21. Diabaikan

1691 Kata

Genta masih mendiamkanku saat kami telah berada di dalam pesawat. Walaupun berada di kursi yang saling bersebelahan, tapi dia seolah nggak peduli denganku. Berbeda dengan saat masih di bandara tadi. Padahal aku selalu mengalami kecemasan saat pesawat akan take off dan aku berharap Genta bisa sedikit menenangkanku dengan mengajakku mengobrol atau hal lainnya, tapi dia tetap diam dan malah memejamkan matanya. Apa ucapanku tadi menyinggung perasaannya? Apa dia marah padaku? Jika berbicara soal siapa yang marah, harusnya itu bagianku. Selalu saja seperti ini, bahkan dia saat hubungan kami telah berakhir seperti ini, selalu aku yang merasa bersalah. Melihat Genta yang bersikap seperti itu, akhirnya aku memutuskan memejamkan mataku juga. Tentu saja aku nggak tidur, mana mungkin aku bisa tidur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN