Rossi dan Monica kini berdiri di hadapan Bianca bersiap untuk pergi namun sebelum benar-benar pergi Rossie memastikan sekali lagi untuk bertanya pada Bianca "Apa benar kau tidak ingin ikut, Bianca?" Dengan penuh semangat Bianca menganggukan kepalanya.
"Kalian pergilah, aku juga sangat lelah jadi mau langsung istirahat." Ucap Bianca menolak alhasil Rossie dan Monicapun langsung pergi meninggalkan Bianca di rumah.
Setelah menutup pintu rumah dan memastikan Monica dan Rossie masuk dalam mobil, Bianca bergegas berlari ke kamar milik Rossie tujuan utamanya adalah berangkas yang ada di lemari.
Bianca berlari kecil, masuk dalam kamar milik Rossie membuka pintu lemari lalu duduk berjongkok di depan brangkas setinggi 1 meter yang ada di hadapannya.
Bianca menarik nafas lalu berusaha memasukan kata sandi berangkas dan yah percobaan pertama gagal "Bukan tanggal lahirnya, apa mungkin tanggal lahir Kevin?" Pikir Bianca dengan tangan yang bergerak cepat memasukan kata sandi dan gagal lagi membuat Bianca sedikit kesal.
"Bukan juga, bagaimana mungkin bukanya selama ini dia sangat bucin dengan Kevin? Jika bukan tanggal lahirnya dan tanggal lahir Kevin apa mungkin tanggal lahir Neneknya?" Gumam Bianca mulai berpikir keras.
"Aaahhgg!.. Bianca mengerang kesal aku tidak tahu tanggal lahir Nenek gadis bodoh itu." Bianca sedikit mengumpat.
"Kevin, dia pasti tau." Bianca berlari kearah kamarnya mengambil ponselnya yang ada di kamarnya lalu segera menelpon Kevin.
Sementara itu Rossie dan Monica yang ada dalam mobil asik berbincang sampai akhirnya perhatian keduanya dicuri oleh dering ponsel milik Monica.
"Atasanku?" Gumam Monica bingung "Tumben dia menelpon malam-malam begini." Ucapnya lalu menepihkan mobilnya dan menjawab panggilan telponnya.
Dari percakapan yang berlangsung selama 3 menit itu Rossie dapat menangkap bahwa Monica di suruh ke Bandara untuk menjemput klien perusahaan mereka saat itu juga.
"Baik Pak, aku akan meluncur sekarang." Balas Monica lalu mengakhiri sambungan telponnya.
Monica menatap Rossie dengan pandangan penuh penyesalan "Ku kira kita tidak bisa pergi ke teras caffe malam ini Rossie, maaf padahal aku yang memaksa untuk pergi." Ucap Monica dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa Monica santai saja masih ada lain kali." Balas Rossie membuat Monica tersenyum lalu memutar balik mobilnya untuk mengantar Rossie pulang ke rumah.
Di rumah saat ini Bianca sedang menelpon Kevin terlihat gelisah dan tak sabaran.
"Hallo Kevin?" Serobot Bianca saat Kevin menjawab panggilan telponnya.
"Iya sayang, kau lagi apa?" Tanya Kevin
"Aku sedang sibuk dan kau cukup jawab saja pertanyaanku. Apa kau tahu tanggal lahir dari Neneknya Rossie?"
Kevin terdiam berusaha mengingat-ingat lalu menjawab "Hm, aku mengingatnya kenapa?"
"Tak perlu bertanya cepat kasih tahu aku." Titah Bianca.
"Tanggal 17 agustus 1947." Jawab Kevin
"Terimakasih," Bianca langsung mengakhiri panggilan telponnya tanpa ia ketahui saat ini Rossie sudah tiba di depan gerbang rumahnya.
Bianca berlari kearah kamar milik Rossie duduk berjongkok di depan brangkas bergegas memasukan kata sandi dan yeap berhasil Bianca refleks bersorak akan keberhasilannya itu.
Saat tangan Bianca bergerak hendak membuka brangkas tangan Bianca terhenti ketika ia mendengar suara pintu dibuka bergegas ia menutup pintu lemari lalu mengambil sebuah tas milik Rossie yang ada di dalam lemari kemudian melangkah keluar dari kamar.
"Bianca?" Panggil Rossie yang sudah berada di depan kamarnya mereka bahkan nyaris bertubrukan.
Rossie menatap bingung kearah Bianca "Apa yang kau lakukan di kamarku?" Tanya Rossie
"Ah!" Bianca berseru lalu memperlihatkan tas yang di ambilnya di lemari milik Rossie "Aku ingin meminjam tasmu yang ini, maaf lancang mengambil sendiri." Jawab Bianca dengan nada yang tenang.
"Baiklah," sahut Rossie membuat Bianca tersenyum ia tahu Rossie tidak akan mempermasalahkan kelancangannya masuk kamar tanpa izin.
Saat Bianca berjalan menuju kamarnya tiba-tiba suara panggilan dari Rossie membuat langkahnya terhenti.
"Bianca?"
"Iya, Rossie?" Ucap Bianca sambil menoleh menatap kearah Rossie, Bianca masih setia memasang senyuman manis di wajahnya.
"Lain kali jangan masuk kamarku sembarangan," ucap Rossie dengan nada sedikit berat dan ada kekecewaan disana, mendengar ucapan itu senyum di wajah Bianca langsung lenyap.
"Jika memang ada barang yang ingin kau pinjam kau bisa izin padaku dulu, jika memang aku tidak ada di rumah kau bisa menelponku atau mengirimi ku pesan singkat untuk meminta izin." Ucap Rossie membuat Bianca tampak kesal.
"Maaf Rossie aku tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Bianca.
"HM! Baiklah." Balas Rossie lalu melangkah menuju kamarnya.
"Tapi Rossie..." ucapan Bianca membuat Rossie menghentikan gerakannya untuk menutup pintu kamar dan segera menatap kearah Bianca.
"Aku tahu tindakanku tidak sopan masuk ke kamarmu tanpa izin, tapi menurutku responmu sangat berlebihan. Aku tahu aku miskin jadi kau mencurigaiku akan mencuri jika masuk kamarmu tanpa izin oleh karena itulah responmu begitu kejam padaku." Ucap Bianca membuat Rossie menganga takjum seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Bukan seperti itu maksudku Bianca, aku hanya..."
"Lalu apa jika bukan seperti itu maksudmu? Kau sangat marah ketika aku masuk kamarmu tanpa izin itu tandanya kau kahwatir aku akan mencuri bukan?!" Pekik Bianca sembari menangis membuat Rossie merasa menyesal akan tindakannya.
"Hanya karena masuk dalam kamarmu kau membentakku." Tutur Bianca lalu ia membuang tas yang di pinjamnya kearah Rossie hingga tas itu mendarat tepat di depan kaki Rossie "Ambilah, aku tidak jadi meminjamnya."
"Kenapa responmu jadi berlebihan seperti ini Bianca? Memangnya sejak kapan aku mencurigaimu? Aku tidak menuduhmu hanya saja aku memperingatimu jangan masuk kamarku tanpa izin aku berkata seperti itu bukan karena aku menuduhmu ingin mencuri atau apa tapi aku lebih memprotes etika dan sopan santunmu." Balas Rossie membuat Bianca terdiam dan tak dapat berkilah lagi lalu memilih masuk kamarnya.
Bianca mengerang kesal dalam kamar, ia bahkan menghentakan kakinya begitu kuat ke lantai "Sialan!" Umpatnya nyaris memekik.
"Kejadian hari ini akan aku ingat seumur hidupku, Rossie. Lihat saja tunggu saat Kevin atau aku mendapatkan sertifikat rumahmu. Aku adalah orang yang paling keras akan menertawakan kebodohanmu." Pikir Bianca.
***
Bianca berdiri di depan pintu kamarnya, ia mengintip biasanya jam 7 pagi Rossie sudah bersiap meninggalkan kamarnya dan terang saja saat membuka pintu kamarnya untuk mengintip Bianca sudah melihat Rossie keluar dari dalam kamarnya berlalu untuk pergi kerja.
"Pergilah kau. Hari ini aku akan mendapatkan sertifikat rumah ini." Gumam Bianca yang masih belum menyerah ingin mencuri sertifikat rumah Rossie.
Bianca mengintip melalui jendela dan yeah Rossie sudah berjalan jauh meninggalkan rumahnya, menyadari itu bergegas Bianca keluar kamarnya dan menuju kamar Rossie, ia sudah dapat membayangkan hari ini ia akan mendapatkan sertifikat itu dan saat ia membuka pintu kekecewaan kembali tergambar di wajah Bianca karena Rossie ternyata telah menutup pintu kamarnya.
"Sialan!" Teriak Bianca kesal ia bahkan menendang pintu itu cukup keras "Sejak kapan ia mulai mengunci pintu kamarnya." Pikirnya.
Bianca mencak mencak di depan pintu kamar melampiaskan kekesalannya sebelum ia menarik nafas dalam lalu di hembuskan berusaha menenangkan diri.
"Baiklah Rossie kali ini aku gagal, tapi aku punya satu cara untuk mendapatkan sertifikat itu kali ini aku tidak akan mencuri sertifikat itu tapi akan ku pastikan kau sendiri yang akan menyerahkan sertifikat itu pada Kevin, tunggulah dan ku pastikan kali ini tidak akan gagal." Gumam Bianca
Bersambung!..