4. Sepaham Sering Perang

1046 Kata
Step #4 Nimas menelan supnya dengan susah payah. Tersangkut di leher. Menelan airnya hingga tandas. Sementara Ale sudah duduk di atas kasur. Membuka meja kecil untuk ditempati laptop berwarna merah muda. Bukan hanya laptop, mulai dari karpet, gorden, sprei, sarung bantal hingga seluruh ornamen kamar ini berwarna soft pink. Malik bahkan enggan memasuki teritorinya, ia berkata bahwa akan keracunan gas semacam oksigen pink yang akan membuat jiwanya terguncang. "Gue nyesel kok." Nimas beranjak mendekat. Kepalanya bersandar di bahu Ale dengan wajah menyesal dibuat-buat. Percayalah. Jika hari ini Nimas berkata akan berhenti, sebulan kemudian ia akan menggandeng pacar virtual baru. Entahlah, jika di dunia maya, Nimas bertingkah seperti buaya. Sebenarnya hal ini terjadi belum lama, mungkin ini adalah kali ke empatnya disakiti oleh pacar virtual. Hanya saja Ale yang selalu kena imbasnya. Mungkin karena Nimas anak perantauan, dia tinggal di ibu kota untuk berkuliah. Jauh dari sanak saudara dan hanya Ale, teman yang bisa ia percaya. Setiap kali mendapat masalah, ia akan meminum alkohol dalam jumlah banyak di club. Holywings, adalah tempat favoritnya. Ale bukan gadis naif yang berpikiran lurus dan sopan. Ia jika suka hal semacam clubbing dan menenggak secawan Champagne, tapi mengingat resiko yang akan terjadi jika Malik mengetahuinya, Ale hanya pernah pergi dua, tiga kali. Itupun jika ada Raden yang menjaganya. Bicara tentang Raden, ia adalah teman Nimas. Mereka teman ambis sejak di bangku sekolah. Bersama mengejar impiannya ke Jakarta. Ale juga berhubungan dengan Raden sejak Nimas mengenalkan mereka berdua. Lewat beberapa kali ajakan minum kopi, Ale akhirnya membuka diri pada pria itu. Cinta pertamanya, pacar pertamanya. "Kali ini apa masalahnya?" Meskipun tampangnya beringas dan acuh, Ale tetap berusaha menjadi teman dan pendengar yang baik. Mendengarkan segala keluh kesah Nimas, karena mereka hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Ale tak punya banyak teman. Kenalan dan relasi mungkin banyak, tapi yang bisa diajak berteman hanya Nimas. Para gadis di kampus menganggapnya rival, iri dan cemburu padanya. Ale cantik, gadis menawan dan rupawan. Banyak yang hanya sekedar berteman karena harta dan pamornya. Banyak yang mengajaknya berteman namun sering membicarakan keburukan di belakangnya. Ale benci itu. Sedangkan para pria hanya menganggapnya mainan. Barang taruhan. Ale dijadikan standar setiap pria. Siapapun yang berhasil memacari atau bahkan dekat dengannya akan dianggap ganteng dan terbukti punya pesona lebih. Tentu saja, Ale yang secantik malaikat tidak mungkin berpacaran dengan pria miskin dan jelek bukan? Namun stigma tentang dirinya terus muncul dan berkembang. Akarnya kuat dan sekarang rindang hingga membuat Ale semakin gentar. Memasang tembok tinggi bagi siapapun yang ingin mendekatinya. Ya tentu saja sebelum mengenal Raden. Semua set dan whislist-nya hancur berantakan karena Raden. "Dia mutusin gue! Padahal kemarin hari jadi kita yang kedua bulan! Gue marah! Gue tampar dia! Berani-beraninya dia nipu gue? And what? Gue jadi selingkuhan?" Nimas berapi-api. Menyuarakan kekecewaannya. "Kalian pernah ngedate sebelumnya?" "Belum! Semalam pertama kalinya kita meet. Dan dia langsung ngomong gitu!" Ale tersenyum. Terbercik ide jahil. "Mungkin dia bohong kali. Aslinya mah dia nggak punya pacar, cuma karena lo ternyata nggak sesuai ekspektasi dia makanya dia bohong biar punya alasan kuat buat mutusin lo." Nimas menatapnya datar. "Lo pikir aja mana ada cowok yang nolak cewek secakep dan seperfect gue? Mana ada?" Nimas mengibaskan rambutnya bak model shampoo. Ale terbahak. "Banyak! Buktinya mantan-mantan lo pada minta putus pas abis ketemu!" Seakan jatuh tertimpa tangga dan tertusuk belati. Itulah sakit yang diarasakan Nimas saat ini. Wanita sarkas yang berlindung di balik nama sahabat ini punya kata-kata setajam pisau untuk menikamnya tepat di jantung. Nimas tak bisa menahan lagi. Tangannya bergerak menjambak rambut bergelombang milik Ale. Membuatnya menjerit ngilu. "Apa lo bilang? Enak aja ngomong gitu?! Gue nggak bakal jadi selebgram kalau gue nggak cantik ogeb! Hah?!" "Aaakhh... Sakit b**o, lepasin nggak?!" Akhirnya pertengkaran pun terjadi. Toples yang ia timang-timang tergeletak, isinya dijadikan bahan untuk melempar. Layar laptop yang menampilkan adegan baku tembak tak lagi menarik. Pertarungan sesungguhnya terjadi di sini. Mereka saling berteriak dan beradu kamus bahasa makian. Tentu saja Nimas lebih fasih dengan bahasa jawanya. "j****k! Sakit banget, a*u!" Kemudian beralih dengan Ale yang melempar bantal beludrunya. "Dasar kampang! Nggak tau terima kasih!" Kamar aesthetic kini berubah menjadi blok arena pertempuran. Senjata-senjata berupa guling dan bantal yang telah dimodifikasi menjadi senjata mematikan. Keduanya masih saling baku tembak hingga Nimas yang kelelahan menyerukan dekrit gencatan senjata. Namun pihak petahana tidak terima, menolak dengan tegas gencatan senjata tersebut. Ale mengacungkan senapan berwajah panda pucat ke angkasa. Meriam mulai mengepulkan asap berupa bulu-bulu angsa yang berterbangan. Sebelum peluru menyasar di jantung Nimas, padahal target sudah terkunci dan menyerahkan diri. Knop pintu bergerak dan seseorang yang membuka pintu menjadi dalang dibaliknya kedua jendral perang mengalami serangan jantung dan membatu di tempat. Malik memandang jengah keduanya. *** Keduanya duduk berlutut dengan tangan di atas paha. Mata mereka tak berani mendongak, hanya mampu memandangi karpet beludru. Saling membatin dan menyalahkan satu sama lain karena kondisi kamar yang kini betulan mirip Medan perang. Rambut keduanya berantakan. Memberengut satu sama lain. Sementara Silas duduk di ranjang dengan tangan bertumpu di paha. Rahangnya mengetat tanda betapa serius keadaan mereka saat ini. Seakan menjadi raja yang tengah menimbang apa hukuman yang lebih kejam daripada eksekusi mati untuk kedua terpidana yang kini berlutut. "Umur kalian berapa?" Ale dan Nimas saling lirik. Kemudian Nimas memberikan tanda bahwa seharusnya Ale yang menjawab. Sebagai adik, dia seharusnya punya semacam kekebalan hukum bukan? "Ale dua puluh, Nimas dua puluh satu." Gadis itu mencicit pelan. Tak berani menatap mata elang sang kakak. "Artinya kalian berdua udah bukan anak kecil lagi, kan? Aku bingung, kalian udah kepala dua. Harusnya lebih bertanggung jawab paling nggak buat diri kalian sendiri. Sekarang bukannya persiapan buat judul skripsi kalian malah main begini? Menurut kalian ini bermanfaat nggak?" Nimas menghela napas. "Enggak kak." "Aku nggak dengar." Keduanya membusungkan d**a. Menyahut berbarengan. "Siap, tidak!" Malik mengusap kerutan di dahinya. Bisa-bisa ia jatuh pingsan jika terus di sini dan menghadapi kedua mutan ini. "Beresin semuanya. Jangan ada yang istirahat sebelum selesai. Paham?" "Siap, paham!" Kemudian Malik menggeleng dan melangkah pergi. Membiarkan kedua gadis tersebut tergeletak tak berdaya. Memukul lututnya yang bergetar ketakutan. "Kok bisa lo punya Abang bentukan iblis gitu?" Ale mengangguk. "Dua puluh empat jam seminggu. Dia kaya gitu, gimana gue nggak mati muda?" Nimas menepuk pundaknya. Menyalurkan energi. "Gue tau lo pasti bisa! Ayo semangat!" Keduanya terbahak bersama. Melupakan pertengkaran hebat mereka beberapa menit lalu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN