bc

Obsesi Cinta Tuan Muda Alveric

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
billionaire
dark
arranged marriage
arrogant
boss
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
bold
city
childhood crush
tricky
affair
like
intro-logo
Uraian

WARNING: MENGANDUNG UNSUR 21+

Harap bijak dalam membaca!

Elma Anattasya tak pernah membayangkan dirinya harus menikahi Dante Mattin Alveric, pria yang seharusnya menjadi milik sahabatnya. Padahal, ia telah bertunangan dan siap membangun rumah tangga dengan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain. Dante, penguasa kejam Veridia berdarah biru, memiliki kekuatan untuk menundukkan siapa saja, termasuk Elma.

Ayah Elma, seorang detektif, sedang menyelidiki kejahatan Dante dan semakin mendekati kebenaran. Dalam sebuah langkah putus asa, Dante mengancam akan membunuh ayah Elma jika Elma tidak setuju untuk menikah dengannya. Terjebak dalam pilihan yang mustahil, Elma mengorbankan kebahagiaannya demi nyawa ayahnya.

Pertunangannya hancur, sahabatnya menghilang tanpa jejak, dan kota Veridia menjadi saksi bisu kehancurannya. Elma merasa terperangkap dalam jaring-jaring kekuasaan Dante. Setelah pernikahan, ia hanya ingin bertahan hidup dan memastikan ayahnya aman. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Dante ternyata telah lama terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka di toko kue miliknya.

Tekad Elma untuk melindungi ayahnya dan melarikan diri dari mansion mewah itu membara, tetapi Dante selalu selangkah lebih maju. Ia mengurung Elma, menjauhkannya dari dunia luar, dan menjadikannya tahanan di rumahnya sendiri. Dalam kesendirian dan keputusasaan, Elma dihadapkan pada pilihan yang sulit: terus berjuang untuk kebebasan dan keselamatan ayahnya, atau menyerah dan mencoba memahami, bahkan mungkin mencintai, pria yang telah merenggut segalanya darinya? Akankah Elma berhasil menyelamatkan ayahnya dan dirinya sendiri, atau justru terperangkap selamanya dalam labirin obsesi Dante?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal
"Ibuku sakit parah." Kalimat itu lolos dari bibir mungilnya. Ia menundukkan kepala sambil memilin bajunya. Sontak Elma menoleh, menatapnya dengan ekspresi terkejut. "Terus bagaimana, Ver? Kamu sudah bawa ke rumah sakit?" tanya Elma. "Kalau belum, mari kita bawa ke rumah sakit sekarang." Vera Morelli, ia merupakan sahabat karib Elma sejak sekolah dasar hingga mereka sedewasa ini. Jarak usia hanya 1 tahun saja—dimana Elma berusia 22 tahun sedangkan Vera 23 tahun. Vera juga bekerja di perusahaan Corp Alveric, disana ia hanya sebagai karyawan biasa yang kadang-kadang di tindas oleh beberapa karyawan yang jabatannya lebih tinggi. Sedangkan, Elma hanyalah seorang cake designer yang masih belum terkenal di kota ini, namun cukup banyak orang yang memesan cake di tokonya. Sontak Vera menggelengkan kepala. Dengan mata yang telah berkaca-kaca, ia perlahan mendongak. Menatap ke arah Elma dengan seksama. "Aku sudah membawanya kesana, katanya Ibuku harus operasi karena ginjalnya cukup parah ...." Vera terdiam sejenak. Air matanya hampir menetes jika mengingat kembali kejadian tadi pagi. "Kau tahu, aku harus membayar 30 juta. Sementara pekerjaan aku hanya karyawan di perusahaan saja." "Bukankah kita bisa mengajukan permohonan kepada pihak rumah sakit untuk menolong ibumu lebih dulu?" Elma menatapnya. Kebingungan tiba-tiba melanda di benaknya. Setahu ia, dikota ini ada jaminan untuk menolong orang operasi, jika ada sesuatu yang cukup mendesak. Dan jika pasien telah sembuh total, maka diwajibkan untuk menyicil. Tiba-tiba saja Vera malah tertawa dengan suara isak tangis kecil yang lolos dari bibirnya. "Kau mengharapkan apa dari kota Veridia ini? Pemimpinnya saja hanya menginginkan kekuasaan doang. Lalu, bagaimana aku bisa mengharapkan bantuan itu?" Kota Veridia adalah kota yang menakutkan. Para petinggi disini hanya merebutkan kekuasaan tanpa melihat rakyat mereka yang kesulitan. Tak jarang kabar buruk atau mayat-mayat bertebaran di pelosok manapun. Bahkan, beberapa kota yang dekat saja tak ingin berurusan apapun karena pemerintahannya cukup kejam. "Kita bisa mencoba." "Aku sudah mencoba!" tekan Vera. Hatinya sesak hingga air matanya langsung meluncur bebas. Seketika Elma mendekati, mereguh tubuh sahabatnya yang sudah naik-turun. "Aku akan mengumpulkan uang. Jika diperlukan, aku akan meminta bantuan ayah. Kamu jangan khawatir. Kita akan melewati ini bersama," kata Elma. Ia berusaha keras untuk menenangkan sahabatnya. Apalagi ibu Vera begitu sangat baik kepadanya. Elma ingat, ibu Vera adalah orang pertama yang mendekap dan membuatnya merasakan sosok ibu sehingga Elma tak mau kehilangannya. Ia akan melakukan apapun untuk membantu sahabatnya. Lantas Elma memejamkan mata, membayangkan wajah ibu Vera. Sudah lama sekali ia tak pernah melihat dan mendengarkan kabarnya. Begitu mendengar, malah kabar buruk. "Jangan, aku nggak mau merepotkan kamu, El. Aku akan berusaha sendiri, sekuat tenagaku!" ucap Vera dengan isak tangis yang mendominasi perkataannya. "Nggak, nggak! Kita akan melewati ini bersama-sama. Sebagai teman, bukankah kita harus bersama-sama dalam suka maupun duka?" Vera terdiam. Tak mengucapkan apapun. Hatinya cukup terharu hingga tangisnya semakin pecah. Tuhan membawa sosok sahabat sepertinya ke kehidupan ini. Akan tetapi, Vera cukup takut jika suatu saat nanti. Pertemanan ini malah berakhir dengan cara yang tak terduga. Drrt ... drrtt ... Suara dering ponsel langsung menghentikan tangisan Vera. Gegas Vera melepaskan pelukan dan merogoh ponselnya di saku. Sejenak, Vera menatapnya cukup lamat hingga membuat Elma kebingungan. "Siapa, Ver?" tanya Elma cukup penasaran. Vera langsung menghapus sisa-sisa air matanya. Nama "Tuan Dante" memenuhi layar ponselnya hingga membuat wajah Vera berubah menjadi pucat pasi. "Ingin apa dia menelpon ku? Apakah aku memiliki kesalahan?" "Bos aku menelpon." Hanya kalimat itu yang terdengar di indra telinga Elma yang langsung dibalas dengan anggukan kepala saja. Vera, ia menarik napas dulu sejenak sebelum mengangkat telepon masuk dari bosnya. "Selamat siang, Tuan. Apakah Anda butuh sesuatu?" tanya Vera lebih dulu. Ia melirik ke arah Elma dengan mata yang sulit diartikan. Lantas Vera menyimak tiap kalimat yang diucapkan oleh Tuan Dante di seberang sana. Ekspresi wajahnya cukup berubah-ubah layaknya bunglon yang tengah menyesuaikan tempatnya, sontak Elma menatapnya sejenak. Ia memperhatikan seksama dan bertanya-tanya sendiri. Hingga pada akhirnya, Vera menghela napas panjang. Ia lantas mengatakan, "Baiklah, Tuan. Terimakasih atas bantuannya, saya akan segera ke rumah sakit sekarang." Setelah kalimat itu terucap, Tuan Dante langsung mematikan panggilan secara sepihak membuat Vera menatap ke arah sahabatnya begitu lekat. "Kenapa?" tanya Elma. Keningnya mengkerut, firasatnya mendadak menjadi tak enak. "Tuan Dante mengajak aku berkencan. Tapi, sebelum itu, dia menyuruhku untuk ke rumah sakit karena ingin meminta izin kepada Ibuku ...." Vera terdiam sejenak, berusaha ingin melanjutkan kalimatnya. Namun, seperti tertahan. Ia menggengam tangan Elma begitu lekat. "Kamu temani aku, ya?" Elma mengkerut kening. Bingung. Ada apa dengan sahabatnya? "Boleh-boleh aja, sih. Tapi, kenapa wajahmu malah tertekuk gitu? Dia mengancam, ya?" tukas Elma. Tuan Dante cukup terkenal akan kekejamannya disini. Sebagai Tuan muda Alveric, ia selalu bersikap kasar dan apapun yang diinginkannya harus tercapai. Elma ingat sekali, Tuan Dante pernah datang ke tokonya untuk melihat kue. Namun, disana ia malah bertingkah sesuka hati hingga membuat Elma naik pitam dan memakinya. Lalu, Tuan Dante malah tak marah. Ia hanya tersenyum miring, menatap Elma dengan tatapan tajam. "Nggak. Aku hanya sedikit gugup?" ucap Vera. "Kok, gugup? 'Kan kalian hanya berkencan saja dan Tuan sesuka hati itu juga meminta izin kepada ibumu lebih dulu." "Iyah, tapi terkesan aneh." "Sudahlah! Kita harus positif thinking. Mungkin, Tuan sesuka hati itu menyukai kamu dan ingin menyatakan cintanya." Elma menyenggol bahunya seraya menatapnya dengan tatapan jahil. "Kalau benar begitu, rasanya aku bahagia. Kita akan double date!" "Jangan terlalu berkhayal tinggi," Disisi lain, sosok pria berdiri di depan cermin. Wajahnya yang begitu tampan, dengan paras yang hampir sempurna, tersenyum sinis. Satu-persatu, keinginannya harus di capai. Dengan cara apapun, ia akan mengambil miliknya. Lantas ia menatap wajahnya yang terpahat begitu sempurna. Tuhan menciptakan begitu indah. Bahkan, tak hanya paras. Kekayaannya juga cukup berlimpah dan pastinya para wanita akan selalu mengejar dan memuja dirinya. Akan tetapi, semua kelebihan itu. Ia mempunyai sisi buruknya yang membuat semua wanita di kota Veridia, takut berurusan dengannya. Ia adalah Tuan Dante Mattin Alveric, pria itu tersenyum miring seraya mengatakan, "Sial, pertemuan pertama dengannya kala itu. Benar-benar membuatku menginginkan seluruh tubuhnya. Tak hanya itu, pikiran ku selalu tertuju padanya. Ia bahkan berani sekali, menguasai mimpiku setiap malamnya. Tapi, ketika bertemu malah menjadi wanita sok paling mahal. Makanya, Sayang, aku akan melakukan segala cara untuk kamu ada disisiku. Meski aku harus mengurungmu di mansionku!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.4K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook