Tiga

957 Kata
Petra terbangun dari tidurnya dengan rasa pening dikepala. Terduduk lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Petra memijat pelan kepalanya yang berdenyut sakit. Ia ingat semalam terlalu banyak minum. Petra memilih bangkit untuk bersiap. Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor. Petra mencari ponselnya berniat menghubungi Lala, memberitahunya bahwa ia akan ke kantor sedikit lebih siang. Tapi, Petra baru menyadari sesuatu. Tubuhnya telanjang tak tertutupi sehelai benangpun. Pakaian yang ia pakai semalam berserakan di lantai dan di atas ranjang sana. Ranjangnya pun terlihat berantakan. Saat menyingkapkan selimut, terlihat seperti noda darah yang sudah mengering. Dan ada noda lain yang sudah mengering. Petra juga bisa melihat sebuah bra putih polos yang sudah terkoyak. Entah milik siapa. Petra mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Apa ia sudah mengajak gadis perawan ke ranjangnya? tapi ia tak bisa mengingat apapun. Yang ada kepalanya malah semakin berdenyut sakit. Petra memilih beranjak menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya agar merasa lebih segar. **** Petra baru datang ke kantor setelah jam makan siang. Saat melewati meja Lala, Petra menatap wajah sekretarisnya itu lama. "Ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanya Lala sopan, risih juga ditatap seperti itu oleh Petra meskipun Petra bos sekaligus temannya sendiri. "La, maafin gue. Apapun yang terjadi bilang sama gue. Gue pasti akan tanggung jawab" ucap Petra. Petra yakin semalam ia telah meniduri seseorang. Seorang gadis perawan tepatnya mengingat noda darah yang ada di ranjangnya. Petra pikir itu pasti Lala. Siapalagi yang mengantarnya pulang semalam jika bukan Lala. Karena hanya Lala yang tahu tempat ia tinggal. "Lo masih mabok, ya Pet?" ucap Lala menatap aneh pada Petra mode teman yang terlihat sangat serius. Tidak seperti biasanya. "Kalo lo hamil bilang sama gue, gue pasti akan tanggung jawab" ucap Petra yang yakin semalam ia pasti mengeluarkannya di dalam. "Heh, ngomong apaan lo?" Lala kaget mendengar ucapan Petra. Menatap ke depan takut ada orang yang mendengar ucapan aneh Petra. Lala menghela napas lega saat mengetahui tak ada siapapun. Bosnya ini sepertinya benar-benar masih mabuk. "Ngapain gue minta tanggung jawab sama lo, Pet. Kalopun gue hamil ya nanti hamil sama cowok gue" ucap Lala. "Gue bikinin teh ya, kayanya lo masih mabok" "Siapa yang anterin gue pulang semalem?" Tanya Petra, melihat ketenangan Lala, sepertinya bukan Lala gadis yang semalam Petra tiduri. "Oliv. Untung dia mau anterin lo malem-malem. Gue yakin sepanjang jalan dia maki-maki lo karena lo gak nurut, minum terus sampe mabok" ucap Lala tekekeh geli mengingat bagaimana wajah kesal Oliv setiap berdebat dengan Petra. "s**t!" Petra mengumpat kencang saat mengetahui fakta itu. Petra kembali pergi dari sana mengabaikan panggilan Lala. Petra berjalan menuju ruang divisi keuangan, mencari Oliv. Tapi kubikel gadis itu kosong. "Oliv mana?" Tanya Petra pada siapapun yang bisa menjawab pertanyaanya. "Izin sakit, bos" Bima yang menjawab. Petra kembali pergi mengabaikan tatapan heran para bawahannya. **** Petra berhasil memarkirkan mobilnya di halaman rumah Oliv. Menggedor kencang pintu rumah itu hingga membuat beberapa tetangga keluar mendengar keributan Petra. "Berisik" pintu terbuka dari dalam. Terlihat Oliv yang seperti biasa memakai hoodie oversize dengan celana leggingnya. Oliv akan kembali menutup pintu tapi Petra berhasil menahannya. Petra berhasil menerobos masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu itu. "Gue mau bicara" ucap Petra serius. Petra menatap wajah Oliv yang kali ini tak berani menatapnya tak seperti biasanya yang selalu balas menatap Petra dengan pandangan menantang. "Bunda enggak ada, belum pulang" ucap Oliv dengan suara serak. "Gue mau bicara sama lo, bukan sama nyokap lo" ucap Petra. "Gue enggak mau, lo mending cepet keluar dari sini" ucap Oliv masih tak mau menatap Petra. "Gue mau tanya, semalam..." Belum sempat Petra bicara Oliv sudah memotong dengan bentakan keras. "Gue enggak tau, enggak terjadi apapun semalam. Lo mending Pergi, Petra" bentak Oliv keras kini menatap Petra tajam. Petra bisa melihat wajah pucat dan mata bengkak Oliv. Melihat respon Oliv yang seperti itu, pasti benar wanita itu Oliv. "Liv, ayo kita bicarakan baik-baik" ucap Petra melembut. Baru kali ini Petra bicara selembut itu pada Oliv. "Enggak ada yang perlu dibicarain. Gue bilang pergi Petra. Pergi" ucap Oliv yang mulai terisak. Oliv mencoba untuk tidak menangis, tapi air matanya keluar begitu saja setiap mengingat kejadian semalam. "Liv" Oliv menyentak tangan Petra yang akan menyentuh bahunya. Mendorong Petra menjauh. Melihat Oliv yang terlihat sangat rapuh, Petra paksa Oliv masuk dalam dekapannya. Mengelus punggung Oliv yang terus memberontak, memukuli d**a Petra kencang. Petra biarkan saja sampai Oliv tenang. Setelah tangisan Oliv mereda dan tidak berontak lagi, Petra ajak Oliv duduk di sofa. Oliv menurut saja, tenaganya sudah benar-benar habis. Tubuhnya terasa sangat lemas. Petra beranjak ke dapur mengambil segelas air mineral memberikannya pada Oliv. Awalnya Oliv menolak, tapi Petra paksa agar wanita itu meminumnya. Lagi-lagi Oliv hanya pasrah. Tak ayal satu gelas itu habis dalam satu tenggakan. Hening beberapa saat. Petra masih menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan. "Liv..." Petra akhirnya buka suara. Menatap wajah Oliv, tatapan mata Oliv terlihat kosong, jejak air mata masih terlihat di pipi pucatnya. "Maaf untuk yang semalam" ucap Petra lirih. "Apa? Minta maaf untuk apa gue tanya?" Sentak Oliv kencang. "Semalam... kita having s*x" "No. Lo perkosa gue, Petra. Lo paksa gue, Petra" Oliv kembali terisak. "Maafin gue, Liv. Gue semalam mabuk. Gue memang enggak ingat apapun semalam tapi gue pasti akan tanggung jawab" ucap Petra menggenggam tangan Oliv. Oliv meringis sakit merasakan pergelangan tangannya yang lecet membiru Petra genggam. "Karena gue?" Tanya Petra melihat pergelangan tangan Oliv seperti bekas jeratan. "Enggak usah sok peduli, lebih baik lo pergi. Gue mau istirahat. Enggak ada tanggung jawab. Anggap aja semalam enggak terjadi apapun" ucap Oliv. Oliv berdiri berniat kembali masuk ke dalam kamarnya. Tapi baru beberapa langkah kepalanya yang pusing membuatnya langkahnya tertahan. Oliv memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. Sebelum kesadarannya hilang, Oliv bisa mendengar pekikan keras Petra memanggil namanya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN