HARI YANG BERAT

1390 Kata
Pria berbadan tegap itu mematut dirinya di depan cermin, melihat apakah penampilannya sudah rapi atau belum. Hari ini adalah hari yang sangat berat baginya, dimana ia harus lebih sempurna menutup luka dengan senyuman. Hari dimana ia akan mendengar nama sang pujaan hati akan disebutkan dalam ikrar suci yang disebutkan oleh adiknya sendiri. Berat untuk Zavian, namun ia hanyalah manusia yang tak memilki kuasa. ia tak bisa memaksa perasaan orang lain padanya. Dari mulut Fatimah sendiri yang mengatakan tak mencintainya. dan kini ia harus ikhlas bahwa adiknya lah yang menjadi pilihan Fatimah. Pilihan untuk menjadi nahkoda dalam pelayaran. Meskipun sangat berat, namun hari ini ia benar-benar harus membuang Fatimah dari hatinya untuk selama-lamanya, dan harus menerima bahwa ia sendiri sudah memilki makmum. yang harus ia bimbing dengan baik untuk meraih ridhoNya sang maha Penyayang. Ia yakin, perlahan hati ini akan cepat pulih. Dirinya yakin, Alesha lah yang dipilih Allah untuknya. Walaupun dirinya sendiri belum menemukan jawaban, mengapa wanita itu yang dikirim Allah untuknya? tetapi ia akan belajar untuk mencintai wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Zavian meyakini bahwa cinta itu akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Mulai dari sekarang yang harus ia lakukan melaksanakan kewajibannya sebagai suami yang baik untuk Alesha. Ia harus menjadi suami yang bisa bertanggung jawab dunia maupun akhirat nanti. Berbicara tentang Alesha, dua hari ini sering pulang larut. Dirinya yang juga sering bertugas dan jarang di rumah, tidak sempat menanyakan kenapa istrinya itu sering pulang larut. “Mas.” Panggil Alesha yang sudah berdiri di daun pintu. Zavian langsung berbalik. Ia sedikit terpukau dengan penampilan sang istri. Alesha mengenakan dress panjang berwarna putih serta pashmina yang juga berwarna putih. Untuk yang pertama kalinya Zavian melihat sang istri mengenakan pakaian tertutup dengan sempurna. “Mas kamu baik-baik aja kan?.” Tanya Alesha dengan khawatir. Pasalnya Zavian mematung dan dalam keadaan mulut terbuka. Glup Zavian menutup mulutnya dan menelan salivanya yang setengah mati. Ia sangat-sangat terpukau dengan kecantikan Alesha yang semakin bertambah. “Cantik.” Lirihnya. “Mas.” Tegur Alesha yang saat ini tersipu. Untung dikamar hanya ada mereka berdua. “Kamu cantik Alesha, saya hampir tidak bisa bernafas.” Ucap Zavian. “Mas, ih.” Alesha makin memerah. Alhasil ia menepuk ringan bahu suaminya itu. “Kenapa? Emang salah saya memuji kamu?.” “Malu mas!.” Ucap Alesha jujur. “Buat apa malu? Memuji istri itu termasuk pahala sayang..” Seru Zavian. “Iya, terima kasih ya.” Ucap Alesha. Zavian langsung tersenyum, namun tidak hanya senyum, ia menunjuk bagian pipinya juga, menandakan meminta ciuman dari Alesha. “Udah ah, saya mau ke bawah duluan, ntar telat lagi.” Ucap Alesha yang malah berbalik dan meninggalkan Zavian yang masih berdiri di dalam kamar. “Alesha.” Panggil Zavian. “Heii,, dosa loh nolak suami.” Ujarnya becanda. “Saya takut kamu keterusan. Tadi pagi kan udah.” Ucap Alesha sembari menjulurkan lidahnya dari pintu sana. Pagi tadi mereka berdua sempat melakukan olahraga ranjang. Hal itu dimulai oleh Alesha sendiri yang tiba-tiba mencium pipi Zavian. Alhasil langsung dibalas oleh Zavian dengan secara brutal hingga berlanjut ke ranjang yang sangat panas. Kalau saja tidak mengingat adanya pesta, mungkin pasutri satu itu tidak akan berhenti, sampai ada yang minta ampun. >>>>>>>>>>>>>> Senyum, senyum bahagia itu mengembang dengan leluasa di wajah Fatimah dan juga Almeer yang baru saja menyelesaikan prosesi paling sakral. Zavian dari jauh memandang senyum itu, dirinya makin tersadarkan bahwa betapa bahagianya Fatimah menikah dengan adiknya. Begitu juga dengan Almeer. Pancaran senyum mereka berdua menandakan keduanya saling mencintai dan mengharapkan kebahagian dalam bahtera rumah tangga. “Abang.” Panggil bunda pada Zavian. bunda dapat melihat betapa sakitnya yang dirasakan Zavian saat ini. Ditutupi seperti apapun, bunda sangat mengenal baik tentang apa yang ada di dalam hati putra sulungnya itu. “Bunda.” Zavian berbalik menatap sang bunda yang tatapannya sangat teduh padanya. “Kamu tidak apa-apa kan nak?.” Tanya bunda Amalia. Ia tidak tahu lagi harus bertanya apa, ia sendiri sangat tahu bahwa tidak ada yang baik-baik saja pada Zavian saat ini. “Abang baik-baik saja bunda, abang sangat bahagia. Lagi pula abang sudah punya istri yang sangat baik, abang bersyukur memiliki Alesha.” Tuturnya sambil tersenyum. “Bunda punya hadiah untuk abang, sekalian liburan.” Ucap bunda Amalia sembari menyerahkan dua tiket pesawat pada Zavian. “Apa ini bund?.” Tanya Zavian yang tidak mengerti kenapa bundanya memberikan dua buah tiket pesawat ke Thailand. Bunda Amalia memang ibu yang sangat the best dalam memahami perasaan anaknya. Walaupun dirinya belum sepenuhnya menerima menantunya itu, ia tetap harus berlaku baik. Prasangka buruknya pada Alesha akan ia hilangkan, dirinya akan mulai percaya, bahwa Alesha bisa menjadi makmum yang baik untuk putra sulungnya. “Kamu dan Alesha baru saja menikah, bunda ingin kalian liburan, hitung-hitung bulan madu.” Ucap sang bunda. Bulan madu, benar ia dan Alesha belum sempat melakukan bulan madu, ah rasanya ia seperti laki-laki yang tak berpengertian. Seharusnya dirinya sendiri yang menyiapkan ini, bukan bundanya. “Bunda sengaja memilih Thailand, disana banyak kuliner. Bunda tahu abang sangat suka kulineran.” Seru bunda Amalia. “Terima kasih bund.” Ucap Zavian sembari memeluk erat tubuh sang bunda. Alesha yang dari kejauhan sana tersenyum melihat sikap suaminya itu. dari dulu Alesha sangat mengagumi laki-laki yang memiliki hubungan harmonis dengan seorang ibu. >>>>>> Ting ting ting “Attention please.” Teriak pelan Almeer sembari mengetuk gelas dengan sendok. Semua yang berada di meja makan teralihkan pandangannya pada Almeer. “Sayang ayo berdiri.” Pinta Almeer pada Fatimah untuk ikut berdiri bersamanya. “Saya Almeer yang hari ini sudah melepas masa bujang. Ingin mengumumkan, bahwa saya memutuskan untuk mengajak istri saya berbulan madu ke negeri Bangkok. Sekian terima kasih.” Ucap Almeer dengan senyum mengembang. Fatimah langsung memeluk suaminya itu, ia sendiri tidak tahu kalau Almeer memiliki rencana untuk berbulan madu ke negeri Bangkok. Negeri Bangkok yaitu negara Thailand. Negara yang juga akan di kunjungi oleh Zavian dan Alesha. Bunda Amalia yang memberikan kado tiket liburan pada Zavian merasa menyesal, ia juga tidak tahu kalau putra bungsunya akan memiliki rencana untuk berbulan madu ke sana. Harapan Bunda Amalia yang memberikan kado itu pada Zavian, agar Zavian dapat memulihkan hatinya. “Negeri Bangkok? Thailand dong.” Ujar Alesha. “Iya kakak ipar.” Jawab Almeer. “Berangkatnya kapan?.” Tanya Alesha seraya menatap suaminya. “Lusa kakak ipar.” Jawab Almeer lagi. “Lah sama dong, saya dan mas Zavian juga kebetulan mau liburan kesana, dan tiketnya juga bertepatan dengan hari yang sama.” Ucap Alesha. Sementara Zavian hanya bisa diam menyimak perbincangan antara adik dan sang istri. “Wah kok bisa, kamu nyontek aku ya bang?.” Tanya Almeer dengan selidik pada Zavian. “Eeeh kita tidak menyontek kalian. Bunda yang kasih tiket itu, sebagai kado pernikahan kita berdua.” Ucap Alesha, lagi dan lagi Zavian hanya diam dan menyimak. “Bener bund?.” Tanya Almeer. “Benar, bunda juga tidak tahu kalau kamu berencana kesana dek.” Jawab Bunda pada putra bungsunya itu, namun tatapan bunda tak lepas pada putra sulungnya. Sedari tadi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut anaknya. “Kalau gitu bareng aja. seru nih.” Saran Fatimah yang sangat terlihat senang dan bahagia. “Ini sangat seru bund, bisa-bisa nanti kita langsung punya dua cucu nih.” Seru ayah Fathan. Sang ayah memang tidak pernah mengetahui perasaan yang dimiliki oleh Zavian. kalau saja ia tahu, mungkin ia akan sama sedihnya seperti bunda Amalia. “Dia kenapa kakak ipar? Lagi sariawan?.” Tanya Almeer yang bingung kakaknya pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih dimeja makan. “Sepertinya kakak kamu lagi banyak kerjaan deh..” Ucap Alesha seraya tersenyum kikuk, Alesha merasa tak enak dengan sikap suaminya yang pergi meninggalkan meja makan. “Kebiasaan.” Gumam Almeer yang menyadari sifat mood swing kakaknya yang tak pernah berubah. “Apa mungkin mas Zavian marah karena aku nolak tadi siang ya?.” Monolog Alesha dalam hatinya. ia sangat bingung akan perubahan mood suaminya yang sering tidak menentu. Fatimah langsung menundukkan kepalanya. Sikap Zavian tadi dapat terbaca kalau sebenarnya Zavian belum mengikhlaskan dirinya sepenuhnya. Selama ini Fatimah berharap bahwa Zavian dapat melupakan dirinya dengan hadirnya Alesha, namun ternyata salah. Semua ini tidaklah muda bagi Zavian, menghapus seseorang dari relung hati yang paling dalam, adalah bagian paling tersulit untuk dilakukan. Fatimah sendiri hanya bisa berdoa agar sang maha penyayang dapat mengobati hati seorang Zavian dan membantu Zavian untuk melupakan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN