Ku tak harus memiliki mu
Tapi bolehkah ku selalu didekat mu?
(Alesha Shaqueena Amory)
Dengkuran halus menusuk masuk ketelinga Alesha. Tangan kekar yang semalam aktif menjamaahnya masih melingkar dengan erat dipinggangnya. Semalam untuk yang pertama kalinya bagi mereka berdua, namun mereka mampu melakukan sampai dua ronde. Kalau saja Alesha tak mengeluhkan sakit mungkin Zavian akan terus menyerangnya sampai habis-habisan.
Alesha membalikan badannya, menatap lelaki yang sudah menjadi imamnya itu. Jika diperhatikan suaminya itu ternyata memiliki paras yang begitu tampan. Alesha memegang pipi Zavian yang ditumbuhi bulu halus. Pemiliknya pun bangun akibat sentuhan itu. Ia membuka matanya yang sedikit berat. Bagaimana tidak? Semalam dirinya menjadi aktor utama yang bekerja keras untuk membuka terowongan yang masih tersegel dengan sempurna.
“Sudah mau subuh, bangunlah.” Ucap Alesha ketika melihat Zavian membuka mata. Tetapi bukannya bangun Zavian malah mempererat pelukannya.
“Mas, sedikit lagi mau adzan. Kita harus mandi.” Panggilan mas itu membuat Zavian membuka matanya dengan lebar dan menatap Alesha sambil tersenyum. Hatinya menghangat, untuk pertama kalinya Alesha memanggilnya dengan sebutan seperti itu. dengan sigap dan semangat Zavian bangun dari tempat tidur.
“Astagfirullah.” Teriak Alesha sembari menutup matanya. Zavian langsung mendekati pada istrinya yang masih ditempat tidur.
“Ada apa?.” Tanya Zavian yang sama kagetnya juga ketika melihat Alesha menutup mata. Dirinya menatap kesana kemari mencari penyebab dari kagetnya sang istri.
“Kenapa bangun dengan keadaan begitu?.” Tanya Alesha dengan keadaan masih menutup mata sembari menunjuk bagian bawah milik Zavian. Ia Akhirnya jadi tahu apa yang menyebabkan istrinya kaget, ternyata dirinya bangun dalam kondisi naked. Semalam karena kelelahan ia lupa untuk memakai celana.
“Ehehe, Aku lupa memakai celana sayang.” Ucapnya dan lansung cepat masuk ke kamar mandi membereskan sisa percintaan mereka semalam.
“Huffft.” Alesha membuang nafasnya dengan kasar setelah Zavian sudah masuk ke dalam kamar mandi. Baru kali itu Alesha melihat belalai milik suaminya, semalam ia tidak memperhatikannya.
Ia baru sadar belalai itu memiliki ukuran yang sangat besar, pantas saja semalam ia merasakan kesakitan yang sangat dahsyat, bahkan sekarang miliknya masih terasa nyeri dan mungkin lecet, karena beberapa kali Zavian sempat gagal membukanya.
>>>>>>>>>>>
Rasanya seperti mimpi ketika biasa sholat sendirian namun kini sudah ada teman yang bahkan menjadi imam. Alesha menatap kagum pada Zavian yang sangat menjaga sholatnya. Tidak sia-sia Alesha menerima ajakan nikah secara tiba-tiba itu, sudah tampan, Gagah, Sholeh lagi. Sangat komplit menurut Alesha. Ia harus banyak bersyukur kepada sang pencipta yang telah memberikan seorang lelaki seperti Zavian padanya.
Selepas sholat Zavian melanjutkan olahraga, menurutnya wajah yang tampan tidak ada gunanya bila tak memiliki tubuh yang gagah. Alesha tak ikut, ia memilih membuatkan sarapan untuk sang suami dan lainnya. Meski ia sendiri bingung apa makanan kesukaan dari keluarga ini.
Di dapur ia mendapati sang mertua sudah bergelut di depan kompor. Kini ia tahu bahwa ternyata bunda Amalia memang sering bangun di jam seperti ini. Berikutnyaia akan lebih sering bangun subuh biar bisa membantu Bunda.
“Pagi bund.” Sapa Alesha pada bunda Amalia.
“Pagi.” Jawab bunda singkat sambil menyalakan kompor.
“Tumben bangun jam segini? Zavian mana?.” Tanya Bunda yang masih sibuk menanak nasi kedalam panci.
“Mas Zavian lagi jogging di depan komplek.” Jawabnya.
“Alesha mau bantu bunda, Boleh?.” Tanya Alesha denga berhati-hati. Ia takut malah mendapat respon yang tak mengenakan dari bunda.
“Boleh, kamu masak sayurnya, bunda masak ayamnya.” Ucap Bunda. Alesha tersenyum, dirinya senang bahwa perlahan bunda menerimanya dengan baik.
Bunda Amalia menatap sendu menantunya yang sangat semangat membantunya. Ada rasa bersalah karena dirinya sudah mengira Alesha tak bisa menjadi istri yang baik untuk putranya. Melihat usaha Alesha yang mau membantunya memasak sudah menjadi jawaban bahwa menantunya itu ingin belajar menjadi makmum yang baik untuk suami.
“Bunda kenapa sedih?.” Tanya Alesha. Bunda Amalia tak sadar dirinya mengeluarkan air mata. Dengan cepat ia menghapus air mata itu.
“Pedih, tadi habis potong bawang lupa cuci tangan.” Bohongnya. Alesha mengangguk pelan dan melanjutkan memasak.
Aroma masakan yang dihidangkan oleh dua bidadari di rumah itu membuat seisi rumah berkumpul di ruang makan. Ayah, dan juga Almeer menikmati aroma masakan yang sudah disediakan diatas meja. Zavian yang juga baru tiba ikut bergabung di meja makan. Ia duduk disamping Alesha. berkali-kali Ayah dan juga Almeer mendapati Zavian menatap istrinya terus-menerus.
“Sarapan yang benar itu fokus ke piring bang.” Tegur Almeer yang greget melihat kakaknya makan tapi matanya tidak di piring.
“Biasa itu, pengantin baru mah gitu meer.” Sambung ayah Fathan.
“Makanya nikah.” Seloroh Zavian pada adiknya.
“Sabarlah bang, dua hari lagi aku melepas masa bujang.” Ucap Almeer dengan bangga.
Sendok yang dipegang Zavian terjatuh ke lantai. Ucapan Almeer mampu membuat Zavian kehilangan keseimbangan. Ia merasakan panas didalam dad@nya. Almeer tak salah, ia sendiri yang menciptakan topik itu, topik yang mampu menyakiti dirinya sendiri.
“Alesha, hari ini kamu masuk kerja?.” Tanya Bunda yang ingin mengalihkan pembicaraan, ia tahu kondisi perasaan yang dimilki oleh putra sulungnya itu.
“Iya bund, saya cuman diberi cuti dua hari. Hari ini saya harus masuk.” Jawab Alesha.
“Untung Almeer kerjanya sama ayah, jadi minta cutinya bisa beberapa minggu, biar nanti bulan madunya lama.” Ujar Almeer.
Keluarga Allaric atau ayah Fathan memang memiliki perusahaan namun tidak begitu besar. Perusahaan itu beroperasi di bidang produksi cemilan dan minuman sehat. Zavian pernah mendapat tawaran dari ayahnya untuk memimpin perusahaan, tetapi dirinya tidak memilki minat bergelut di bidang bisnis. Dirinya memilih untuk menjadi abdi negara.
“Mau kemana mas?.” Tanya Alesha pada sang suami yang telah beranjak dari duduknya.
“Saya sudah selesai.” Jawabnya singkat yang kemudian berjalan dengan gontai meninggalkan meja makan.
Alesha menatap bingung sikap sang suami yang tiba-tiba seperti tak bersemangat dan tak berselera. Ia melihat piring Zavian masih menyisakan banyak makanan. Ia makin yakin bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja, namun ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi penyebab rusaknya mood Zavian di pagi hari.
>>>>>>>>>
Selesai mandi dan berpakaian, Zavian menarik laci tempat ia menyimpan aksesorisnya seperti jam dan lain-lain. Matanya terhenti pada suatu gelang perak pemberian dari Fatimah. Ia mengambil gelang itu dan menatapnya dengan tatapan sendu. Air mata yang ia tahan tak terbendung. Kenangan manis ia dan Fatimah terputar kembali dalam ingatan.
Dua hari lagi, dua hari lagi ia akan mendengar nama gadis itu akan disebutkan dalam akad nikah, yang akan diucapkan oleh adiknya sendiri, bukan dirinya. Sakit, sungguh sakit yang Zavian rasakan saat ini. Rasanya seperti belati panjang dan tajam menusuk dadanya secara berulang-ulang.
“Mas.” Panggil Alesha yang tiba-tiba masuk. Dengan sigap Zavian menghapus air matanya.
ia berbalik menatap istrinya. Zavian memaki dirinya sendiri dalam hati ketika melihat Alesha menghampirinya dengan wajah ceria serta senyum yang mengembang. Dirinya merasa bersalah, karena tak dapat menyingkirkan Fatimah diruang hatinya.
“Gelangnya bagus, kamu beli ini dimana mas?.” Tanya Alesha memperhatikan gelang perak yang dipegang oleh Zavian.
“Ini kado dari nenek saya. Sudah lama tersimpan.” Bohongnya. Yang kemudian dengan cepat memasukkan gelang itu.
“Barang sebagus ini disimpan? Pakailah, apalagi ini dari orang tersayang.” Ucap Alesha dengan polos.
Seandainya Alesha tahu barang ini dari siapa, mungkin kini dirinya sudah mendapat tamparan keras dari Alesha.
“Saya memakainya hanya di acara tertentu, yang saya butuhkan sekarang adalah jam tangan, untuk menunjang penampilan serta kinerja saya dengan baik.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang tersirat penuh kebohongan.
Terkadang sesuatu yang berada didekat kita, belum tentu menjadi milik kita. sebaliknya apa yang menjadi milik kita juga belum tentu berada didekat kita. jadi pertanyaannya? Mana yang kamu pilih? Memilikinya namun hatinya jauh dari mu? Atau hatinya dekat dengan mu, tetapi kamu tak dapat memiliki nya?