Bangkok adalah provinsi yang ada di Thailand, tempat ini memiliki banyak keunikan sehingga banyak para wisatawan yang berkunjung kesana. Salah satu tempat yang banyak orang kenal yaitu Khao san Road. Khao San road sendiri adalah nama jalan. Di sepanjang jalan Khao san Road terdapat banyaknya kuliner dan juga Souvenir yang dijual oleh pedagang.
Alesha, Zavian, Fatimah dan juga Almeer saat ini tengah menikmati udara malam dan beberapa aneka kuliner di kawasan Khao san Road. Zavian yang memiliki minat tinggi dalam dunia kuliner terlihat sangat menikmati semua hidangan yang mereka pesan. Alesha menatap kagum pada suaminya yang tengah asik menyantap makanan. Bagi Alesha suaminya itu bertambah ketampanannya kalau sedang makan.
“Kamu nggak peka kak. Itu kakak ipar lihatin kamu terus tuh.” Ucap Almeer karena sedari tadi Alesha memandang kakaknya dengan sangat dalam.
“Ada apa?.” Tanya Zavian yang menghentikan aksi makannya tersebut.
“Salah kalau saya menatap mu? Kan sudah halal.” Tanya Alesha balik.
“Iya saya tahu, tapi aneh saja kalau sementara makan kamu memandang saya seperti itu.” Protesnya.
“Baik saya jujur, kamu sangat tampan malam ini.” Ungkapnya. Zavian yang tengah asik menyantap tom yum goong terdiam, ungkapan istrinya itu membuatnya tersipu dan memerah.
“Idih, bubar nggak kalian berdua!?.” Almeer makin greget melihat kemesraan pasutri itu di depannya.
“Sayang kita pergi saja yuk, kita tinggalkan pengantin baru stok lama ini disini.” Ajak Almeer pada Fatimah untuk meninggalkan Zavian dan Alesha. Sementara itu Alesha dan Zavian tertawa cekikikan karena melihat wajah Almeer yang tak nyaman dengan kemesraan mereka berdua.
Tak mau membuat Almeer makin rewel Fatimah pun ikut pergi. Fatimah bersyukur bahwa hubungan Zavian dan Alesha makin harmonis. Namun entah mengapa, ada secercah rasa kecut di hati Fatimah ketika melihat wajah Zavian yang tersipu saat di puji oleh Alesha. Fatimah sendiri tidak mengerti dengan perasaanya ini.
“Sayang.” Panggil Almeer pada istrinya yang sedari tadi hanya melamun saat di ajak bicara.
“Hmm.”
“Kamu kenapa? sedari tadi diam? Apa kamu ingin balik ke tempat tadi?.”
“Ti-tidak. Hanya saja aku sedikit lelah hari ini.” Ucapnya.
“Kalau begitu kita pulang saja yah, besok saja kita beli oleh-oleh nya.” Ajak Almeer pada istrinya. Ia juga sadar bahwa istrinya pasti sangat capek karena mereka sedari pagi sudah jalan-jalan menikmati indahnya Bangkok.
>>>>>>>>>
Sepuluh hari berbulan madu di kota Bangkok, mereka akhirnya pulang dengan membawa beberapa souvenir yang unik, serta beberapa cemilan untuk orang-orang yang ada di Indonesia. Salah satu dari mereka juga membawa kabar bahagia.
Kabar bahagia itu dari Alesha. Sebelum kepulangan mereka, dirinya sudah melakukan testpack dan hasilnya positif. Tentu saja positif, hubungan intim antara ia dan Zavian sangat sehat. Sudah pasti akan cepat membuahkan hasil.
Zavian yang merupakan orang pertama mengetahui kehamilan sang istri sangat bahagia. Sampai di Indonesia wajahnya terlihat sangat segar, tidak ada hentinya ia memperhatikan Alesha. Saking perhatiannya Alesha ke kamar mandi saja selalu ditemani, jalan selalu digandeng. Menjadi sangat overprotektif.
Ayah, bunda beserta keluarga lainnya juga turut senang dengan kabar bahagia itu. terkecuali Fatimah. ada rasa iri dalam dirinya ketika Alesha memberitahukan kabar bahagia itu di depan keluarga. Ditambah semua orang terlihat perhatian dan sayang kepadanya.
"Wah wah, benar kan kata ayah bund. Mereka pulangnya bawa calon cucu." Ucap Ayah Fathan.
"Alesha." Panggil bunda Amalia pada menantunya.
"Iya bund."
"Bunda boleh minta sesuatu?."
"Apa itu bund?."
"Boleh mulai hari ini bunda minta kamu berhenti memakai heels? Apalagi kamu bunda lihat kerja sering pakai heels." Pintanya.
"Bunda bukan mau ngatur kamu nak, bunda hanya mengingatkan, karena trisemester pertama itu masih sangat rentan. Bunda takut kamu dan calon cucu bunda kenapa-kenapa." Jelas bunda pada Alesha.
"Terima kasih bund. Alesha tidak masalah kok kalau harus berhenti untuk memakai heels, Alesha juga berpikiran yang sama seperti bunda. Alesha janji akan menjaga janin ini sampai lahir dengan selamat." Ucap Alesha. Ia sendiri paham dengan kekhawatiran yang dimiliki mertuanya.
"Abang, nanti istrimu ajak ke dokter Kandungan. Kita harus periksa bagaimana kondisi janin." Pesan bunda.
"Siap bunda cantik." Ucap Zavian dengan penuh semangat.
Semangat lah, laki-laki mana yang tak semangat bila mendengar mereka akan menjadi seorang ayah? terkecuali laki-laki yang tak bertanggung jawab, mereka malah takut mendengar bahwa mereka akan menjadi ayah. Karena tanggung jawabnya sangatlah besar.
Fatimah yang melihat semua perhatian berpusat pada Alesha saja. Memilih langsung masuk ke kamar. Almeer pun menyusul istrinya tersebut, ia sangat tahu bagaimana perasaan wanitanya saat ini.
Seorang perempuan yang baru saja berumah tangga sangat sensitif dengan namanya garis dua atau kehamilan. Sedari dulu perempuan akan mendapatkan tuduhan dari dunia, bahwa ada yang salah jika kehamilan tak kunjung datang pada mereka.
Sejatinya kehamilan itu adalah anugrah dari maha pencipta. Anak merupakan suatu titipan yang Allah beri pada orang yang telah dipercayakanNya. Namun terkadang dunia atau realita seakan menutup mata tentang hal itu.
Itulah mengapa hati Fatimah merasa seperti perempuan yang tak ada harganya. Merasa tak diperhatikan, dan Merasa sangat payah. Kepercayaan dirinya seolah luntur begitu saja.
"Sayang." Panggil Almeer dari daun pintu. Ia melihat Fatimah duduk di tepi ranjang, pundak istrinya itu naik turun, yang artinya sedang menahan isakan tangis.
"Sayang, aku tahu ini sangat membuat kamu sakit. Kita memang belum dipercayakan Allah untuk memilikinya." Ucap Almeer yang langsung memeluk Fatimah.
"Lagi pula aku menikahi kamu bukan untuk punya anak." Lanjutnya sembari nepuk nepuk pundak istrinya.
"Aku ini perempuan yang tidak berguna untuk kamu." Fatimah langsung mendongak menatap suaminya. Almeer melihat mata istrinya itu sudah sangat berair.
"Ssttt, nggak boleh ngomong gitu." Almeer langsung menutup mulut Fatimah yang mengucapkan kata yang tak baik pada dirinya sendiri.
"Udah yah, dari pada kamu terus-terusan nyalahin diri kamu, mending besok kita ke dokter dan buat promil. Kita kan belum program." Saran Almeer.
"Kamu benar, kita harus promil." Ucapnya dengan suara serak khas habis menangis.
"Tapi aku sih terserah kamu. Kalau pun kamu nggak mau, nggak masalah. Buat aku kamu itu sangat berarti. Jadi mau hamil ataupun tidak, aku tetap akan cinta sama kamu." Ucap Almeer. Baginya keputusan Fatimah yang terpenting.
"Ana Uhibbuka Fillah my husband." Ucap Fatimah sembari memberikan kecupan kecil di pipi kanan Almeer.
"Ana Uhibukka Fillah my wife." Dibalas juga oleh Almeer dengan mencium dahi istrinya.