bc

Step Brother To Lover

book_age16+
34
IKUTI
1K
BACA
billionaire
family
powerful
brave
confident
drama
sweet
bxg
campus
wild
like
intro-logo
Uraian

Malik begitu mengganggu dan Ale punya solusi untuk mengatasinya, yaitu mencarikan Malik seorang pacar. Sejak hari itu misi utama Ale adalah membuntuti kemanapun Malik pergi. Namun sayang, perkara itulah yang membuat Ale bimbang. Dia tidak bisa melihat Malik sebagai seorang kakak yang menyebalkan, dia melihat Malik sebagai pria tampan dan dewasa.

Ada satu aturan yang Ale buat, yaitu DILARANG KERAS JATUH CINTA kepada Malik. Tapi rasanya tanpa sadar Ale telah melanggarnya. Ale berubah menjadi pendiam. Dia harus apa? Dia mencintai seorang Malik Askara, saudara tirinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Arti Menerima
Hari itu hujan mengguyur kota tak kenal ampun. Sesekali kilatan petir menghiasi langit malam Jakarta yang hitam. Ale tidak heran lagi karena bulan Januari memang bulannya hujan. Tapi malam itu rasanya berbeda, sepertinya memang akan terjadi sesuatu. Ale memilih tidak ambil pusing. Sudahlah, dia memang tidak peduli dengan apapun selagi asyik menekuri bukunya. Ah, ini adalah novel keluaran terbaru dari penulis favoritnya, berjudul Kiss My Boss. Klise sekali ceritanya, tapi Ale suka bagaimana penggambaran setiap karakter yang lugas dan realistis. Petir menyambar dengan disertai gemuruh menggelegar. Ale melempar bukunya sebagai reaksi. Seketika lampu rumah mati total. Kebiasaan. Memang sering di kompleknya kalau hujan deras dan petir seperti ini aliran listrik bisa tiba-tiba terputus. Ale mendecak kesal. Bergerak malas mencari telepon genggam yang lupa ia taruh mana. Ale perlu merambat karena takut kakinya akan menendang kursi. Tidak ada yang bisa ia lihat selain kegelapan. Tidak ada bedanya antara membuka ataupun menutup mata. Dia tidak bisa melihat apapun. Ale menemukan ponselnya yang tergeletak di atas meja. Setelahnya dengan terburu menyalakan lampu senter. Ale memutuskan untuk keluar dari kamar. Ngeri juga membayangkan ada yang mengetuk jendela di tengah keheningan ini. Ale merasakan bulu kuduknya meremang. Gadis itu menuruni anak tangga dengan hati-hati. Takut jika salah melangkah dirinya akan menjadi buntalan yang jatuh menggelinding. Rumah sedang sepi hari ini. Orang tuanya sedang perjalanan bisnis ke Surabaya. Katanya perlu waktu semingguan di kota itu. Ale kini ditinggal dengan kakak tirinya, Malik. Tapi cowok itu bahkan tidak pulang sudah tiga hari. Kesempatan karena ayah tidak akan memarahinya jika keluyuran begini. Ale memilih duduk di ruang tamu. Hanya itu tempat satu-satunya yang dirasa aman. Jika terjadi sesuatu maka ia akan lari keluar rumah dan berteriak agar tetangganya dengar. Kadang pemikiran Ale memang segila itu, harap maklum. Untung saja dia membawa novel di pelukan. Maka dia memilih membaringkan diri di sofa, kemudian kembali membaca novel dengan bantuan flashlight. Ale terkikik geli, mungkin bila bunda tau, beliau akan marah besar. Membaca di tengah kegelapan akan membuat mata sakit dan itu tidak baik. Tapi kini lihat, Ale senang rupanya bisa melanggar larangan bunda. Sesekali Ale akan tertawa terpingkal kemudian tercekat. Tetapi anehnya ada yang salah. Sedari tadi meski raganya tertawa seperti orang gila tapi jiwanya melayang. Ada yang salah dan Ale tidak tahu apa itu. Bosan dengan novel, Ale mencoba menelepon sang kakak. Tapi nihil. Jangankan tersambung, sinyal saja tidak terdeteksi di sini. "Kak Malik kemana, sih?" Beberapa detik kemudian, lampu menyala bersamaan. Ale menghela napas lega. Baiklah sekarang waktunya mencari kabar sang kakak. Sebenarnya ia jarang sekali menghubungi cowok itu, bahkan dari riwayat pesan saja mereka hampir tidak pernah berkomunikasi. Ale mengenal Malik ketika orang tua mereka menikah. Bunda kala itu membawa om Yuda– yang kini beralih status menjadi ayah, bersama Malik. Katanya bunda ingin menikah lagi setelah kematian ayah kandungnya tujuh tahun lalu. Ale tidak menolak. Tidak apa-apa. Bundanya akan tertawa dan bahagia bersama om Yuda, jadi mengapa tidak? Ale menerima kedua lelaki baru itu sebagai keluarganya. Ale bahkan selalu menunjukkan kehangatannya. Hingga empat bulan lalu keduanya resmi menikah. Dan bunda serta Ale di boyong ke rumah baru nan megah, rumah yang ia huni kini. Awalnya hidup Ale seperti putri negeri dongeng. Semuanya sempurna. Ayah juga bukan orang yang jahat ataupun membencinya. Ayah layaknya seorang orang tua baru bagi Ale. Beliau menyayangi Ale meski keduanya berawal dari orang asing. Tapi hanya satu yang Ale sesalkan. Kakak tirinya, Malik Askara begitu dingin. Dia bahkan tidak pernah tersenyum. Ale kerap kali mengajaknya ngobrol atau sekedar menawarinya makanan ringan, tapi jangankan menolak. Malik bahkan tidak pernah menjawab ataupun menoleh padanya. Awalnya Ale maklum, mungkin saja dia canggung karena hubungan baru ini. Dia mencoba bersabar tapi tetap saja tidak ada perubahan. Bahkan Malik juga begitu dingin kepada bunda. Seringkali Malik kena marah ayah karena berlaku tidak sopan. Ale akhirnya menyerah. Baiklah jika itu kemauannya, mereka akan tetap menjadi orang asing. Hingga hari ini. Bisa dibilang ini adalah kali pertama Ale menghubungi Malik setelah sekian lama. Dia khawatir. Perasaannya bertalu tidak menentu sejak tadi. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi pada kakak tirinya? Bagaimanapun mereka sekarang keluarga. Dan di tengah hujan lebat seperti ini dia tidak di rumah. Tiga hari tidak pulang. Sambungan kembali terputus untuk kedua kalinya. Malik mengabaikan teleponnya. Benar-benar menyebalkan. Ale memilih abai. "Oke, aku lupa kalau ini mau kamu kak. Oke, aku nggak akan hubungi lagi." Tapi baru beberapa sekon sejak perkataannya meluncur. Pintu utama dibuka secara mengejutkan. Ale melotot melihat Malik yang berjalan memasuki rumah dengan keadaan basah kuyup. Matanya kosong. Setiap langkahnya meninggalkan jejak basah. Ale siap berteriak karena rumah menjadi kotor. Tapi belum sempat meluncur dari kerongkongan, Malik jatuh terduduk. Ale yakin sekali cowok itu menangis meski wajahnya basah oleh air hujan. Dia terisak. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ale mendekat dengan ragu. Ayolah, mereka tidak pernah saling berbicara. Canggung sekali. "Kak, kamu kenapa?" Ale mengikis jarak. "Kak Malik?" Lima bulan lebih mengenal Malik, ini adalah kali pertama Ale melihat sisi baru cowok itu. Pertama kali ia melihat kakak tirinya, Malik Askara menangis hancur seperti ini. Hatinya tersayat tanpa sebab. Cowok itu meluruhkan tangannya. Menatap Ale dengan tatapan paling sendu yang pernah ia dapat dari Malik. Ale menggeleng. Sepertinya dia salah bertanya. Apapun yang akan dikatakan Malik hanyalah kabar buruk. Ale menggeleng lagi. Lebih baik tidak usah. Dia tidak mau mendengar apa yang akan Malik katakan. Firasatnya yang resah sejak tadi menjelaskan segalanya. Bibir pucat Malik meringis. Kemudian mengatakan sebuah kalimat yang Ale tidak bisa pahami. Lebih tepatnya, tidak mau ia pahami bahkan seumur hidup. Malik berkata lirih, "ayah sama bunda meninggal. Mereka kecelakaan." Meskipun petir bahkan tidak menyentuh Ale, tapi kini tubuhnya terpanggang bersama gemuruh petir. Suara sekitar menjadi begitu lirih. Dia bahkan tidak bisa mendengar lagi derasnya hujan. Yang ada hanya satu kalimat yang terputar bak kaset rusak. "Ayah sama bunda meninggal. Mereka kecelakaan." Ale merasakan pipinya basah. Penglihatannya mengabur. Dia bahkan tidak bisa bereaksi apapun. Sementara kepalanya menggeleng, menolak percaya apa yang barusan ia dengar. "Nggak, Lo bohong, kak!" Untuk pertama kalinya pula, Ale memanggil Malik dengan sebutan "Lo". Kulitnya gemetar hingga tubuhnya lirih di lantai. Ale melihat sekeliling yang kini bergerak lambat. Dia sudah gila rupanya. Di momen itu ia melihat Malik yang menguatkan kakinya, mengokohkan lengannya untuk bangkit dan mendekap Ale. Semuanya berjalan seperti memori usang yang menyakitkan. Jika ini mimpi buruk, tolong bangunkan Ale secepatnya. Tempat ini begitu menyakitkan. Ale masih menangis, tapi setitik suara pun tidak terdengar. Ini terlalu tiba-tiba. Ale hanya diam ketika lengan kokoh Malik melingkari pundaknya. Menariknya erat ke sebuah pelukan hangat yang rasanya begitu memuakkan. "Ale, ada aku di sini." Malik semakin erat mendekapnya. Jantungnya seperti meledak karena digenggam begitu erat. Sangat menyakitkan. Ale menggeleng. "Lo bohong. Malik b*****t! Lo bohong, kan? Bunda sama ayah besok pulang. Mereka bilang besok pulang!" Malik tidak marah. Cacian Ale tidak mengendurkan pelukannya. Mereka hanya memiliki satu sama lain mulai saat ini. "Malik, bunda nggak apa-apa, kan? Lo b******n! Bunda tadi baru nelpon gue, katanya mau pulang besok!" Ale meraung marah. Dia meronta. Mencoba lepas dari pelukan Malik yang semakin erat. Ale terus meronta dan berteriak marah hingga beberapa menit. Suaranya hilang dan dia hanya diam. Malik semakin merapatkan pelukan. Harus ada yang waras dalam situasi seperti ini. Dia akan bertanggung jawab untuk menjaga Ale yang tengah kalut, jika ia memilih egonya sendiri dan berteriak sama marahnya, mereka akan berakhir di rumah sakit jiwa. "Kak Malik, kamu bohong, kan?" Pertanyaan Ale yang menggema di ruang tamu dan tak terjawab. Malik memilih menerima cacian dan pukulan Ale daripada pertanyaan seperti ini. Pertanyaan putus asa dan mengoyak hati. Malik bahkan tidak bisa berhenti menangis. Dunia begitu kejam pada mereka. Semesta merenggut satu-satunya sandaran mereka. *** Tidak Ale sangka sebelumnya bahwa teka-teki Tuhan yang menyamar sebagai takdir membuat hidupnya jungkir balik dalam semalam. Dia baru tertidur di atas bara api dan kini ia membuka mata di atas lautan baja mendidih. Baru kemarin dia mendengar tentang kabar mengerikan itu dan kini dia melihat kedua orang tuanya yang tidur berselimutkan tanah. Memang benar bunda bilang akan pulang hari ini, tapi tidak dalam kondisi tak bernyawa seperti ini. Ale merasakan lututnya tak bertulang. Beruntung, Malik mendekapnya agar tak jatuh ke tanah. Kedua jenazah di masukkan ke liang lahat. Tempat peristirahatan mereka. Ale hanya berharap sama seperti sebelumnya bahwa ini hanyalah bunga tidur. Ini hanyalah imajinasi semata. Namun rasa ini terlalu nyata untuk sekedar mimpi. Jantungnya terlalu hancur dan sakit jika semua hanya imajinasi. Kelopak bunga menghiasi gundukan tanah basah. Satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Kepalanya berat sekali. Ale bahkan berpikir untuk ikut terjun ke liang lahat tadi, dia teramat terpukul. Jika tujuh tahun lalu saat ayah kandungnya meninggal Ale masih punya tumpuan, kini tidak lagi. Ale bisa apa jika satu-satunya alasan dia hidup telah meninggalkannya lebih dulu? Ale harus apa? Dia tidak yakin bisa hidup tanpa bunda. Ale kembali terisak. Tenaganya habis tapi pikirannya tetap bekerja normal. Teramat normal hingga dengan kurang ajarnya memproyeksikan kejadian-kejadian tempo dulu. Saat Ale berangkat ke sekolah dengan sepatu baru pemberian bunda, tawa bunda atau bahkan sebuah kecupan kening dari bunda sebelum tidur. Ale hancur berkeping-keping. Ale limbung. Dengan sigap Malik menangkapnya. Menyokongnya dari belakang agar tetap kuat berdiri di samping pusara bunda dan ayah. "Kak, bunda bakal baik-baik aja, kan? Bunda bakal nyaman di surga sama ayah, kan?" Malik mengangguk. Mencegah air matanya kembali turun. Tidak lagi. Dia harus kuat dan tidak boleh menangis. "Tentu. Mereka bahagia di surga." Ale mengangguk. "Makanya bunda milih buat pergi ke surga dan ninggalin aku, kan? Biar bisa bahagia. Soalnya aku jelek, aku cuma bikin susah bunda. Aku bandel." Malik menggeleng tegas. "Nggak. Ale baik, Ale nggak nakal. Bunda pergi karena udah waktunya pergi." "Kenapa mereka ninggalin kita? Kita nyusahin ya? Mereka nggak sayang kita?" Demi mendengar kalimat terakhir. Keduanya jatuh ke tanah. Bersimpuh di hadapan tanah basah sembari memeluk satu sama lain. Mereka menangis lagi, rasanya lebih sesak dari beberapa menit lalu. Tiga hari berlalu sejak peristiwa kelam menghantui. Setiap malam para tetangga akan berkumpul dan tahlilan bersama, menghaturkan doa. Satu dua diantaranya hampir setiap jam memeriksa kondisi Ale dan Malik. Takut keduanya akan melakukan hal yang tidak di inginkan. Tapi kecemasan mereka sia-sia. Malik, cowok itu ternyata sekuat baja. Dia lelaki yang bahkan mengulas senyumnya meski jiwanya hilang. Malik merawat Ale yang kini hidup seperti mayat tak berjiwa dengan baik. Menyiapkan sarapan dan memastikannya makan dengan baik. Beruntung, meski mereka berdua tidak punya sanak saudara, mereka masih memiliki satu sama lain. Kini jam menunjuk pukul dua belas malam. Ini adalah kali ketiga ketika Ale tidak sengaja melewati kamar Malik di malam hari. Ale meneteskan air matanya. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, dia melihat Malik yang terduduk di bawah ranjang. Cowok itu menekuk lututnya untuk mengubur wajah. Meski tidak bersuara, Ale tau betul Malik tengah menangis. Punggung kokohnya bergetar hebat. Secuil ruang di hatinya terdesak perasaan menyesal. Malik tidak sekuat itu. Malik tetaplah seorang anak sepertinya yang kehilangan orang tua. Ale terlalu larut dalam sedihnya tanpa menyadari Malik juga sama terluka. Cowok itu bahkan memilih menangis di balik pintu tanpa seorang pun tau. Memastikan tidak siapapun khawatir olehnya. Malik, cowok berandalan yang seringkali mendapat banyak omelan ayah meringkuk tak berdaya. Separuh nyawanya hilang dan ia tak punya tempat bersandar. Ale membuka pintu dengan pelan. Kakinya bergerak mendekati sang kakak. Malik menyadari eksistensinya, secepat mungkin berperilaku sebaliknya. Tersenyum dan segera mengusap air matanya. Bangkit seperti bukan Malik yang baru saja menangis pilu. "Ale kenapa? Mau minum? Aku ambilin bentar ya." Malik baru saja melangkah tapi lengannya di cekal. Ale menutup matanya. Air mata yang tidak di undang jatuh seperti rinai hujan. Tanpa peringatan gadis itu memeluk Malik. Menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Malik. Menangis tersedu. Benar. Mereka hanya punya satu sama lain. Ale akan melakukan hal yang sama, dia akan menyayangi Malik seperti keinginan kedua orang tuanya. "Kakak nangis aja nggak apa-apa. Ale di sini." Dan Malik tak kuasa lagi menahan derai air mata. Tubuhnya luruh. Mereka saling menyalurkan kesedihan. Menjadikan satu sama lain sebagai pundak sandaran. Mulai hari ini, setiap cerita yang mereka lalui akan mereka bagi bersama. Hari itu Ale masih remaja enam belas tahun yang belum mengerti arti semua ini. Dia belum mengerti bahwa pelukan itu akan menjadi awal cerita pada lima tahun ke depan. Saat semuanya menjadi pelik. Antara cinta dan saudara. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook