bc

TRULY YOURS

book_age18+
38
IKUTI
1K
BACA
family
age gap
fated
forced
pregnant
drama
virgin
affair
naive
selfish
like
intro-logo
Uraian

Tipe perempuan yang Petra suka itu memiliki d**a dan b****g besar. Pintar masak karena ia suka makan. Lalu penurut juga mempunyai jiwa keibuan. Dan itu Busemua ada pada diri Maya, si janda beranak 1 yang berhasil memikat hatinya.

Tapi yang Petra dapatkan malah Oliv, gadis bar-bar pemiliki d**a rata yang sangat suka mendebat Petra. Olivia Jihane Khaira, anak dari si janda yang ia suka.

*****

Sekali lagi Petra mendapat penolakan. Entah sudah keberapa kali, tapi yang pasti Petra sudah berhenti menghitungnya diangka 20. Setahun belakangan ini ia sedang gencar mendekati Maya. Janda cantik mantan dosennya dulu.

"Petra, kamu itu bisa dapat lebih dari saya" ucap Maya menatap mantan mahasiswanya itu.

"Tapi aku maunya kamu, Maya" ucap Petra penuh penekanan. Masih tetap pada pendiriannya.

"Lebih baik kamu cepat pergi dari sini" usir Maya tanpa mau menatap Petra.

"May..." Petra memelas pada Maya.

"Saya bilang pergi, Petra" ucap Maya kali ini lebih keras. Petra pasrah saja mulai bangkit berdiri.

"Oke. Besok aku..."

"Besok dan selamanya kamu jangan pernah kembali ke rumah saya" potong Maya cepat.

Petra keluar rumah dengan langkah cepat dan lebar. Hingga saat keluar dari pintu tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Tubuh Petra yang lebih besar berhasil membuat orang itu oleng hingga hampir terjatuh jika tidak Petra tahan.

"Liat-liat dong lo kalo jalan" Petra hiraukan amukan orang itu. Kembali berjalan untuk pergi rumah itu.

"Dih, dasar aneh"

chap-preview
Pratinjau gratis
Satu
Sudah lebih dari lima menit Petra mengetuk pintu sebuah rumah, tapi pintu jati dihadapannya itu belum juga terbuka. Dipanggil pun tidak ada yang menyahut. Rumah ini juga tampak sepi, apa pemiliknya sedang tidak ada didalam? Karena kesal Petra menendang pintu dihadapannya hingga terdengar bunyi yang cukup kencang. Petra duduk di teras rumah minimalis itu. Mengusap wajahnya frustasi, kemana perginya wanita itu. Tadi Petra sudah mencari ke kampus tapi teman-teman dosennya berkata Maya cuti beberapa hari. "Kaya gembel banget lo, Om" Petra mendongkak menatap ke sumber suara. Dihadapannya berdiri seorang gadis mungil memakai hoodie oversize berwarna ungu membawa sebuah plastik ditangannya. Olivia namanya atau sering dipanggil Oliv. "Gue bukan Om lo" ucap Petra kesal. "Terus apa? Lo mau gue panggil Ayah? Ewh.. gak sudi gue kalo Bunda sampe nikah sama cowok modelan elo" Oliv berucap sinis menatap Petra sebal. "Mending lo pergi dari rumah gue, gak tau diri banget udah sering di usir masih aja datang" ucap Oliv mendorong tubuh Petra yang menghalangi pintu lalu membuka pintu yang terkunci dengan kunci yang ia pegang. "Lip" panggil Petra mengikuti Oliv masuk ke dalam rumah. "Mending lo pergi deh, Om. Bunda lagi enggak ada di rumah" ucap Oliv kesal pada Petra yang tidak tahu diri. Sudah diusir dari tadi masih saja ngeyel tidak mau pergi. "Kemana?" Tanya Petra. "Ke Jogja" balas Oliv agar pria di hadapannya ini tak banyak tanya lagi dan cepat pergi. "Ngapain?" Tanya Petra. "Lo banyak tanya kaya monyet dora" ucap Oliv kesal. Oliv pergi menuju ruang makan untuk menyantap bubur yang tadi ia beli. Mencoba tak memperdulikan Petra yang mengikutinya dari belakang. Oliv membuka sterofom yang berisi bubur kesukaanya. Mencampur kerupuk lalu mulai mengaduk bubur itu. Oliv itu tim bubur di aduk. "Kaya muntahan kucing" ucap Petra yang kini duduk di hadapan Oliv. Kebalikan dari Oliv, Petra akan merasa mual melihat orang yang mengaduk buburnya sebelum dimakan. "Lo anjing banget. Mending lo pergi" nafsu makan Oliv seketika hilang mendengar ucapan Petra. Ingin rasanya Oliv melemparkan bubur miliknya ke wajah menyebalkan Petra. "Maya berapa hari di Jogja? Lagi ngapain dia di sana?" Tanya Petra tak memperdulikan wajah kesal Oliv. "Om lo itu udah di tolak. Lo harusnya sadar diri" "Enggak, Maya bukan nolak gue. Dia cuma mau gue berjuang lebih untuk dia" ucap Petra. Petra yakin selama ini Maya juga tertarik padanya. Maya hanya sedang menguji keseriusan Petra. Itu yang selalu Petra tanamkan dalam pikiriannya. "Lo itu cuma penasaran sama Ibu gue, Om" ucap Oliv. "Tau apa lo bocil" "Enak aja bocil. Gue udah 22 ya" Oliv tentu tak terima dikatai masih kecil. "Tapi masih kecil" dengan jahil Petra menatap d**a Oliv. Tentu saja Oliv teriak tidak terima. "m***m" Oliv melempar sendok ke arah Petra, tapi Petra bisa menangkapnya jadi tak sampai mengenai kepala Petra. Mereka saling melemparkan pandangan sinis. "Om" Oliv memanggil Petra setelah hening cukup lama. Petra diam saja masih fokus dengan ponselnya. "Petra" panggil Oliv lagi. "Enggak sopan banget lo sama yang lebih tua" ucap Petra menatap Oliv sengit. "Gue panggil Om lo diem aja. Lagian lo harusnya ngaca lo panggil nyokap gue nama doang padahal beda umur kalian jauh loh, 13 tahun. Nyokap gue juga mantan dosen lo. Siapa yang lebih gak sopan" Oliv menatap Petra tak kalah sengit. "Gue calon suaminya" "Dih, pede gila" "Gini deh gue bantuin lo supaya bisa deket sama nyokap gue" ucap Oliv membuat Petra segera duduk tegap memperhatikan Oliv. "Tapi..." Petra mendengus kesal mendengar kata itu. Tentu saja Oliv tak akan cuma-cuma membantunya. "Tapi?" "Lusa gue ada interview di kantor lo. Lo kan anaknya yang punya bisalah lolosin gue?" Ucap Oliv memasang wajah paling manis yang ia punya. "Geli banget gue liat lo gitu, sok cantik, Lip" Petra menertawakan Oliv hingga membuat kembali mengamuk. Kali ini Oliv melemparkan sebuah botol yang masih tersegel hingga tepat mengenai dahi Petra. "Sakit" "Bodo" ucap Oliv acuh kembali memakan buburnya. "Nepotisme itu namanya, Lip. Lo pake orang dalem" ucap Petra. "Ya udah kalo enggak bisa. Gue liat-liat Pak Daniel cocok juga sama nyokap gue" ucap Oliv teringat Daniel teman mendiang Ayahnya itu sedang mencoba mendekati ibunya. "Siapa yang bilang enggak. Gue kan cuma bilang lo nepotisme. Sebagai calon bapak lo, gue akan rekomendasiin lo ke pihak HRD" Petra tak mau melewatkan kesempatan yang Oliv berikan. Lagipula syarat yang Oliv berikan sangat mudah. "Oke" **** Sesuai kesepakatan, Oliv akhirnya bisa bekerja di kantor Petra. Oliv melamar di divisi keuangan. Sebenarnya pihak HRD memilih Oliv karena Oliv memenuhi kriteria yang mereka butuhkan saat melakukan wawancara. Oliv diterima karena kemampuan yang ia punya tak sepenuhnya bantuan Petra. Mereka sama sama diuntungkan. Oliv bisa mendapat pekerjaan sedangkan Petra bisa mendekati Maya. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui jadwal kegiatan Maya juga apa saja yang sedang Maya butuhkan atau inginkan. Seperti seminggu yang lalu. Petra mendapat informasi dari Oliv bahwa mobil yang biasa Maya kendarai tiba-tiba mogok dijalan. Sedangkan Maya harus buru-buru berangkat ke kampus setelah mengantar Oliv ke kantor. Bak seorang pahlawan Petra datang di waktu yang tepat. Kebetulan jaraknya tak jauh dari kantor Petra. Petra segera meluncur ke tempat kejadian. Maya akhirnya pasrah saja menerima tumpangan Petra karena akan lama jika harus mencari taksi. Sedangkan mobilnya, sudah Petra telpon bengkel langganannya untuk memperbaiki mobil Maya. Sebagai ucapan terimakasih Maya bahkan mengundangnya untuk makan malam. Petra yang terlanjut exited saat itu sampai bingung harus memakai baju apa. Padahal itu hanya makan malam biasa. Oliv bahkan sampai meledeknya habis-habisan saat Petra memakai pakaian yang terlalu formal juga wangi parfum yang ia semprotkan cukup banyak. "Buset, mandi minyak wangi lo, om" ledek Oliv saat itu sambil terbahak. Petra stay cool saja karena ada Maya. Tak memperdulikan ledekan Oliv. Sejak saat itu pula Maya sudah mulai luluh padanya, terbukti dengan Maya tak menolak tawarannya untuk mengantar jemput wanita itu. Meski Oliv ikut bersama mereka tapi itu tak jadi masalah untuk Petra. Sedikit-demi sedikit. Maya juga sekarang tidak selalu menampilkan wajah datar saat bertemu Petra. **** Sudah satu bulan Oliv bekerja. Oliv suka bekerja disini. Rekan-rekan kerjanya sangat ramah, tidak ada istilah senior membully junior. Oliv dianggap sama seperti yang lain. Seperti saat di ruangan divisi keuangan sedang heboh karena salah satu rekan kerjanya sedang berulang tahun. Mbak Kia senior Oliv sedang membawa sebuah kue sedangkan yang lainnya menyanyikan lagu ulangtahun. Oliv juga ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan. Kue sudah di potong da dibagikan. Semua orang sudah memberikan ucapan selamat pada Reno yang hari ini sedang berulang tahun. Kini giliran Oliv. Oliv jadi orang terakhir yang memberikan selamat. "Selamag ulangtahun mas Reno. Kadonya nanti ya kalo aku gajian" ucap Oliv terkekeh. Maklum sekarang akhir bulan. Oliv akan menerima gaji pertamanya dua hari lagi. Reno mengacak puncak kepala Oliv dengan gemas. Oliv cemberut karena rambutnya jadi kusut. "Hadianya temenin mas ke KUA aja gimana?" Goda Reno yang langsung mengundang sorakan heboh. "Langsung di gas aja ini, Ren" goda Mbak Keke salah satu rekan kerja Oliv yang sudah senior. "Temenin ke KUA aja nih gak sekalian jadi teman hidup juga" menutupi kegugupan Oliv tanggapi godaan Reno yang semakin membuat heboh teman-teman kerjanya. "Jangan heran ya lo pada kalo akhir tahun tiba-tiba mereka nyebar undangan" ucap Bima. Sejak Oliv pertama masuk bekerja Bima memang merasa Reno tertarik pada si anak baru itu. "Aamiin aja deh, Bim. Gue sih maunya bulan depan, akhir tahun kelamaan" ucap Reno yang membuat Oliv semakin salah tingkah. "Udah mas. Lo baperin gue mulu" ucap Oliv mencoba tak terlihat gugup. "Kesayangan bos ini mas, Oliv ngambek dapet SP satu lo nanti" goda Bima.Oliv menatap Bima sebal. Mereka tahu Oliv ada suatu hubungan dengan si bos. Mereka sering melihat Oliv datang dan pulang bersama dengan Petra. Entah hubungan apa yang terjalin, mungkin saudara. Tidak mungkin jika sepasang kekasih, Oliv dan Petra selalu adu mulut ketika bertemu. Mungkin disini hanya Oliv yang berani mendebat si manager keuangan itu. "Gue siap tanggung jawab kalo lo baper, Oliv" "Serem main sama duda, sat set banget" ucap Kia. Reno memang duda. Duda ditinggal mati. Istrinya meninggal saat melahirkan anaknya beberapa tahun lalu. "Mas Oki calon duda kalo lo mau sat set juga" ucap Bima menunjuk Oki. Oki itu yang paling senior di antara mereka. Memang sedang proses cerai karena istrinya ketahuan selingkuh. "Nanti dikira jalan sama bokap kalo gue sama mas Oki" ucap Kia dengan wajah polos yang langsung mengundang tawa teman-temannya, tentunya kecuali Oki. Pria yang tahun ini memasuki usia 42 tahun itu hanya mendengus sebal dijadikan bahan candaan oleh rekan kerja yang memang umurnya sangat jauh dibawahnya. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.1K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
2.0K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.0K
bc

I Love You Dad

read
298.0K
bc

The CEO's Little Wife

read
684.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook