Rossie yang saat ini baru pulang kerja kini duduk terdiam di dalam bis, ia menatap layar ponselnya sejak kejadian semalam di teras caffe Kevin sama sekali tidak mengabarinya baik dalam bentuk chatt ataupun telpon.
"Apa dia benar-benar marah?" Pikir Rossie "Chatt ku bahkan tidak di balas telpon tidak di jawab." Gumamnya seraya menyandarkan kepalanya yang terasa berat di jendela bis.
Setelah menempuh kurang lebih 40 menit perjalanan akhirnya Rossie tiba di rumahnya, Rossie menatap sterowbery cake di tangannya lalu tersenyum "Semoga Bianca suka cakenya." Pikir Rossie namun ketika ia membuka pintu harum masakan yang menggugah selerah langsung menyapa indra penciumannya.
Bergegar Rossie menuju dapur, di dapur Rossie mendapati Bianca sedang sibuk bergelut dengan masakan.
"Bianca?" Panggil Rossie membuat Bianca segera menatap kearahnya.
Bianca menoleh kearah Rossie lalu tersenyum "Kau sudah pulang ternyata." Bianca berucap dengan nada suara ceria dan riang seakan tak perna terjadi keributan antara dia dan Rossie semalam.
Bianca berlari kearah Rossie menarik tangan Rossie lalu membawa Rossie kearah ruang makan "Duduklah, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Ucap Bianca.
Rossie hanya menuruti, ia mengikuti arahan Bianca lalu duduk disalah satu kursi yang ada di ruang makan berdekatan dengan dapur, sementara Bianca berjalan kearah dapur lalu kembali menghampiri Rossie sembari membawa sepiring spageti di tangannya.
"Makanlah, anggap ini sebagai bentuk permintaan maafku atas kejadian semalam, maaf aku lancang masuk tanpa izin ke kamarmu dan maaf aku marah padamu semalam." Ucap Bianca seraya meletakan piring spageti di atas meja yang ada di hadapan Rossie.
Rossie terharu akan tindakan Bianca, ia berdiri lalu memeluk Bianca "Aku juga minta maaf Bianca jika responku semalam sangat keterlaluan." Balas Rossie, Bianca hanya tersenyum licik sembari memandangi spageti yang ada diatas meja.
"Sebentar lagi kau akan merasakan akibat akan ulahmu Rossie." Pikir Bianca lalu melepas pelukan Rossie sambil berkata "Ayolah! Berhenti membuat suasana melo seperti ini, ayo kita makan aku khusus membuatkanmu spageti ini."
"Oh ayo!" Balas Rossie kemudian kembali terududuk di kursinya disusul oleh Bianca yang juga ikut duduk di kursi yang berada tepat di depan Rossie.
Bianca menatap tepat kearah Rossie saat gadis itu menyendok spagetinya, dari tatapan Bianca seolah-olah dia tak sabar melihat Rossie memakan spageti itu namun saat Rossie hendak memasukan spageti itu kearah mulutnya gerakan Rossie terhenti melihat itu Bianca nyaris memekik kesal.
"Aku hampir saja lupa," ucap Rossie meletakan garpu di tangannya sebelum tangan kananya terjulur kearah kotak berisi sterowberi cake yang di letakanya diatas kursi yang berada di samping kanannya.
"Aku membelikanmu cake, sebagai permintaan maafku." Ucap Rossie lalu menyerahkan cake itu pada Bianca.
"Terimakasih, sekarang makanlah spagetinya Rossie, kalau dingin nanti tidak enak."
Rossie segera mengangguk lalu mulai memakan spageti itu dengan lahap, suapan pertama Rossie memuji bahwa masakan Bianca sangat enak, suapan kedua tidak ada kejanggalan, suapan ketiga Rossie mulai merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya namun demi menghargai Bianca dia tetap memakan spageti itu, dan di suapan ke empat d**a Rossie mulai sesak, ia mulai kesulitan bernafas dan mulai batuk.
"Rossie, kau kenapa?" Teriak Bianca dengan nada seolah-olah khawatir padahal itu adalah ulahnya.
Rossie menatap Bianca "Apa kau menaruh nanas di saus spagetinya?" Tanya Rossie dengan nada terbatah.
"Iya, kenapa? Ada apa?" Tanya Bianca
"Aku alergi nanas." Gumam Rossie nyaris tak terdengar lalu kehilangan kesadarannya.
Melihat kondisi Rossie, Bianca segera membawa Rossie menuju rumah sakit karena bagaimanapun Rossie tidak boleh meninggal.
***
Kevin berlari terburu menuju ruangan rawat milik Rossie setelah menerima telpon dari Bianca, awalnya Kevin malas untuk datang ke rumah sakit namun Bianca memaksanya sampai akhirnya ia tidak punya pilihan selain datang ke rumah sakit.
Bianca yang menunggu di depan pintu ruang rawat milik Rossie segera melambaikan tangannya kearah Kevin begitu melihat sosok Kevin di kejauhan.
"Untuk apa kau memintaku datang kemari, Bianca? Memangnya kenapa jika dia sakit bukan urusanku juga." Ucap Kevin begitu tiba di depan Bianca.
"Dengarkan dulu, ini semua rencanaku, aku menyusun rencana ini dari semalam. Aku yakin jika rencana ini berhasil Rossie akan dengan senang hati memberikan sertifikar rumahnya padamu."
"Caranya?" Tanya Kevin.
"Kau harus merawat Rossie dengan baik, lakukan yang terbaik, tunjukan padanya bahwa jika bukan kau maka tidak ada yang akan merawat anak yatim piatu dan sebatang kara sepertinya. Aku yakin dia akan tersentuh dan akan memberikan sertifikat itu padamu karena ingin segera menikahimu." Penjelasan dari Bianca membuat Kevin mengangguk tanda mengerti.
"Tapi bagaimana jika rencana ini gagal?" Tanya Kevin mengambil kemungkinan terburuknya.
"Jika ini gagal kita bisa pikirkan rencana lain." Jawab Bianca "Sekarang masuklah, ingat kataku tadi rawat dia seolah-olah kau orang paling tulus padanya dan hanya kaulah yang dia miliki." Kevin mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kamar milik rawat Rossie.
Bersambung