2. Minyak Dan Air

1035 Kata
2021 Ale berulang kali melirik jam di pergelangan tangan dengan tatapan sengit. Empat tahun sudah berlalu tapi kebiasaan Malik belum berubah. Pria itu selalu saja tidak tepat waktu. Lihatlah, padahal ia berjanji akan sampai di sini setengah jam yang lalu. Ale memegang tengkuknya seraya membuang napas jengah. Awas saja kalau Ale sampai terserang darah tinggi karena ulah pria itu. Tunggu saja, dia akan membuat perhitungan yang pantas. "Ah! Selalu aja gini. Emang kapan sih, kak Malik tepat waktu?" Ale masih meneruskan ocehannya ketika mobil Porsche berwarna kuning terang berhenti tepat di depannya. Ale menyilangkan kedua tangan tepat di depan d**a. Lirikannya setajam pisau yang siap menguliti penumpang mobil terang itu hidup-hidup. Malik segera turun. Wajahnya cengengesan tak berdosa. "Maaf. Tadi ada meeting yang nggak bisa ditinggalin. Emang telat berapa menit?" Malik melirik singkat jamnya. "Ah, udah lewat setengah jam. Maaf, Le." Gadis itu tak menggubris. Perasaan kesal begitu kentara di wajahnya. Dengan cepat bergerak dan membuka pintu mobil di samping kemudi. Duduk dan memakai sabuk pengaman. Malik dibuat membisu. "Ayo cepat! Aku lapar!" Malik tersenyum. Segera menuju ke posisinya. "Okay, okay. Sebagai permintaan maaf, nanti aku transfer uang saku bulan depan dua kali lipat." Malik mencoba berkompromi. Menggerakkan mobil kesayangannya membelah jalanan kampus. Semenjak menjadi Presdir perusahan ayah, lagak Malik memang seperti sugar daddy. "Maaf, pak Malik. Anda pikir saya mampu di sogok duit?" Malik semakin menampakkan deretan giginya yang rapi. Rupanya Ale marah betulan kali ini. Sogokan uang tidak berhasil. Baiklah, rencana kedua. "Eum, bulan depan Maroon 5 mau ngadain konser di Jakarta. Kebetulan temenku jadi salah satu staff penyelenggara, kemarin katanya mau ngasih tiket back stage biar bisa ngobrol langsung sama mereka." Malik melirik ke arah Ale. Menunggu reaksi sang adik. Ayolah, kali ini harus berhasil. Perempuan itu penggemar berat Adam Levine. Harusnya strategi yang satu ini berhasil. Dan benar saja. Malik semakin tersenyum ketika melirik gestur salah tingkah Ale. Dia antara ingin teriak kegirangan dan jual mahal karena ego. Malik hanya perlu menunggu. Sebentar saja. "Deal! Deal! Deal! Seat VVIP di tambah bisa ketemu di back stage, deal!" Ale berteriak. Malik tersenyum. Benarkan? "Tapi kak Malik tau dari mana mereka bakal konser di Jakarta?" Ale bertanya antusias. Kemana raut permusuhan dua menit yang lalu? Entahlah, kini hanya ada raut sumringah. "Tadi pas meeting dia ngajuin proposal gitu dan beruntung ke acc. Waktu udah selesai dia bilang kalau dia mau ngasih tiket sebagai ucapan terimakasih buat tender ini." Ale masih menatapnya antusias. Menunggu Malik kembali bercerita. "Dia ngasih dua tiket VVIP sama kesempatan ngobrol di back stage. Aku pikir ya ambil aja, kamu kan cinta mati sama mereka." Ale bersorak. "Kak, baru kali ini aku bersyukur punya kakak banyak koneksi kayak kak Malik!" Malik tertawa. "Makanya jangan sering ngambek." "Ya itu kan gara-gara kakak yang nggak tepat waktu!" Malik mendesah kecil, "misal tadi nggak telat juga nggak bakal dapet tiket, Le." Ale cengengesan. Mengalah. "Baru kali ini aku seneng dijemput telat." "Omong-omong, kenapa pakai mobil ini lagi, sih kak? Warnanya terlalu ngejreng. Bikin silau mata tau nggak!" Hingga sepanjang jalan menuju rumah, mereka masih meributkan perkara warna mobil yang bagi Ale tidak enak dipandang. Begitu menyilaukan mata. *** Kalea Embun Biru kini telah bermetamorfosa menjadi gadis ayu rupawan. Seorang primadona kampus yang sering menjadi standar kecantikan para mahasiswa. Elok rupanya bukan bualan semata, tak terhitung lokernya setiap hari penuh dengan berbagai bingkisan. Kadang kala bunga Daisy, coklat ataupun surat cinta. Ale, begitu ia dipanggil kerap kali memenangi kontes kecantikan. Sering kali wara-wiri di berbagai majalah remaja ataupun iklan. Akun instagramnya menjadi banjir followers serta endorse-an. Ale sendiri juga bingung, kenapa dia bisa secantik itu –dalam konteks menyombongkan diri sendiri. Gadis yang empat tahun lalu hampir gila karena shock berat, kini hidup sebagai seorang wanita hebat. Hidup mengajarkannya pengalaman yang tak terhitung. Hanya satu kelemahan Ale, otaknya tidak diberkati seperti kecantikan yang ia miliki. Jika di tilik dari IPK sebelumnya, hampir semua hanya mentok menyentuh 3,0. Tapi Ale tidak ambil pusing. Dia bahkan bisa sukses tanpa menjadi pintar, lalu tolak ukur IPK hanya sebagai apa? Penentu kelulusan bukan? Namun semuanya tidak berjalan semulus itu, di semester ke tujuh ini Ale setiap bulan menerima teguran sang kakak. Patut saja, Malik Askara adalah wisudawan terbaik di angkatannya. Lulus dengan IPK hampir menyentuh kepala empat, dari perguruan tinggi top tiga Indonesia. Kurang apa lagi alasannya untuk selalu memarahi Ale? Seperti hari ini. Sesudah bentrok perkara warna mobil Jamilah– inilah nama Porsche kuning terang yang membuat sakit mata tadi. Setibanya di rumah, Malik tidak lupa memberikan petuah abadi yang begitu panjang. "Le, kamu udah semester tujuh. Minggu depan udah jadwal ujian akhir. Mending job majalah di pending dulu, kamu fokus buat ngatrol IPK mu lewat semester ini." Malik menyandarkan diri di sandaran sofa. Tangannya menekan acak tombol TV, mencari saluran berita saham hari ini. "Nggak bisa, kak. Ale udah tanda tangan kontrak, lagipula ini nggak begitu menyita waktu. Aku janji bakal bagi waktu." Malik mengurut pelipisnya. Ale memang keras kepala. "Coba mana agensi majalahnya, biar aku yang ngomong. Kalau bisa di undur tapi kalau nggak bisa, bayar denda aja." Ale menggeleng keras. "Apaan, sih? Ale bukan anak kecil, kak." Malik sama menggelengnya. "Batal proyek ini atau nggak jadi model sama sekali." Keputusannya lugas dan tegas. Sulit dibantah. "Kak–" "No! Kuliah kamu nomor satu. Kita pastiin dulu kamu bisa survive semester ini, nanti mau jadi model atau artis drama terserah kamu. Kakak cuma mau kamu wisuda tahun depan." Ale menarik napas dalam. "Kak, kali ini aku janji bakal–" "Atau aliran modal ke agensi butut pacarmu itu terpaksa aku stop." Ale mengerutkan alis dalam. Tidak terima. "Kok ngancem, sih? Kenapa bawa-bawa dia?" Malik menatapnya tegas. Tatapan seorang Presdir pengusaha kapal kontainer terbesar tengah mempertahankan argumennya. Dan sepertinya Ale tidak punya kesempatan untuk mengeluh ataupun bernegosiasi. "Kak, please?" Malik menggeleng. "Fokus kuliah sampai wisuda dan berhenti jadi model cover majalah atau modal ke agensi pacarmu aku stop. The choice is yours." Jika ada yang Ale sesali dari hidupnya saat ini hanyalah satu. Andai saja dia lahir lebih dulu daripada Malik, andai saja dia adalah sosok kakak. Maka dia tidak akan terkekang peraturan menyebalkan ini. "Oke, deal!" Ale menghentakkan kakinya ke lantai. Meninggalkan ruang tamu dengan segala rasa kesal. Memang kapan, sih, Malik tidak menyebalkan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN