KEKHAWATIRAN

1378 Kata
Masa kehamilan adalah masa paling bahagia untuk Alesha. Di kehamilannya yang sudah menginjak tujuh Minggu, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menjalani kehidupan selayaknya ibu rumah tangga. Alesha juga tidak hanya memutuskan untuk berhenti bekerja, ia juga sudah mulai menutup auratnya dengan sempurna. Keputusan Alesha yang satu itu membuat Zavian semakin menyayangi dirinya. Drttt drrtttt Alesha terdiam ketika menatap layar ponselnya yang memperlihatkan nama sang penelepon. "Daddy?." Gumamnya. Panggilan telepon itu tak kunjung diangkat oleh Alesha. Hal itu menyita perhatian Zavian yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Kenapa tidak di angkat?." Tanya Zavian sembari mendekat ke arahnya. "Eh... Tidak penting." ucapnya. "Kenapa tidak penting?." "Iy-iya ini Qiana. Tahu sendiri orangnya seperti apa!." "Coba angkatlah. kasihan, siapa tahu dia butuh bantuan kamu." "Nanti saya meneleponnya kembali. Sekarang yang terpenting adalah melayani suami." Tutur Alesha sembari membantu mengancingkan seragam Zavian. Penuturan Alesha dapat menciptakan barisan senyum di bibir Zavian. Akhir-akhir ini hubungan mereka semakin intim. Meski Zavian sendiri belum mengerti tentang perasaannya pada Alesha. Namun wanita yang telah menjadi istrinya itu dapat membuat suasana hatinya semakin teduh dan nyaman. >>>> Kebiasaan yang sering dilakukan pada pasangan suami istri yang paling umum, yaitu mengantarkan seorang suami sampai di depan pintu ketika hendak untuk bekerja. Hal itu juga diterapkan oleh Alesha dan juga Zavian. "Saya pamit kerja dulu. Nanti kalau saya pulangnya agak malam, terus kamu butuh sesuatu, minta tolong sama bi Inah saja." Pesannya pada sang istri. "Iya mas." "Satu lagi, vitaminnya jangan lupa diminum." "Iya pak polisi." "Jangan begadang yah Alesha, saya peringatkan lagi. Kemarin saya masih kasih kamu toleransi. Sekali lgi, kalau saya dapat.." ucap Zavian terpotong. "Emangnya kalau kedapatan begadang mau apa?." tanya Alesha dengan menantang. "Berarti kamu sudah siap kalau saya ajak begadang sampai seminggu." Ucap Zavian. Alesha merasa susah payah menelan salivanya. Darahnya langsung berdesir. "Kenapa diam?." Zavian mengerutkan kedua keningnya. Bingung dengan Alesha yang masih pagi-pagi sudah melamun. "Ehm ini saya kepikiran, nanti siang saya ada janji dengan Qiana. Bolehkan?." bohongnya. Padahal dipikirkannya saat ini terlintas yang tidak-tidak. tetapi ia juga benar ingin izin keluar rumah. "Dalam rangka apa?." tanya Zavian sekilas seperti mengintrogasi. "Hanya ingin quality time saja bersama sepupu. Apakah tidak boleh?." tanya Alesha lagi, memastikan sang suami tidak marah. "Boleh, tapi pulangnya jangan malam-malam. Sore kamu harus ada dirumah. Terus jangan lupa Sholat." ucapnya. Zavian tak pernah lupa mengingatkan Alesha untuk Sholat. "Iya pak suami, pak polisi, pak imam." ujar Alesha pada suaminya. "Baiklah, saya pergi." pamitnya. "Abi pergi dulu yah nak. Jangan bandel sama umi." Zavian menempel diperut Alesha yang masih rata. Sementara empunya tertawa geli melihat tingkah laku suaminya, yang sudah mengajak bicara calon anak Mereka yang masih ada di dalam perutnya. Keharmonisan rumah tangga antara Alesha dan Zavian menciptakan rasa iri di hati seorang Fatimah. Dari balik jendela kaca, Fatimah sangat setia menonton adegan romantis kedua pasangan itu di pagi hari. Semenjak pulang dari rumah sakit, hubungan antara ia dan Almeer renggang, disebabkan Almeer yang divonis mandul oleh dokter. Almeer mengalami Azoospermia, Yaitu kondisi di mana tidak ada s****a di dalam a******i. Hal ini dapat berarti bahwa tubuh tidak menghasilkan s****a. Fatimah menerima itu, kalau kenyataannya Almeer tak dapat memberikan keturunan. Tetapi dari Almeer sendiri tak bisa menerima itu. Alhasil hubungan keduanya menjadi renggang. Almeer lebih sering menyendiri dan tak lagi memberikan nafkah batin pada Fatimah. Nafkah batin yang tak didapat oleh Fatimah, berujung pada rusaknya komunikasi antara mereka berdua. Almeer lebih sering menyendiri. Begitu juga dengan Fatimah lebih sering diluar rumah. Sesal, ada rasa sesal di dalam hati seorang Fatimah. Ia menyesal telah menolak Zavian kala itu. Seandainya saja waktu itu ia menerima Zavian, mungkin kini ia berada di posisi seorang Alesha, yang dicintai dan diperlakukan dengan sangat manis. Dan mungkin dirinya akan memiliki keturunan karena Zavian tidaklah mandul. Dulu ia menolak Zavian, karena profesi yang dimiliki Zavian sebagai seorang polisi. Fatimah tak mau memiliki suami yang berprofesi di bidang militer. Karena dirinya menganggap, bahwa lelaki yang bekerja di bidang itu jarang dirumah dan memiliki waktu yang sedikit. Ia memilih Almeer. karena Almeer seorang wakil direktur di perusahaan yang dipimpin oleh ayah Fathan mertuanya sendiri. Dahulu ia sudah berangan-angan bahwa kelak ketika menikah dengan Almeer, ia akan memiliki waktu yang banyak untuk bersama. Dan tentunya materi akan terjamin, karena Almeer adalah pewaris dari perusahaan Ayah Fathan. Tetapi sekarang terbalik dari apa yang ia harapkan. Semuanya tak seperti apa yang ia bayangkan dulu. Justru kini Zavian lebih banyak mengusahakan waktu bersama istrinya. sementara Almeer hampir tidak memberikan waktu sama sekali. Fatimah hanya bisa meratapi kehidupannya yang tak sesuai dengan ekspektasi yang telah ia ciptakan dulu. Waktu telah berlalu, tidak dapat diputar kembali. Menyesal memang selalu ada dibelakang. Dan ekspetasi adalah hal yang paling menyakitkan ketika hasilnya berbeda dengan realita. >>>>>>>> Rumah mewah bernuansa Amerikan klasik telah duduk tiga orang dengan dua cangkir kopi late dan satu cangkir s**u diatas meja mereka. Alesha memandang serius wajah lelaki berusia lima puluh tahun itu yang tengah sibuk membaca koran di tangannya. "Daddy. kenapa Daddy mengajakku kemari kalau ujung-ujungnya aku masih harus menyembunyikan identitas ku?." Tanya Alesha yang kecewa dengan keputusan Mahendra. "Daddy rasa perkataan Daddy tadi sudah sangat jelas Alesha." Mahendra tetapi kekeh pada keputusannya. "Aku sudah hamil begini, Daddy masih mengira bahwa aku menikah kontrak?." tanya Alesha. "dad, please aku dan Zavian benar-benar menjalani rumah tangga ini tanpa adanya kontrak dan lainnya. Zavian sangat baik padaku, dan Aku.." ucapnya terpotong. "kamu mencintainya?." Tanya Mahendra "iya." Alesha menjawabnya dengan nada sedikit ragu. ia sendiri masih bingung dengan perasaan yang ia miliki pada Zavian. "tapi apakah dia mencintaimu?." tanya Mahendra lagi pada Alesha. "Daddy please." Alesha memelas seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan. "Alesha, dengarkan Daddy baik-baik. Daddy percaya kalau kamu memang mencintainya dan kalian memang bersungguh-sungguh menjalani rumah tangga ini. Akan tetapi, Daddy masih mengkhawatirkan bila lelaki itu belum mencintaimu." ungkap Mahendra. "Cinta itu akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu dad. lagi pula aku tidak ingin membohongi Zavian, dan keluarganya semakin lama. aku takut ini akan membuat ku semakin berdosa." keluh Alesha. "Daddy paham apa yang kamu khawatirkan. tetapi tolong pikirkan juga kekhawatiran Daddy padamu my sweetie. kalau nanti Zavian dan keluarganya tahu identitas mu, dan mereka memanfaatkan kekayaan mu bagaimana? apalagi kamu sendiri belum mengetahui perasaan Zavian bagaimana padamu!." ucap Mahendra. "Untuk itu bersabarlah dulu. seperti apa yang Daddy janjikan padamu. Kamu boleh membuka identitas mu kalau rumah tangga kalian sudah setahun." lanjutnya. "Dad, aku tidak sanggup untuk membohongi Zavian semakin lama." ucap Alesha memelas. "Kamu sangat memaksa Sweetie. apa jangan-jangan kamu menikah dengannya, hanya karena ingin Daddy menyerahkan warisan?." tanya Mahendra dengan selidik pada putrinya itu. "Benar, awalnya aku menerima Zavian karena ingin cepat mendapatkan warisan dari Daddy. tetapi seiring makin kesini pikiran ku berubah, yang aku inginkan sekarang, yaitu mengatakan siapa aku sebenarnya." ungkapnya. "Tidak Sweetie, Daddy tetap pada pendirian Daddy." tegas Mahendra tetapi masih dengan nada lembutnya. "Mahendra. kau ini menyiksa anak mu sendiri." Ujar Thomas yang tak tega melihat keponakannya. Thomas adalah ayah Qiana. "Paman." rengekannya "Tidak Thomas, justru aku ingin melindungi putriku sendiri." bantah Mahendra pada Adiknya Thomas. "Paman." rengek Alesha lagi. "Sekarang kita berangkat, ada pertemuan di Malaysia besok pagi." pungkas Mahendra yang beranjak pergi karena ada pertemuan bisnis di Malaysia. "Dan kamu sweetie, pulanglah. Pasti suami mu sudah mencari mu." perintahnya pada Alesha. "Maafkan paman Alesha." Lirih Thomas pada keponakan kesayangannya itu. Alesha Shaqueena Amory adalah nama asli yang dimiliki oleh Alesha. ia adalah putri tunggal dari keluarga kaya raya, yang memiliki beberapa perusahaan. perusahaan itu sayapnya melebar sampai Asia. mulai dari pabrik tekstil, Perusahaan retail, perhotelan dan bahkan perusahaan timah adalah sumber kekayaan keluarga Amory. kekayaan itu menciptakan kekhawatiran di hati Mahendra. Maka dari itu ia memerintahkan Alesha menutup identitasnya, Karena tak ingin anaknya dimanfaatkan oleh orang, yang hanya ingin mengincar harta mereka. kekhawatiran itu membuat Mahendra muncul ide, yaitu Alesha diperintahkan bekerja sebagai resepsionis hotel yang hotel itu sendiri adalah miliknya. Mahendra juga membuatkan CV palsu untuk putrinya, dan mencabut semua fasilitas termasuk black card, agar putrinya itu konsisten untuk menjalani penyamarannya. tidak heran waktu itu Alesha kerap beberapa kali sering memakai pakaian branded. Tetapi salah satu point' yang ada di CV nya terdapat juga kebenaran, Ia memang anak piatu. ibunya meninggal ketika Alesha berusia enam tahun. Alesha adalah satu-satunya pewaris untuk Mahendra. maka dari itu, Mahendra menginginkan anaknya itu bertemu dengan seseorang yang mencintai anaknya dengan tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN