harga gaun pengantin

537 Kata
Rossie terus berusaha menelpon dan mengirimi Kevin pesan singkat namun lelaki itu hanya membaca pesan yang dikirim Rossie tanpa ada niatan untuk membalasanya, sementara Kevin kini sedang berada di butik membantu Bianca memilih gaun pengantin. "Sayang, aku suka yang ini." ucap Bianca kearah Kevin sembari menunjukan gaun pengantin indah dengan manik-manik yang melingkar dibagian leher dan d**a. "Ambil sayang." Balas Kevin membuat Bianca tersenyum sebelum senyum itu sirna saat ia melihat lebel harga di bagian belakang gaun. Dengan langkah berat Bianca menghampiri Kevin lalu menunjukan label harga itu "Ini sangat mahal, hargnya sampai 3 digit." Bisik Bianca merasa malu jika percapakannya dan Kevin di dengar oleh pelayan butik. Kevin tersenyum lalu membalas "Kenapa kau menahan diri sayang, jika kau suka ambil tidak perduli mahal atau tidaknya, ingat uang yang ada padaku adalah uangmu." Ucap Kevin membuat Bianca bersorak senang dan langsung memeluk Kevin erat. "Terimakasih," ucap Bianca seraya bergegas menghampiri pelayan toko bahwa ia akan membeli gaun yang ada di tangannya. Kevin tersenyum kearah Bianca yang kini sedang mencoba gaun pilihannya itu dan bersamaan dengan itu ponsel Kevin kembali berdering di layar tertera nama Rossie karena merasa sedikit kasihan akhirnya Kevin menjawab panggilan telpon dari Rossie. "Syukurlah, terimakasih telah menjawab panggilan telponku." Suara Rossie terdengar begitu lega "Sayang maafkan aku, aku bukan bermaksud menuduhmu, aku hanya tak ingin kau meminjam begitu banyak untuk keperluan yang tidak penting," jelas Rossie panjang lebar "Ku mohon maafkan aku." Pinta Rossie dengan nada memelas. "Baiklah aku akan memaafkanmu. Dan maafkan aku juga telah meninggalkanmu begitu saja tadi." Balas Kevin membuat Rossie tersenyum senang. "Oh iya, aku sudah menyewa aula untuk acara pernikahan kita di Loam Hotel nanti akan ku kirimkan video..." Ucapan Kevin terhenti saat Rossie menyerobot "Tak perlu kirimkan videonya padaku sayang, aku tahu Loam Hotel dan perna melihat aulanya di pernikahan anak bossku dulu." Sambar Rossie masih sambil tersenyum tanpa ia sadari Kevin menipunya. "Oh iya sayang, berapa biaya yang kau butuhkan untuk gaun pengantin, aku akan mengirimkannya untukmu. Maaf keliatanya aku tidak bisa menemanimu karena aku harus pulang ke kampung untuk membagikan undangan pada keluarga, teman sekolah, serta teman kuliahku dulu, untuk teman kantorku aku sudah membagikannya tadi." Ucap Kevin membuat Rossie berpikir sejenak. "ku rasa aku membutuhkan kurang lebih sebesar 35 juta." Jawab Rossie, mata Kevin spontan melotot dengan nominal harga yang di patok Rossie. "Tidakah kau berpikir itu terlalu boros untuk pembelian gaun yang hanya akan kau pakai sekali seumur hidupmu, sayang." Keluh Kevin dan Rossie berpikir bahwa apa yang diucapkan Kevin benar. "Begini saja, aku akan memberikan uang sebanyak 20 juta untuk gaun, apa kau setuju?" Tanya Kevin dengan cepat Rossie mengangguk menyetujui usulan dari Kevin itu. "Oh iya sayang, undangan pernikahan kita sudah selsai di cetak, kira-kira berapa undangan yang kau butuhkan untuk kau bagikan pada semua kolega mu?" Tanya Kevin. "Aku tidak memiliki keluarga Kevin, kau tahu sendiri aku hanya sebatang kara sejak kematian Nenek 2 tahun lalu," jawab Rossie dengan raut wajah sedih. "Lalu kira-kira berapa kau butuhkan undangannya, agar aku dapat meminta kurir untuk mengantarkannya padamu." "ku rasa 25 undangan cukup untuk teman kerjaku dan beberapa teman kuliah ku yang masih kontak denganku." jawab Rossie. "Baiklah sayang aku akan mengirimkan undanganya via kurir nanti." balas Kevin dan panggilan telponpun berakhir. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN