5. Vice Versa

1081 Kata
Jika ditanya tentang keuntungan menjadi adik tiri seorang Malik Askara tentu saja dengan lantang Ale berkata banyak. Namun bukan keseimbangan hidup namanya jika keuntungan itu tidak diikuti dengan segala macam malapetaka. Seperti dua sisi mata koin. Yang satu adalah keberuntungan dan lainnya tak lain tak bukan hanyalah kesialan. Banyak sekali keuntungan. Jika diurutkan yang pertama pastilah karena Malik terlahir rupawan. Bayangkan dengan tampang bak personil boy band Amerika dengan tubuh tegap dan d**a bidang, siapa yang tidak akan tertarik? Hal itu menguntungkannya dalam berbagai aspek. Sifat pemarahnya itu bisa sekejap hilang tertutupi visualnya, jika tidak bayangkan dengan wajah dibawah rata-rata, tubuh dengan lemak berlebihan, tidak pandai olahraga dan suka mendikte orang lain? Ale tidak akan tahan dan memilih minggat dengan rok terangkat. Yang kedua karena Malik kompeten. Di usia semuda itu hampir mustahil Malik mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai Presdir perusahaan kapal kontainer besar. Meski tidak dapat dipungkiri semua itu karena unsur terpaksa. Bukan berarti Malik sepenuhnya sempurna, berbagai rintangan dan kegagalan proyek pernah dihadapinya. Satu, dua penipu tender juga pernah membawa kabur uangnya bermiliar-miliar jumlahnya. Namun Malik tumbuh dari kegagalan, dia belajar dari kesalahan-kesalahan itu hingga membuatnya semakin lebih baik. Sampailah ia di titik sekarang. Incaran para gadis dan ibu-ibu yang hendak mencari menantu. Yang ketiga adalah Malik Askara hanya ada satu di dunia ini. Satu dari milyaran penduduk bumi. Meskipun sifatnya diktaktor dan tiran, ia akan selalu menjadi kakak terbaik yang Ale punya. Ia menjadi benteng terakhir dan menjadi lengan yang akan memeluknya kapan saja. Menegarkan hati dan pikirannya. Ale tidak akan menukar pria ini dengan siapapun. Lupakan sebentar. Kali ini ia tengah berada di lobi agensi modelnya. Duduk membaca majalah dengan cover wajahnya, tepatnya mereka menjual kecantikan Ale dengan topeng "model". Ale tidak ambil pusing atau keberatan, toh ia menyukai pekerjaannya. Sementara jemari lentiknya membalik halaman demi halaman, Nimas tampak asik menghabiskan sekaleng minuman soda. Bersendawa ketika tegukan terakhir berhasil ia telan. "Lama banget. Emang biasanya gini ya?" Nimas bertanya. Heran kenapa model papan atas dan wajah dari agensi ini harus menunggu selama ini untuk bertemu dengan direkturnya. Kenapa pula menyuruh mereka menunggu di lobi padahal mereka tahu dengan gamblang bahwa Ale juga bekerja di bawah naungan agensi ini? Ale hanya menggeleng. "Gue juga nggak tahu. Mungkin Mas Haikal lagi sibuk atau mungkin ada rapat." Haikal adalah direktur agensi ini. Usianya berada di pertengahan tiga puluhan. Wajahnya juga rupawan dan masih sering wara-wiri acara talkshow. Dirinya enggan dipanggil pak atau semacamnya. Lebih suka jika dipanggil Mas. "Hell! Tapi ini udah setengah jam lebih?! Mereka yang di resepsionis nggak tau apa ya kalau setengah dari bangunan ini dibangun pakai uang hasil kerja lo?" Nimas bukannya sok atau pamer. Tapi kenyataannya memang begitu. Ale bergabung dengan agensi ini ketika mereka masih menyewa apartemen satu lantai kecil dengan tiga orang pegawai. Hanya ia dan Haikal yang menjadi model dan merintis sayap perusahaan. Barulah ketika Ale dan Haikal semakin tenar dan banyak panggilan job, agensi ini mulai menata bata menjadi bangunan lima tingkat. Sebagian lantai ini memang dibangun dari keringatnya berpose di depan kamera. "Udahlah biarin." Meski sedikit kesal Ale tak ambil pusing. Kemudian seorang pegawai yang Ale kenal bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan Haikal menghampiri mereka. Berkata bahwa rapat Haikal telah selesai dan pria itu menunggu di ruangannya. "Tuh, kan dia ada rapat! Makanya jangan berpikiran negatif!" Ale berkata demikian ketika lift bergerak menuju lantai teratas. "Hehe, iya deh anak kesayangan bos!" Ketika pintu lift terbuka, sosok gadis dengan tubuh proposional menunggu di depan pintu. Wajahnya sangat tidak asing, terlebih ketika ia dengan kikuk menghindari tatapan Ale. Seakan ia mengenal Ale dan mereka berhubungan. Ale mengabaikannya hingga wanita itu hilang ditelan lift. Kepalanya meneleng sambil mengingat, lalu kilasan masa lalu terputar di kepalanya. Ah, iya. Dia ingat sekarang. Wanita itu bernama Raisa, sekertaris Malik. Ale tahu karena beberapa kali berkunjung ke perusahaan, wanita itu terus berada di sisi Malik dan memperkenalkan diri sebagai sekertaris. Mulanya Ale curiga, pasti ada suatu hubungan rahasia. Keduanya berwajah rupawan meski sama-sama membosankan. Tapi mereka cocok. Tapi Malik menyangkal dengan keras, katanya dia tidak tertarik dengan hubungan semacam itu. Namun kemudian yang menjadi titik permasalahan adalah, kenapa gadis super sibuk sepertinya berada di tempat ini? Kenapa ia berada di agensinya? Terlebih sepertinya ia baru saja menemui Haikal? Ale sudah merasakan firasat buruk, terbukti dari bulunya yang meremang. Apapun itu ia akan memikirkannya sepulang dari sini. Fokusnya kali ini adalah meminta job tambahan pada Haikal, harinya jadi membosankan dan hanya pemotretan yang akan membuat harinya menjadi lebih baik. Ketika daun pintu terbuka lebar, pemandangan pertama yang di lihatnya adalah punggung Haikal yang memunggungi mereka. Dinding kaca yang transparan membuat pemandangan kota terlihat dari dalam sini. Keramaian dan padatnya kendaraan yang merayap di jalan raya, pedagang kaki lima hingga toko fotokopian langganannya ketika lupa dan harus segera menge-print tugas article. Rupanya ia tengah dalam suasana hati ceria. Senyumnya tak luntur dan terlihat begitu lebar ketika menyadari kehadirannya. Tangan kirinya bersembunyi di saku celana sementara yang lain menggoyangkan secawan Vodka di tangan. Menyeruputnya pelan sebelum menyapa. "Hai, Ale? Apa kabar? Udah hampir seminggu lo nggak kelihatan." Haikal mengarahkan keduanya untuk duduk di sofa. Memerintahkan wanita yang mengantar mereka untuk meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Ale sudah terbiasa, ruangan ini bagaikan teman lama. Namun Nimas tidak, ia masih memandangi jajaran anggur yang tertata di rak yang menempel di dinding. Berbagai macam minuman beralkohol dengan beda merk yang pastinya mahal itu membuatnya menelan ludah. "Ya. Nggak ada perubahan, masih gini-gini aja semenjak kontrak gue tiba-tiba dibatalin." Ale mendelik sebal. Terkait pemilihan katanya memang sudah benar. Hanya dia yang berani menggunakan lo-gue ketika bercakap dengan Haikal di agensi ini. Haikal pun demikian, lebih suka ketika Ale bersikap seperti teman lama. Kontrak itu tidak akan batal begitu saja kalau Haikal tidak ikut andil. Ia pasti ditawari uang berlebih agar kontraknya batal. Mengingat arti kerja sama mereka bertahun-tahun dan Haikal lebih memilih uang daripada dirinya membuat Ale kesal. Hanya sampai sini perjuangan mereka. "Oh, soal itu." Haikal menimang sebentar. "Sorry, baby. Uang yang ditawarin kakak Lo lebih dari cukup buat kontrak iklan lo tiga bulan. Tapi bukannya ini vice versa ya? Malah lebih untung di lo. Gaji tetap sama sementara Lo nggak perlu kerja?" Ale membuang wajah. "Vice versa? Itu ibarat gue dikasih uang saku asal gue nurut, bukan gaji!" Haikal malah terbahak. Kini Nimas ikutan mengernyit, rupanya alkohol telah membuat pria itu agak sinting pikirnya. "And then just obey him. You can rules the world if want to." Kali ini tanpa tawa atau terselip canda. Haikal berkata serius, memberinya nasihat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN