1. Calon Suami?

1584 Kata
Mili tak pernah menyangka keputusannya untuk menerima tawaran kerja di Little Artspace akan membawanya kembali bertemu dan dekat dengan Fala. Senior sekaligus sahabat baiknya ketika aktif di kegiatan kampus dulu. Karena ternyata, yang mendirikan Little Artspace sendiri adalah Evan Maureno, kakak kandung Fala Adisti. "Astaga kak Fal, kayaknya kita emang soulmate ya. Kerja pun akhirnya bisa di tempat yang sama." bisik Mili di sela-sela kegiatan makan siangnya. Kedua sahabat itu kini tengah menikmati makan siang di salah satu restoran cepat saji dekat Little Artspace. Setelah menyerahkan berkas-berkasnya ke bagian HRD, Mili sengaja menghubungi Fala yang memang bekerja di perusahaan milik kakaknya ini sejak lebih dari satu tahun lalu begitu dirinya lulus kuliah. Jadi, mereka berdua memutuskan bertemu sekaligus makan siang bersama di tempat yang tak begitu jauh dari sana. "Kamu juga sih yang ikutin aku terus, ngefans ya?" kekeh Fala setelah menyesap sepertiga minuman yang sudah dipesannya tadi. "Helehh, kebetulan aja ini ih, ya mana tau kalau Little Artspace ini punya Mas Evan, Kak Fal." dengkus Mili. Sebelumnya Mili memang sudah pernah bekerja di Rosemary Gallery Art di Singapura selama lebih dari satu tahun. Namun setelah kontrak kerjanya di sana selesai, Mili memilih mengundurkan diri diri agar bisa kembali ke Indonesia. "Makanya, kerja tuh jangan milih yang tempatnya jauh-jauh kayak kemaren. Ya kali kerja di negeri orang cuma karena pengen nyambi belanja barang-barang branded di sana buat dijual lagi di sini. Diih…" cibir Fala tak habis pikir dengan keputusan Mili yang saat dulu memutuskan untuk bekerja di Singapura. Mili sontak tergelak mendengar sindiran dari sahabatnya itu. Padahal bukan hanya karena itu dirinya memilih ke Singapura setelah lulus kuliah. Namun juga dikarenakan hubungannya yang tak berjalan baik dengan sang ibu di tanah air. Hubungan Mili dengan Indah yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri, memang tak berjalan dengan baik layaknya pasangan ibu dan anak pada umumnya. Semua itu akibat keputusan sang ibu, yang bersedia menjadi istri kedua dari Sasmito, seorang pengusaha mebel ternama di ibu kota. Padahal awalnya, hubungan gadis itu dan sang ibu sangat akur meskipun hanya hidup berdua setelah kepergian sang ayah untuk selamanya ketika Mili masih berusia enam tahun. “Beeugh, kayak lupa aja kenapa aku sampe pergi jauh kayak gitu.” Mili melirik Fala lantas kembali beralih ke makan siangnya. “Iya iya paham kok shay.” Fala memberi anggukan pelan. Dia memang paham dengan apa yang terjadi di keluarga sahabatnya ini. Kompleks sebenarnya, Mili menginginkan sang ibu tetap setia dengan almarhum ayahnya. Tapi di sisi lain, ibunya menemukan sosok pengganti sang suami yang menurutnya mampu menjadi imamnya. Bukan karena orangnya yang Mili permasalahkan, tapi karena status sang ibu yang rela menjadi istri kedualah yang membuat seorang Mili berat untuk merelakan sang ibu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tanpa restu dari Mili pun, sang ibu tetap melangsungkan pernikahan dengan suami keduanya empat tahun lalu. Mili yang tak pandai meluapkan amarah pada sosok ibu yang begitu ia cintai, jadi gadis itu memilih untuk pergi jauh. Dan Singapura yang menjadi negara pilihannya begitu Mili lulus dari perguruan tinggi. “Berarti sekarang udah akur dong sama Mama?” tanya Fala lagi mendadak penasaran dengan kepulangan Mili yang tiba-tiba dari Singapura. Mili menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Bukannya enggan menceritakan mengenai keluarganya, Mili hanya malas untuk menceritakan hal yang sama berulang kali. “Akur banget sih nggak, cuma yah … gimana ya jelasinnya.” Mili menengadahkan kepala dan melemparkan pandangannya jauh ke depan. “Mama sakit, aku tau sejak tiga bulan lalu. Tapi gak langsung pulang karena ribet banget kan ngurusin berkas ini itu di tempat kerja yang lama. Jadi ya baru bisa pulang dua minggu lalu.” jawabnya kemudian. “Dan selama dua minggu itu pula kamu nggak hubungi aku? Ckk … sombong sekali anda.” decak Fala mencebikkan bibir sok sebal. Padahal mana bisa ia sebal dengan sahabat rasa adiknya yang satu ini. “Bukannya sok sombong Kak Fal, cuma yaa, tau sendiri lah gimana repotnya kalau habis pindahan. Belum lagi ribet pindah dari Rosemarry Galery ke sini.” “Kamu kost di Surabaya? atau tinggal sama sepupu kamu itu?” kejar Fala semakin penasaran. Mili mengerutkan kening, ia lupa kalau dulu pernah bercerita pada Fala ia masih memiliki kerabat yang tinggal di Surabaya. “Sepupu?” “Yang kata kamu tinggal di Waru itu.” “Ooh, itu. Sepupu jauh banget mah itu Kak, bukan yang kandung gitu. Nggak enak lah numpang hidup di sana. Terlalu jauh juga dari sini. Ribet di jalan.” Mili menggeleng cepat. Menumpang di rumah kerabat atau kost bukan pilihan yang tepat menurutnya, karena sifatnya yang senang menyendiri dan suka ketenangan, jadi gadis itu memilih untuk mengontrak sebuah rumah minimalis yang ada di sekitar Kapas Krampung. “Aku ngontrak rumah kecil di perumahan Kapas Krampung Kak.” “Sendirian?” Mili mengangguk lagi. “Lebih enak sendirian sih, gak ribet. Lebih konsen juga kalau gambar-gambar.” “Nggak takut?” Kali ini Mili menggeleng cepat. “Takut sama setan atau dedemit gitu? Setannya kali yang takut sama aku,” sambung Mili lantas tergelak kencang. “Kenapa nggak kost aja di tempat yang dulu aja sih?” Maksud Fala adalah tempat kost yang pernah ditinggali Mili ketika masih menjadi mahasiswa. “Makin jauhlah kak, lagian aku gak mau ribet kalau tinggal sama banyak orang. Lebih enak sendiri, apa-apa bisa bebas. Lagian kotrakkanku enak kok kak, nggak terlalu gede jadi gak ribet bersih-bersihnya. Rumah modern minimalis gitu lah, cuma ada dua kamar tidur.” “Kalau tau kamu udah di sini sejak dua minggu lalu kan bisa aku bantu pindahan dan beres-beres barang, Mil.” “Heleeeh, dusta.” cibir Mili melirik sinis pada sahabatnya. “Seorang kak Fala si putri manja beres-beres? bisa kiamat dunia kak.” lanjut Mili lantas pecah lagi tawanya. Bukannya apa, meski tak bertemu secara langsung selama hampir satu tahun. Mili masih ingat jelas siapa Fala yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu. Fala adalah gadis manja,putri bungsu kesayangan orang tua kaya raya dan keluarga serba ada, yang apa-apa tinggal tunjuk ini itu lantas kemudian sudah ada yang mengerjakannya. Rasanya cukup jauh berbeda dengan Mili yang berasa dari keluarga biasa saja. Almarhum ayahnya dulu bekerja di perhutani, sedangkan sang ibu adalah wanita karir yang bekerja di salah satu bank swasta dan menjabat sebagai salah satu manager. Sejak kecil Mili sudah dituntut serba bisa oleh sang Mama, bagaimana sempat bermanja-manja pada kedua orang tuanya. Wajah ayah kandungnya saja samar dalam ingatannya jika ia tak melihat dari foto-foto kenangan yang masih tersimpan di rumahnya. Ingin bermanja pada sang Mama sudah tak bisa, karena sejak kepergian sang ayah, Mili dididik tegas dan dituntut mandiri karena sering ditinggal bekerja oleh Indah, mamanya. “Enak aja manja!” Fala melepuk gemas lengan bagian atas Mili. “Males aja dikit.” imbuh gadis itu lantas terkekeh pelan. “Ehh, kak Fal, kak Fal … sini deh.” Mili mengibaskan tangannya agar Fala sedikit mendekat. “Apaan?” “Coba tengok ke arah jam sepuluh sana deh.” Mili menggerak-gerakkan kedua mata serta dagunya ke arah jendela restoran yang mengarah langsung pada area parkir utama. “Cowok cakep banget sumpah, kayak familiar gitu wajahnya. Kayak saudara aku yang udah lama nggak ketemu. Tapi kok ganteng banget ya?” tambah gadis itu antusias. “Mana sih?” Fala sedikit menaikkan kacamata perseginya agar bisa melihat lebih seksama ke arah yang dimaksud Mili. “Itu yang barusan keluar dari mobil warna hitam tuh, yang pake kemeja biru tua garis-garis.” yang dimaksud Mili adalah sesosok pria dewasa dengan perawakan tinggi bak model professional, dengan wajah tenang dan sedap dalam pandangan. Belum lagi aura yang dipancarkan memang mendominasi sekali, sekali lirik saja pasti akan banyak kaum hawa yang luluh dan takluk menyerah padanya. “Yang pake kacamata hitam itu?” ucap Fala meyakinkan Mili sekali lagi. “Iya, yang itu. Beneran deh, wajahnya kayak gak asing gitu, beneran mirip banget sama kakak sepupu aku yang tinggal di Waru.” lirih Mili dengan mata masih fokus mengamati sosok lelaki yang dengan cepat mencuri perhatiannya itu. “Astaga, itu mah Mas Dimitri. Dimitri Handana.” jawab Fala sembari tersenyum ceria ke arah pria yang sama-sama mereka tatap dengan tatapan kagum. Ah Iya benar, namanya Dimitri. Apa? Gimana maksudnya? Kok Fala kenal? Batin Mili mendadak tergelitik penasaran, bagaimana bisa Fala dengan lancarnya menyebutkan nama lengkap si Mas Dim kesayangannya. “MAS DIMITRI!!” panggil Fala dengan suara nyaring seraya melambaikan tangannya. “Sini, Mas.” Mili diam dengan mulut ternganga untuk mencerna apa yang baru ia dengar. Fala ternyata juga mengenal sosok Dimitri yang dimaksud olehnya tadi. Benar-benar kenal sampai begitu santai memanggil pria itu dengan suara lantang. “Kak- Kak Fala kenal sama Mas Dimitri?” bisik Mili sedikit ragu. “Kenal dong, sangat kenal bahkan.” Senyum Fala semakin merekah sempurna begitu pria yang dipanggilnya berjalan pelan mendekati meja makan mereka. “Ehh, kamu kok kenal juga, Mil?” Mili mengangguk pelan, tak berniat langsung menjawab pertanyaan Fala. “Kak Fala … gimana bisa kenal sama Mas Dim?” “Dikenalkan dan dipertemukan oleh takdir,” jawab Fala dramatis. “Hmm … Mas Dimitri itu kan calon suami aku, Mil.” imbuh Fala sukses membuat Mili tersedak minuman yang tengah disesapnya. “A- apa? Calon suami!?” ulang seakan ingin segera menenggelamkan dirinya ke dasar samudera paling dalam di dunia. Candaaan semesta macam apa ini? Dulu perasaannya luluh lantak begitu tau Dimitri dijodohkan orang tuanya dengan Fawnia. Dan sekarang? lagi-lagi Mili harus menyerah dengan takdir yang tak berpihak padanya, lantaran Dimitri sudah memiliki calon istri yang tak lain adalah sahabat dekat Milli sejak lama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN