Setelah tadi siang mendapat traktiran makan siang, kini Reno kembali mentraktir teman-teman satu divisinya itu untuk karaoke. Kali ini ditambah si manager keuangan dan sang sekretaris.
"Lo sama gue, Lip" Petra menarik tangan Oliv menuju mobilnya. Tentu saja Oliv memberontak.
"Saya sama mas Reno aja, pak" ucap Oliv mencoba sopan karena masih ada di area kantor. Tadi memang Reno sempat mengajak ikut dengan mobilnya yang Oliv iyakan saja. Karena tidak hanya berdua, ada Bima Keke dan Kia juga ikut. Sedangkan Oki menggunakan motornya. Bima juga sebenarnya bawa kendaraan sendiri tapi dia bilang malas nyetir.
"Nanti lo sempit-sempitan mobil gue masih kosong" ucap Petra. Ada alasan lain juga sebenarnya tadi Maya mengiriminya pesan menitipkan Oliv padanya karena Maya sedang ada seminar di luar kota. Petra tentu iyakan. Akhir-akhir ini Maya sudah mau berbalas pesan secara intens dengannya. Saling mengabari kegiatan masing-masing. Suatu kemajuan untuk perjuangan Petra.
"Ajak Bima aja noh. Dia penasaran rasanya naik mobil bapak" Oliv menunjuk Bima dengan dagunya. Bima memang beberapa kali pernah bilang penasaran rasanya menaiki mobil SUV keluaran terbaru milik Petra itu.
"Ya udah ajak Bima juga biar cepet, kemaleman nanti pulangnya kalo lo ngajak debat" ucap Petra.
Bima tentu dengan semangat menarik tangan Oliv untuk masuk ke dalam mobil bosnya itu. Sudah lama Bima penasaran rasanya menaiki mobil tersebut.
Elrama duduk di balik kemudi dengan Lala yang duduk di sampingnya. Sedangkan Bima dan Oliv duduk di kursi penumpang. Membiarkan atasan mereka menyetir.
"Wah, selamat mbak" ucap Oliv saat mendengar bahwa Lala sedang mempersiapkan pernikahannya. Tadi Petra dan Lala sedang mengobrol menenai pengganti Lala yang akan berhenti bekerja, Oliv yang jiwa keponya sangat tinggi ikut bergabung ke obrolan itu. Menanyakan mengenai alasan kenapa Lala resign.
"Dikira udah capek mbak hadepin bos sinting kaya dia" ucap Oliv. Lala hanya tertawa. Di dunia ini pasti hanya Oliv yang berani mengatai bosnya itu gila. Sedangkan Bima hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keberanian Oliv.
"Jangan kaget kalo besok di meja kerja lo sudah ada surat pemecatan" ancam Petra.
"Dih, ngancem. Gak asik banget sih bos" ucap Oliv.
"Nanti datang ya, Mbak undang kalian semua" ucap Lala.
"Pasti, mbak. Aku doain semoga lancar sampai hari H"
"Aamiin. Semoga kamu juga bisa cepet nyusul, Liv" ucap Lala menghoda Oliv.
"Mana ada yang mau sama cewek modelan begitu" ejek Petra.
"Dih, syirik aja lo, ngaca dong berapa kali lo ditolak sama bunda gue" balas Oliv sengit. Petra diam saja kali ini tak membalas ejekan Oliv. Jika sudah membahas mengenai penolakan Maya dirinya kalah telak. Tapi lihat beberapa waktu kedepan, Maya pasti bisa Petra dapatkan.
*****
Reno menyewa sebuah room dan memesan banyak makanan. Bahkan Reno memesan minuman beralkohol juga. Bima, Kia dan Reno sedang heboh di depan sana bernyanyi bersama. Sebenarnya suara mereka lumayan enak didengar jika bernyanyi dengar benar.
"Pak jangan minum terus nanti mabuk" ucap Oliv mencoba merebut segelas whisky yang ada di tangan Petra. Petra nanti akan menyetir jangan sampai pria itu mabuk. Tapi sepertinya pria itu memang sudah mabuk.
"Om lo kok susah banget dibilangin" Oliv lagi-lagi merebut gelas di tangan Petra.
"Lo bawel banget sih, Lip. Enggak kaya Maya. Heran gue, lo anak pungutnya kali, ya" ucap Petra yang sudah mabuk.
Hati Oliv berdenyut sakit mendengar omongan Petra, meskipun pria itu mengucapkannya dalam keadaan mabuk. Oliv sungguh sangat tidak suka jika orang-orang sudah membandingkan dirinya dengan sang Ibu. Oliv tahu dirinya sangat jauh jika dibandingkan dengan Maya. Maya itu cantik, badan bagus walaupun sudah berumur, pintar, lemah lembut. Tipe idaman lelaki pasti ada di diri Maya.
"Terserah, lo" Oliv akhirnya membiarkan saja Petra kembali minum. Mencoba menghilangkan rasa sakit hatinya dengan bergabung bersama yang lain untuk bernyanyi.
*****
Oliv terpaksa menyetir mobil Petra, karena pria itu sudah benar-benar tak sadarkan diri. Entah berapa gelas minuman yang pria itu tenggak.
Oliv hanya berdua dengan Petra di dalam mobil. Lala dijemput oleh calon suaminya. Keke juga sama dijemput oleh suaminya. Sedangkan Bima dan Kia menumpang di mobil Reno. Arah rumah mereka memang sama. Ada Oki yang searah dengan Petra, tapi lelaki itu hari ini membawa motor. Oki hanya mengikuti mobil Petra yang Oliv setir dari belakang.
Saat sudah dekat gedung apartemen Petra, Oliv meminta Oki untuk tidak usah menunggunya. Oliv tahu sedari tadi anak Oki di rumah terus menelpon menyuruh cepat pulang. Oliv berkata untuk tidak usah mengkhawatirkan dirinya, karena jarak rumahnya sudah dekat. Oliv juga berniat menggunakan mobil ini untuk pulang ke rumahnya. Masa bodoh jika nanti Petra marah.
Karena tidak kuat mengangkat sendiri tubuh besar Petra, Oliv meminta bantuan seorang satpam. Membantu memapahnya hingga sampai di depan pintu unit apartemen Petra. Lala yang memberitahu unit mana Petra tinggal.
Oliv merogoh kantung kemeja dan celana Petra. Mencari access card apartemen pria itu. Petra terkekeh geli merasakan Oliv menggerayangi tubuhnya.
"m***m, ngapain lo grape-grape gue. Gue enggak napsu sama lo, Lip" ucap Petra di tengah mabuknya ia masih bisa bicara.
"Liat bro, lo napsu enggak sama dia?" Ucap Petra pada satpam yang tadi Oliv mintai tolong. Satpam itu masih menahan tubuh petra agar tidak terjatuh.
"Enggak kan? Hahahaa" Oliv biarkan saja Petra terus mengoceh.
Setelah berhasil membaringkan Petra di atas ranjang si satpam pamit undur diri. Kini tersisa Oliv yang sedang mencoba melepaskan sepatu dan kaos kaki yang Petra pakai.
Saat Oliv mencoba melepaskan dasi yang Petra pakai, lelaki itu membuka matanya lalu bangkit duduk menahan tangan Oliv yang masih menyentuh ujung simpul dasi Petra.
"Maya" gumam Petra mengelus pipi Oliv. Mendengar ucapan Petra, Oliv menyentak kasar tangan yang tadi menyentuh pipinya.
"Maya" Petra menahan tangan Oliv yang akan pergi, menarik tangan itu hingga Oliv jatuh terduduk di atas kasur.
"Gue bukan Bunda, Petra. Lepas" Oliv mencoba memberontak dari Petra yang kini sedang memeluk erat dirinya.
"Lepas, Petra" Oliv heran kenapa tenaga pria ini masih sangat kuat dalam meski dalam keadaan mabuk. Oliv merasakan dekapan Petra yang malah semakin mengencang.
"Lep..." Oliv mematung kaget saat Petra malah mencium dirinya. Bau alkohol terasa di mulut pria itu. Oliv memberontak saat merasakan gerakan bibir Petra di atas bibirnya. Tapi tenaga Petra yang jauh lebih besar bisa menahan gerakan Oliv.
"Shh..." Ringis Petra saat merasakan gigitan kencang Oliv di permukaan bibirnya.
"Petra sadar, gue Oliv" teriak Oliv kesal memukuli d**a Petra. Tapi tak Petra dengarkan, malah kini dengan mudah Petra menarik tubuh Oliv hingga berbaring di ranjangnya. Petra menahan kedua tangan Oliv yang terus memukulinya ke atas. Lalu kembali menciumi bibir Oliv dengan penuh nafsu.
Oliv mulai menangis, tubuhnya bergetar ketakutan. Tangannya masih di tahan Petra di atas kepalanya. Kedua kakinya pun tertindih tubuh besar Petra hingga membuat Oliv susah bergerak. Hanya wajahnya yang menggeleng ke kanan dan kekiri menghindari ciuman Petra.
Plak!
"Diam" Petra yang kesal menampar keras pipi Oliv hingga meninggalkan bekas merah di pipi putih Oliv. Oliv merasakan telinganya berdengung akibat tamparan itu.
Oliv diam dengan air mata yang terus mengalir. Petra kini menciumi pipi Oliv yang memerah bekas tamparan. Oliv hanya diam saat Petra kembali mencium bibirnya.
"Eunghh..." Oliv melenguh pelan saat merasakan Petra meremas keras dadanya.
"Petra, berhenti!" Jerit Oliv histeris merasakan ciuman Petra kini menuju lehernya. Petra melepas dasi yang ia pakai lalu menggunakan dasi tersebut untuk mengikat kedua tangan Oliv.
"Petra sadar!"
Petra mulai melucuti baju yang Oliv pakai. Bagian atas tubuh Oliv sudah tidak tertutup apapun. Kemeja dan bra Oliv sudah berhasil Petra lepas, bahkan yang beberapa kancing kemeja Oliv sampai terlepas karena Petra membukanya dengan terburu-buru.
"Ahhh..." Oliv tak kuat menahan desahannya saat merasakan hisapan Petra di puncak dadanya. Oliv memberontak tapi tubuhnya seakan mengkhianatinya, Oliv malah membusungkan dadanya hingga Petra leluasa menjamah bagian itu.
"Petra gue mohon berhenti" isak Oliv merasakan ciuman Petra kini semakin turun menuju bagian bawah tubuhnya. Isakan Oliv semakin kencang saat Petra kini berhasil melepas celana kerja Oliv. Kaki Oliv menendang-nendang ke segala arah. Saat Petra berhasil melepas penutup terakhir yang menempel di tubuhnya Oliv menangis pilu. Celana dalam Oliv terlepas. Kini Oliv berbaring telanjang diatas ranjang Petra.
Petra berhasil menangkap kaki Oliv, membukanya lebar hingga kini Oliv mengangkang lebar di hadapan Petra dengan kewanitaan yang tak tertutup apapun.
Melihat kewanitaan Oliv, nafsu Petra semakin meningkat. Petra mendekatkan wajahnya pada inti tubuh Oliv itu. Menghirup aroma yang membuat jiwa kelelakiaannya bergejolak.
"Ahhh..." Oliv mendesah keras saat merasakan lidah Petra bermain dibawah sana.
Oliv merasa jijik pada dirinya sendiri yang kini malah mengeluarkan suara-suara aneh saat Petra menjamahnya dibawah sana.
"Ahh Petra..." Tubuh Oliv bergetar saat merasakan ada yang keluar dari inti tubuhnya. Napas Oliv terengah-engah merasakan kenikmatan itu untuk pertama kalinya.
Oliv membuka matanya saat merasakan sesuatu yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Petra sedang mencoba memasuki tubuh Oliv.
"Petraa..." Jerit Oliv histeris merasakan sakit dibawah sana. Ini sudah berlebihan, Oliv tidak mau sampai terlalu jauh. Tapi sudah terlambat, Petra berhasil menyatukan tubuh mereka. Oliv merasakan perih teramat di inti tubuhnya.
Petra mulai bergerak memompa tubub Oliv tanpa memperdulikan tangis kesakitan yang Oliv rasakan. Gerakan Petra yang sangat kasar membuat inti tubuh Oliv yang baru pertama kali dimasuki terasa sangat sakit. Tapi tak lama Oliv merasa dirinya sudah menerima Petra dibawah sana saat Oliv mulai menikmati rasa baru yang Petra berikan. Kenikmatan itu mulai datang.
"Ahhh...." Oliv mendesah keras saat merasakan hujaman Petra dibawah sana semakin dalam. Mendengar desahan Oliv, Petra semakin cepat menghujam tubuh wanita di bawahnya itu.
Tak lama tubuh Oliv bergetar. Mendesah saat kembali mendapat puncaknya dengan lebih hebat. Petra merasakan remasan kewanitaan Oliv yang membungkus kejantannya semakin erat. Meletakkan kaki Oliv yang sudah lemas tak berdaya di bahunya. Lalu kembali menghujam tubuh Oliv cepat saat Petra juga merasakan puncaknya semakin dekat.
"Mayaa..." Petra menekan kejantannya dalam-dalam saat merasakan pelepasan. Cairannya menyemprot dengan kuat di dalam tubuh Oliv. Setelah nafsunya tersalurkan Petra jatuh tertidur di atas tubuh Oliv. Tubuh besarnya menimpa tubuh Oliv dengan inti tubuh mereka yang masih menyatu.
Dengan tangan yang masih terikat Oliv mencoba menyingkirkan tubuh Petra dari atas tubuhnya. Oliv meringis perih saat tubuh Petra terguling ke samping kejantanan Petra juga ikut terlepas dari inti tubuh Oliv yang terasa sakit.
Oliv masih berbaring di atas ranjang Petra. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Petra berhasil menghancurkan tubuh dan perasaan Oliv secara bersamaan. Memperkosanya tapi menyebut nama Maya, seakan wanita yang sedang pria itu tiduri adalah Maya.
Oliv duduk lalu mencoba melepas ikatan dasi di tangannya dengan bantuan giginya. Saat ikatan itu terlepas Oliv segera memunguti bajunya yang sudah tercecer. Oliv hiraukan rasa tidak nyaman di inti tubuhnya. Mulai memakai celana dalam juga celananya. Bra miliknya sudah rusak. Hanya memakai kemeja yang dua kancingnya sudah lepas tanpa dalaman lagi Oliv berjalan menuju sebuah lemari. Mencari sesuatu yang bisa untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
Mengambil sebuah jaket lalu memakai jaket yang terlihat kebesaran di tubuhnya itu. Oliv lirik sekilas di atas ranjang sana Petra sedang tertidur tengkurap dengan tubuh telanjang.
"Gue benci lo, Petra" ucap Oliv penuh emosi. Berjalan tertatih menahan perih di inti tubuhnya, Oliv segera keluar pergi dari tempat terkutuk itu.
******