pertemuan kedua dengan Harry

988 Kata
Rossie yang saat itu duduk di dalam taksi segera menatap ke layar ponselnya begitu ponsel itu bergetar, sebuah senyum manis terukir di wajah Rossie saat membaca notifikasih di ponselnya itu yang menunjukan bahwa ia baru saja menerima transferan uang sebesar 20 juta dari Kevin, Rossie meletakan ponselnya ke dalam tasnya lalu menatap sang supir taksi. "Pak antarkan aku ke toko tukang jahit yang ada di area teras caffe yah." pinta Rossie dan supir itu mengangguk. Hanya butuh waktu 30 menit untuk taksi yang di tumpangi Rossie tiba di toko jahit yang di maksud. Setelah membayar ongkos taksi Rossie segera keluar dari dalam taksi dan alangkah terkejutnya Rossie mendapati toko tukang jahit paruh baya itu cukup ramain. Rossie melangkah pelan memasuki area dalam toko "Permisi," ucap Rossie mencuri perhatian lelaki tua pemilik toko. "Nona," sapa lelaki tuan bernama Ahn itu. "Duduk dulu Nona, saya menyelesaikan ini dulu." ucap Tuan Ahn seraya menatap kearah dua orang yang berbaris di depannya sementara Rossie mengangguk untuk mengiyakan sembari tersenyum. Di luar toko terlihat Harry berjalan hendak memasuki toko namun langkah Harry terhenti ketika mendapati sosok Rossie duduk di salah satu kuris yang ada di dalam toko, alih-alih masuk Harry justru memilih berdiri diam di samping pintu toko. Setelah melayani pelanggannya Tuan Ahn segera menghampiri Rossie seraya membawa segelas jus jeruk. "Minumlah Nak." tawar Tuan Anh dengan senyum ramah. "Terimakasih." Sahut Rossie Tuan Ahn menatap Rossie dengan pandangan haru dan bersyukur "Terimakasih Nak." Ucap Tuan Ahn "Terimakasih untuk apa?" Tanya Rossie bingung "Berkat promosi mu toko jahitku menjadi ramai, banyak pelanggan yang datang karena melihat postingan tentang toko jahitku di media sosial." Jelas Tuan Ahn membuat Rossie semakin bingung karena Rossie memang mempromosikan toko jahit Tuan Ahn pada teman-temannya tapi tidak di media sosial. "Apa mungkin salah satu temanku yang mempromosikanya di media sosial?" pikir Rossie. "Terlepas dari itu syukurlah jika toko jahit Kakek jadi lancar." Ucap Rossie Rossie mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan foto gaun pengantin kearah Tuan Ahn "Aku ingin Kakek menjahit gaun pengantinku dan ini contoh gaunnya." Ucap Rossie membuat Tuan Ahn menatap gaun yang diperlihatkan Rossie padanya. "Apa Kakek bisa?" Tanya Rossie Kakek itu terdiam, ia sesekali memperbesar foto gaun itu baik bagian atas, bawah bagian kiri dan kanan sebelum kemudian mengangguk "Aku bisa." Jawab Tuan Ahn membuat Rossie tersenyum senang. "Berapa biayanya?" Tanya Rossie "Tidak perlu, untukmu gratis." Jawab Tuan Ahn membuat Rossie menyerengit tak suka. "Aku tidak akan menjahit disini jika anda memberikanku gratis." Balas Rossie membuat Tuan Ahn panik. "Tapi kau sudah banyak membantu tokoku Nak, oleh karena itu aku memberikan untukmu gratis itung-itung sebagai ucapan terimakasih ku." Sahut Tuan Ahn bersih kuku "Yeah sudah aku menjahit di tempat lain saja." Rossie berucap seraya beranjak berdiri segera Tuan Ahn meraih pergelangan tangan Rossie. "Baiklah, jangan pergi." Pinta Tuan Ahn membuat Rossie tersenyum sementara Harry masih diam di posisinya sembari mengamati Rossie. "Nah gitu dong." Seru Rossie. Harry menyerengit ketika ia betul-betul mengamati wajah Rossie "Wajah gadis ini sangat tidak asing, aku seperti perna bertemu dengannya, dan wajahnya betul-betul tidak asing bagiku. Tapi dimana aku perna melihatnya sebelumnya?" pikir Harry melamun tanpa ia sadari bahwa Rossie dan Tuan Ahn sudah berdiri di hadapannya menatap kearahnya dan alangkah terkejutnya Harry saat ia tersadar dari lamunannya ia langsung mendapati Rossie dan Tuan Ahn sudah berdiri berjarak 1 meter dari hadapannya. "Kenapa tidak masuk Tuan Harry?" tanya Tuan Ahn. "Ini aku akan masuk." Harry menjawab kikuk merasa malu di perhatikan oleh Tuan Ahn dan Rossie. Harry melangkah masuk lalu duduk di salah satu kursi sementara Rossie dan Tuan Ahn kini sedang berdiri tak jauh dari tempat Harry berada. "Jadi berapa aku harus membayarmu, Kek?" tanya Rossie. Tuan Ahn lama berpikir lalu berucap "5 juta saja." jawab Tuan Ahn "Lalu berapa aku harus membayar untuk biaya bahan-bahanya?" Tanya Rossie kembali. "Tidak ada Nak, 5 juta itu sudah keseluruhan harganya." Balas Tuan Ahn. "Jangan bercanda Kek, 5 juta mana cukup untuk bahannya saja. Begini saja aku tambah 7 juta lagi untuk bahanya. bagimana? tapi kalau Kakek tak terima aku akan mejahit di tempat lain saja." ancam Rossie yang membuat mau tak mau Tuan Ahn langsung menyetujui permintaan Rossie. "iya, baiklah." Sahut Tuan Ahn Rossie menatap kode QR yang terletak di meja kasir "Apa kode QR itu tempat membayarnya kalau tidak membawa uang cash?" Tanya Rossie dan Tuan Ahn mengangguk. Tuan Ahn menghampiri Harry "Tunggu sebentar Tuan Harry, saya akan mengambil uangnya dulu." ucap Tuan Ahn kearah Harry dan Harry hanya mengangguk pelan setelahnya Tuan Ahn berlalu masuk kearah semakin dalam yang ada di tokonya meninggalkan Harry dan Rossie yang saat itu masih sibuk mengurus pembayarannya. Setelah berhasil mentransfer uang pembayaran Rossie kini berjalan mendekati Harry. Harry hanya diam menatap Rossie berdiri di depannya lalu menyerahkan paper bag berisi jaket kulit milik Harry kearah Harry "Terimakasih." Ucap Rossie ketus kearah Harry karena biar bagaimanapun Rossie masih belum melupakan perlakuan kasar Harry pada Tuan Ahn di hari pertama mereka bertemu. Harry berdiri meraih paper bag yang diberikan Rossie padanya, pandangan Harry pada Rossie tak terputus, Harry masih terus memandangi Rossie sembari berpikir kira-kira dimana dia bertemu dengan Rossie sebelumnya sampai wajah gadis itu sangat familiar. "Apa kita perna bertemu sebelumnya?" tanya Harry membuat Rossie menganga takjub akan pertanyaan Harry. "Memang kita perna bertemu sebelumnya oleh sebab itu jaket kulitmu ada padaku, apa kau lupa kita perna bertemu sebelumnya 2 minggu lalu di depan toko jahit ini." Jawab Rossie "Tidak, maskudku apa kita perna bertemu sebelumnya jauh sebelum kita bertemu di depan toko jahit ini 2 minggu lalu." "Tidak, kita tidak perna bertemu sebelum itu." Ucap Rossie ketus sebelum perhatian keduanya dicuri oleh kehadiran Tuan Ahn. Rossie segera berlari kearah Tuan Ahn lalu menunjukan bukti pembayaranya pada Tuan Ahn sambil berkata "Aku sudah mentranfer uangnya Kek." Tuan Ahn mengangguk setelah melihat bukti transfer yang di tunjukan Rossie. "kalau begitu aku permisi dulu Kek, besok aku akan kembali untuk datang mengukur." ucap Rossie kemudian berlalu meninggalkan toko jahit mengabaikan tatapan tajam Harry yang tak putus memandangnya. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN