"Keluar, Genta! Kamu mabuk!" seruku sambil mendorong tubuhnya agar keluar dari kamarku. Aku semakin ngeri melihat tatapan matanya yang terlihat frustrasi. Dengan sekuat tenaga, aku kembali mendorong tubuhnya karena dari tadi tubuhnya berdiri dengan kokoh, seolah nggak terpengaruh dengan dorongan tanganku. "Kamu kenapa sih pakai mabuk segala," ujarku. "Kita sedang bekerja, bukan lagi senang-senang. Kalau mau senang-senang, mending kamu pulang ke Jakarta deh," lanjutku lagi dan tiba-tiba saja aku berpikir kenapa bahasaku sombong banget. Kalau Genta kembali ke Jakarta, apa yang bisa aku kerjakan di sini? Tentu aja nggak ada. "Sana, kembali ke kamarmu. Mendingan kamu mandi dan menenangkan pikiranmu. Besok bukannya kita masih harus bekerja. Ah! Aku bahkan nggak tahu apa yang harus aku kerjak

