rencana licik Bianca bagian 2

948 Kata
Kevin melangkah masuk dalam ruang rawat milik Rossie dan langsung mendapati Rossie tengah terduduk di atas tempat tidur dengan wajah pucat, tubuh lemas serta selang infus yang tertancap di tangannya. "Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Kevin, wajahnya dibuat sekhawatir mungkin. Kevin mengamati seluruh tubuh Rossie "Tidak ada yang sakit di bagian lain, bukan?" Tanya Kevin lagi dan Rossie hanya mengangguk pelan sembari tersenyum. "Terimakasih telah datang," ucap Rossie "Ku kira kau tidak akan datang karena masih marah denganku." Kevin segera memeluk Rossie membelai kepala Rossie lembut "Apa yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku tidak datang. Aku sangat mencintaimu Rossie dan sangat menyayangimu mendengarmu sakit setelah mendapat telpon dari Bianca aku segera terburu datang ke rumah sakit karena aku khawatir padamu sayang." Balas Kevin. "Kenapa bisa sampai sakit?" Tanya Kevin meski sebenarnya dia sudah tahu alasannya. "Aku tidak sengaja makan nanas tadi." Jawab Rossie. "Nanas?" Pekik Kevin "Kenapa bisa tidak sengaja makan nanas? Bukankah kau tahu kau alergi nanas lalu kenapa bisa sampai tidak sengaja kemakan?" Bentak Kevin seolah-olah ia sangat marah akan kecerobohan Rossie. "Itu semua salahku, Kevin." Bianca yang dari tadi menunggu moment di depan pintu ruang rawat milik Rossie kini memulai perannya. Bianca melangkah masuk ke dalam ruangan setelah beberapa detik berdiri di ambang pintu, ia berjalan mendekati tempat tidur milik Rossie, mata Bianca sangat sembab bahkan wajahnya terlihat lusuh yang menandakan bahwa ia betul-betul khawatir pada kondisi Rossie. "Tadi aku memasak spageti untuk Rossie tapi aku lupa Rossie alergi nanas jadi..." "Apa kau bodoh!..." pekik Kevin mulai menjalankan sandiwaranya bersama Bianca "Lagi pula sejak kapan masak spageti menggunakan nanas?" Bentak Kevin lagi kearah Bianca membuat Rossie segera meraih pergelangan tangan Kevin meminta Kevin untuk tenang. "Maaf, aku menggunakan nanas sebagai pengganti dari tomat dan manis dari nanas bisa ku gunakan sebagai pengganti gula jadi aku memasukan nanas yang telah di blender ke dalam saus spagetinya, tapi sungguh aku hanya menaruhnya sedikit tidak ku sangka akan jadi seperti ini." Bianca terisak sembari merutuki dirinya sendiri membuat Rossie merasa iba. "Sudah Bianca jangan menyalahkan dirimu sendiri, lagi pula kau tidak sengaja." Ucap Rossie membuat Bianca segera memeluk Rossie. "Maafkan aku Rossie, maafkan aku." Bianca berkata dengan nada yang lirih melihat aksi Bianca, Kevin nyaris tertawa namun ia dapat mengontrolnya. "Aktingmu sangat luar biasa Bianca," pikir Kevin. "Apa kau sudah makan?" Tanya Kevin kearah Rossie membuat Rossie segera melepas pelukan Bianca. "Adakah yang ingin kau makan sayang?" Tanya Kevin lagi membuat Rossie menggeleng. "Tadi Bianca memberi tahuku bahwa saat kau diperiksa dan di rawat kau sempat muntah beberapa kali, dan aku yakin saat ini perutmu sedang kosong, jadi kau harus makan," Ucap Kevin "Ayo katakan apa yang ingin kau makan sayang, aku akan membelikannya untukmu." "Hhmm!.." Rossie menggumam lalu tersenyum kearah Kevin "Apapun makanan yang kau berikan aku akan memakannya." Jawab Rossie. "Begini saja, setahuku kau sangat suka coklat cake dari toko sugar pastri, bagaimana jika ku belikan coklat cake saja?" Rossie menggeleng "Aku memang ingin makan yang manis-manis saat ini Kevin, beli apa saja cakenya tapi tak perlu pergi ke toko sugar pastri karena tokonya terlalu jauh dari rumah sakit." Ucap Rossie. Kevin membelai lembut pipi dari Rossie lalu berkata "Tidak ada kata jauh jika kau menginginkannya sayang, tunggulah aku akan membelikanmu coklat cake dari sugar pastri." "Tidak perlu Kevin itu...." ucapa Rossie terhenti saat Kevin membekap mulut Rossie. Kevin menatap kearah Bianca lalu berkata "Tolong jaga Rossie, Bianca. Aku akan kembali 1 atau 2 jam lagi." Kevin kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan rawat milik Rossie mengabaikan teriakan Rossie yang berusaha melerainya untuk pergi. "Dasar lelaki keras kepala," ketus Rossie saat sosok Kevin tak terlihat lagi di ruangan. Bianca tersenyum, tangannya terjulur merapihkan selimut yang menutupi kaki dari Rossie sebelum kemudian Bianca mendudukan dirinya di samping tempat tidur milik Rossie. "Kau sangat beruntung Rossie," ucap Bianca membuat Rossie memandangnya bingung. "Kenapa berkata begitu?" Tanya Rossie "Kau beruntung karena mendapatkan Kevin, lelaki yang sangat mencintaimu. Zama sekarang sangat sulit mencari lelaki tulus seperti Kevin, itulah kenapa aku mengatakan kau sangat beruntung." Jawab Bianca membuat Rossie tersenyum bangga. "Kau benar Bianca, aku sangat beruntung." Balas Rossie seraya menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya "Dia bahkan rela menabung menahan diri membeli kesukaannya untuk dapat mengumpulkan uang membelikanku cincin berlian." Tutur Rossie pelan. "Ku dengar Kevin juga menjual mobilnya untuk tambahan membeli cincin berlian itu." Dengan cepat Rossie mengangguk membenarkan ucapan Bianca. "Lelaki seperti Kevin sebaiknya cepat kau nikahi Rossie, takutnya akan keduluan gadis lain. Melihat pengorbanan Kevin dan ketulusannya padamu membuatku sedikit iri padamu, tapi aku berharap kalian segera menemukan solusi untuk dana pernikahan kalian." Ucap Bianca membuat Rossie tertunduk diam untuk berpikir sejenak. "Ku rasa kau benar Bianca, lelaki tulus dan bertanggung jawab seperti Kevin tidak akan datang dua kali, ku pikir aku akan mendengarkan saranmu sebaiknya aku gadaikan saja sertifikat rumah untuk biaya pernikahan kami, lagi pula Kevin dan aku sama-sama memiliki pekerjaan tetap jadi tidak akan ada kendala dalam membayar cicilannya nanti." Ucap Rossie membuat Bianca nyaris terlonjak senang karena rencananya berhasil. "Bianca?" Panggil Rossie membuat Bianca segera menatapnya "Bisakah kau membantuku, Bianca?" "Tentu saja, Rossie. Apa yang dapat ku bantu?" Tanya Bianca. "Bisakah kau pulang ke rumah, masuk dalam kamarmu dan tolong ambilkan sertifikat rumah di brangkas yang ada dalam lemariku." Jawab Rossie. "Tentu saja aku bisa!" Serobot Bianca girang sebelum ia tersadar akan reaksinya yang terlihat senang begitu berlebihan lalu ia mengotrol emosinya agar dapat tenang dan tak di curigai Rossie. "Apa kata sandi brangkasmu, Rossie?" Tanya Bianca berpura-pura tidak tahu. "Tanggal lahir Nenekku." Jawab Rossie. "Kirimi aku lewat chatt tanggal lahir Nenekmu nanti begitu aku tiba di rumah. Kalau begitu kau tunggulah, aku akan kembali ke rumah mengambil sertifikat rumahmu." Ucap Bianca lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan rawat Rossie dengan begitu bersemangat. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN