3. Akar Masalah

1246 Kata
Ale tidak lama mendapat telepon dari agensi. Bahwa pemotretan yang akan diadakan hari ini batal sudah. Apalagi? Ale tidak punya tersangka lain selain Malik. Pria menyebalkan itu memang kolot dan selalu mengganggu. Ale harus sabar, dulu ketika awal masa kuliah dan ia meminta izin untuk menyewa kontrakan atau kost yang lebih dekat dari kampus, pria itu menolak mentah-mentah. "Kenapa harus ngekost? Jarak rumah dari kampus nggak lebih dari dua puluh menit." Ale hanya membuka mulutnya. "Aku mau hidup mandiri. Aku nggak mungkin, kan, kalau terus-terusan nyusahin kak Malik?" Malik menggeleng. Kini sibuk dengan ponselnya, meraih jas yang tersampir di kursi, memakainya untuk kemudian berlalu pergi. "Nanti kalau udah lulus kuliah, aku akan pertimbangkan lagi. Kita bicarakan lagi nanti." Kembali ke masa kini. Ale mengangguk. Menepuk dadanya berulang kali. Sabar. Satu semester lagi dan ia akan bebas dari belenggu tidak masuk akal ini. Ketika melihat arloji yang menunjukkan pukul delapan malam, Ale memutuskan untuk tidur. Lebih baik menjaga agar jam tidurnya tidak kacau. Hal itu akan sangat berpengaruh pada kesehatan juga kecantikannya. Ale tersenyum dan menyambut mimpi indah. Sialnya ketika bangun ia terus menggerutu. Oh Tuhan, tidak hanya di dunia nyata, Malik juga datang ke mimpinya. Terus mengganggu dan mengganggu. Ale meniup anakan poni di dahinya. Bibirnya mencebik kesal. Ketika jam dinding menunjuk angka tujuh pagi, ia bergegas turun. Menuruni tangga dengan langkah kesal. Di meja makan, Malik sudah duduk sempurna. Dengan kemeja putih dan lengan digulung hingga siku. Dadi yang terpasang rapi, jangan lupakan tangannya yang sibuk mengamati layar ponsel. Dahinya sesekali mengerut, tampaknya ada sedikit masalah. Ale duduk di depannya. Sengaja menimbulkan suara deritan kursi. Berharap agar Malik terganggu. Namun tidak, matanya tidak berganti fokus. Bibirnya hanya tersenyum kecil. "Kenapa? Mimpi buruk?" Ale mengedipkan matanya berulang kali tidak percaya. Apakah itu bentuk perhatian atau ejekan. Iya mimpi buruk, soalnya ada Malik di dalam mimpinya. Itu adalah mimpi terburuk yang pernah ada. Ale merengut kesal. Ketika Bi Nila menghidangkan semangkuk sup hangat dengan kentang dan ayam di dalamnya, Ale hampir meneteskan liur. Bi Nila juga mengoleskan selai coklat pada rotinya. Menuangkan segelas s**u kemudian mengusap punggungnya. "Bibi mau pulang kapan?" Ketika wanita paruh baya itu hendak meninggalkan meja, Ale menariknya agar duduk di sebelahnya. Menatap matanya dengan tatapan tidak rela. "Rencananya mau pulang besok. Bibi mau bantu persiapan." Matanya bersinar terang, kebahagiaan berton-ton cahaya terpancar dari sana. "Terus Bibi di kampung berapa lama?" Bi Nila menimang sebentar. "Seminggu? Mungkin seminggu. Bibi mau istirahat bentar, bibi juga kangen sama sanak-saudara." Ale merasa rahangnya akan terjatuh saking terkejutnya. Seminggu tanpa Bi Nila? Seminggu hanya dengan psikopat gila yang kini tengah menghabiskan supnya? Tujuh hari bersama pria menyebalkan didepannya ini? Ale memandang Malik dengan raut kecewa. "Nggak bisa dikurangi? Jangan lama-lama dong. Nanti Ale di sini siapa yang ngurus?" Ale mencoba merayu. Menggoyangkan kedua tangan Bi Nila digenggamannya. "Nggak bisa. Bibi mau nemenin anak gadis bibi dulu sebelum dia nanti nikah. Bibi mau nikmatin waktu selagi dia masih jadi anak bibi, belum jadi istri orang." Ale mengerucutkan bibirnya. "Aku kan juga anak bibi ya, kan?" Bi Nila tersenyum. Mengusap pipi Ale dengan sayang. Sejak kematian tragis itu, Bi Nila membantunya bangkit. Mengurusnya dengan baik dan telaten. Ia menganggap Ale sebagai anak sendiri. Anak yang harus kehilangan orang tuanya ini membutuhkan kasih sayang dan Bu nila membaginya dengan senyuman. "Apa Ale ikut Bi Nila aja ke kampung?" Ale tiba-tiba mendapatkan ide. Sebuah ide cemerlang. Begitu saja. Dengan begitu ia akan tetap bersama Bi Nila dan ia juga berada jauh dari genggaman pria ini. Senyumnya mengembang indah. Sebelum Bi Nila menjawab. Malik sudah menyerobot. Berkata dengan kaki dan lugas. "Jadi ini. Remaja yang tiga tahun lalu minta hidup mandiri tanpa di urus. Sekarang ngerengek kaya anak kecil. Huh." Ale meliriknya tajam. Jika ada yang lebih besar dan keras daripada besi, mungkin ia sudah memukulkannya pada Malik. Pria itu membuatnya kehilangan kata-kata. Sehari saja. Hanya sehari saja tidak membuat gara-gara apakah uangnya akan kering kerontang? Tidak, kan? "Dengar ya bapak Malik Askara. Lebih baik bapak mengurusi kehidupan bapak yang gelap gulita daripada mengurusi saya!" Malik tidak menjawab. Hanya mengibaskan tangannya sebelum meraih jas hitamnya sebelum pergi. Mengabaikan Ale dengan kemarahannya. Bi nila tertawa. "Kalian ini, udah pada gede tapi masih sering adu mulut. Nanti kalau udah tua apa bakal terus kaya gini?" Ale mendesah berat. "Aku nggak akan menyerah sebelum kak Malik minta maaf duluan. Dia yang bikin salah!" Bi Nila mengangguk. "Iya Malik yang salah. Sekarang sarapannya dihabisin sebelum dingin. Bibi mau beberes dapur dulu." Ale hanya mengangguk patuh. *** Nimas —satu-satunya sahabat dekat Ale, datang mengetuk pintu dengan tampang gembel pagi itu. Wajah dengan make up yang sudah agak luntur itu tampak sayu. Pakaiannya kusut. "Lo kenapa?" Ale memicingkan matanya. Mencium aroma alkohol dan bau muntahan yang mengganggu hidungnya. Buru-buru menutup hidung ketika Nimas bergerak mendekat. Lihatlah, atasan blus putih yang terdapat noda bekas muntahan jika rok pink pucat sewarna sakura yang ia pakai. "Gue—gue kena, kena tipu!" Nimas berjalan sempoyongan. Ale sangsi ia datang kemari dengan taksi, karena keringatnya yang bau mungkin saja ia berjalan kaki. Memikirkannya saja membuat Ale mengelus dadanya. Temannya ini memang out of the box. "Sini-sini!" Ale meraih lengannya. Meminimalisir aroma tak sedap dengan berjalan agak berjarak. Jika dijabarkan mungkin terlihat jika dirinya seperti menyeret seekor kerbau. Tidak masalah. Karena kesehatan hidungnya lebih utama dari ikatan persahabatan mereka. "Lo minum berapa banyak, sih? Gila!" Nimas mulai menjerit. Wanita asal Jogja itu menangis tersedu-sedu. Mungkin efek alkohol belum hilang seutuhnya dari darahnya. "Gue emang nggak cantik.." dia berhenti sebentar untuk mual. Kemudian lanjut berteriak, "tapi gue punya harga diri!" Ale tidak mendengar jelas apa yang selanjutnya Nimas katakan. Karena bukan makian, semuanya terdengar seperti teriakan orang yang berkumur-kumur. Mendengung dan tidak jelas. Ale hanya merasa lega ketika Nimas datang setelah Malik berangkat kerja. Jika tidak, semuanya akan kacau. Mungkin Malik akan mengusir Nimas dan Ale akan kena marah selama seminggu ke depan. Mungkin Malik akan berteriak dan berpetuah agar memilih teman yang baik. Padahal Nimas adalah anak baik, hanya saja kebaikannya tertutup oleh seribu keburukan. Ale menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Menyeret Nimas bukanlah hal yang mudah. Dia terus saja membelot dan bertingkah seperti orang gila. Ketika sampai di lantai dua, ototnya letih bukan main. Setelah beristirahat sebentar dengan Nimas yang kini terbaring telentang di lantai, Ale menyeretnya ke kamar mandi. Memasukkannya ke bathub. Ketika sadar tengah berendam, Nimas berteriak ngilu. Kesadarannya mulai kembali ketika air hangat mulai merasuk ke kulitnya. Ia berteriak sekali lagi ketika sadar pakaiannya yang masih kotor ikut terendam di bathub. Intinya dia masih berpakaian utuh. Awalnya ia kaget kenapa tiba-tiba berendam di kamar mandi yang bukan miliknya dan akhirnya sedikit lega ketika mengetahui ada sticker dengan nama "KALEA" di samping cermin. Dia di rumah Ale. Berarti semuanya aman terkendali. Nimas menggosok tubuhnya, melepas pakaian dan membersihkan segala kekacauan yang ia perbuat. Ale sudah menyiapkan handuk kering dan beberapa potong pakaian di meja dekat wastafel. Nimas memakainya sebelum keluar, mendapati nampan berisi sup yang hangat dan air putih. Bibirnya tersungging senyum, dengan lahap menyantap sarapan. Ale tidak ada di kamar, entah dimana ia dan Nimas tak akan ambil pusing. Ale mendorong pintu dengan membawa setoples keripik kentang. Rencananya ia akan marathon drama Korea hari ini. Tentu saja kedatangan Nimas tidak akan menghalaunya. Ale mendelik sinis sementara yang disindir hanya menyengir seraya menghabiskan sarapannya. Ia sudah kenal Ale dalam waktu lebih dari tiga tahun, ia juga bukan sekali bertingkah seperti ini dan Ale tidak akan marah padanya hanya saja Nimas sedikit malu. "Udah gue bilang pacaran virtual itu nggak baik." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN