleng-geleng ketika melihat penampilan Alesha yang mengenakan beberapa aksesoris dan juga pakaian dari brand terkenal.
Semua yang Alesha pakai sangat berbanding balik dari apa yang ada di CV. Alesha yang notabenenya bekerja sebagai resepsionis hotel yang tentu gajinya kecil, perlu dipertanyakan dengan gaya hidup yang ia miliki saat ini.
“Alesha.”
“Boleh bunda bertanya?.”
“Boleh bund.”
“Gaji kamu bekerja sebagai resepsionis berapa?.” Tanya bunda.
“Gaji saya UMR bund.” Jawab Alesha.
“UMR? Kamu tidak bohong kan?.” bunda mengulangi jawaban Alesha.
“Tidak bunda.” Alesha menggeleng dengan cepat.
“Tapi kenapa kamu memakai pakaian serta tas yang harganya mencapai dua digit? Bagaimana cara kamu mengelola keuangan ? sedangkan pendapatan mu berbanding jauh dari gaya mu sekarang! Itu juga sepatu yang kamu gunakan, setahu bunda harganya mencapai dua puluh juta.” Tutur bunda Amalia. Alesha sendiri merasa kelu mulutnya untuk menjawab. Ia sendiri bingung jawaban apa yang harus ia beri.
“Sebelumnya orang tua saya adalah orang yang sangat Berjaya pada waktu itu, hingga akhirnya mereka pergi. Dan sekarang yang saya pakai hanyalah sisa-sisa dari kejayaan orang tua saya dahulu.” Jawab Alesha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Jadi kamu dulunya anak orang kaya?.” Tanya bunda lagi.
“Iya bunda.” Jawab Alesha dengan senyum tipisnya walau ia sendiri tidak nyaman dengan pertanyaan seperti ini.
Flashback Off.
Tak punya cara lain satu satunya cara ia tetap akan membawa barang-barang itu namun tidak akan ia pakai dalam waktu lama, karena Zavian sendiri pernah mengatakan padanya bahwa mereka akan berpisah rumah dari orang tua ketika rumah yang Zavian bangun selesai. Untuk itu Alesha akan bersabar sedikit untuk menahan dirinya agar tak memakai barang-barang kesayangannya