Petra memperhatikan wajah pucat Oliv yang tak sadarkan diri. Tadi sebelum Oliv terjatuh, Petra berhasil menangkap tubuh Oliv hingga wanita itu tak sampai jatuh berdebam ke lantai. Mengetahui Oliv pingsan Petra segera membawa wanita itu ke rumah sakit.
Selain pergelangan tangan yang membiru, Petra juga baru menyadari pipi Oliv membengkak, ujung bibir Oliv juga sedikit robek. Petra tidak bisa mengingat kejadian semalam. Tapi Petra yakin perbuatannya semalam sudah sangat-sangat menyakiti Oliv.
"Maaf" hanya kata-kata itu yang bisa Petra ucapkan sedari tadi.
Oliv membuka matanya perlahan, cahaya ruangan ini membuat kepalanya kembali sakit. Mengedarkan pandangannya saat melihat seorang pria yang duduk di sampingnya Oliv kembali memejamkan mata. Mengingat kenapa ia bisa berada di sini. Rumah sakit.
"Lo pingsan" jelas Petra.
"Lo butuh sesuatu?" Tanya Petra melihat Oliv yang hanya diam.
"Enggak usah sok peduli"
Petra menghela napas, mencoba sabar menghadapi sikap Oliv.
"Gue udah telpon nyokap lo, dia lagi dijalan. Dan gue juga akan bilang kita akan menikah" jelas Petra.
"Siapa yang mau nikah sama lo" ucap Oliv.
"Lo, kita akan menikah. Setelah lo sehat" ucap Petra.
"Lo mau bikin gue semakin sengsara, Petra"
"Dengan yang kita lalukan semalam kemungkinan lo hamil itu besar, Liv" Petra masih kembali membujuk Oliv.
"Gue enggak minta tanggung jawab lo"
"Gue mohon Petra, lo cukup lupain semuanya dan gue akan maafin lo. Gue akan terima semuanya. Mungkin sudah jalan hidup gue harus kaya gini" Oliv menatap Petra dengan memohon.
"Enggak bisa, Liv" lirih Petra. Ia tentu akan terus dihantui rasa bersalah sudah merebut sesuatu yang sangat berharga milik Oliv apalagi dengan cara seperti itu.
"Bisa, Petra. Gue mohon"
Mereka terdiam.
"Petra, please!"
"Oke. Tapi kalo sampe nanti lo hamil kita menikah" ucap Petra final. Oliv diam saja tak mengiyakan ataupun menolak.
"Oliv" Pintu ruangan terbuka dari luar. Maya masuk dengan wajah panik. Petra sedikit bergeser membiarkan Maya leluasa pada Oliv.
"Sayang, kok bisa sampai pingsan" tanya Maya mengelus sayang rambut Oliv.
"Cuma demam, Bun. Kecapekan aku kayanya" ucap Oliv menenangkan Maya.
"Maafin Bunda, ya. Bunda terlalu sibuk sampai kamu enggak terurus" ucap Maya.
"Bunda, ih. Kaya aku masih anak kecil aja bilang begitu" ucap Oliv merajuk. Maya hanya terkekeh.
"Petra makasih ya, sudah jaga Oliv" ucap Maya menatap Petra. Maya menggenggam tangan Petra disertai semyum tulus. Oliv memalingkan wajahnya melihat itu, bagaimana bisa Oliv merusak kebahagiaan Maya jika nanti kehamilan itu benar terjadi. Oliv tahu sekarang Maya sudah mulai menerima kehadiran Petra meskipun belum sepenuhnya. Oliv pastikan tidak akan ada yang tumbuh di dalam rahimnya.
*****
Oliv sudah kembali bekerja setelah izin karena sakit. Seperti biasa Ia di antar oleh Petra yang kini semakin dekat dengan Ibunya. Oliv sudah mencoba mengikhlaskan semuanya. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Seperti yang pernah ia katakan, mungkin sudah takdirnya kehilangan mahkotanya dengan cara seperti itu.
"Liv, malam minggu ada acara?" Tanya Reno. Oliv baru saja kembali setelah selesai makan siang bersama Keke, Kia, Bima dan Oki. Reno tak ikut karena harus menemani Petra meeting diluar.
"Hm. Enggak ada kayanya" jawab Oliv.
"Mas punya dua tiket nonton. Mau pergi bareng?" Tanya Reno.
"Boleh" balas Oliv. Reno tersenyum mendengarnya.
"Jam 7 mas Jemput, ya" Oliv hanya balas mengangguk.
"Cuma dua banget nih mas tiketnya" sindir Kia.
"Kalo 5 bukan ngedate namanya tapi tamasya" ucap Bima.
"Jangan ganggu, Ki. Sana minta sama mas Oki kalo mau juga" ucap Reno membuat Kia mendengus sebal. Semenjak Oki akan bercerai teman-temannya itu semakin gencar menggodanya menjodoh-jodohkan dengan duda itu.
"Mending sama mas Oki udah terjamin lo bakal hidup enak. Gini-gini usahanya banyak, Ki" kini Keke ikut berbicara.
"Selera gue mas-mas gemes, mbak. Bukan duda" ucap Kia.
"Gue dong" ucap Bima bangga.
"Gue sih realistis aja, yang agak tajiran, Bim" ucap Kia yang langsung mengundang gelak tawa. Sebenarnya gaji Bima besar, tapi karena terlilit hutang untuk memenuhi gaya hidupnya yang hedon uangnya habis untuk melunasi hutang-hutang dengan bunga sangat besar yang tak pernah lunas itu.
"Awas lo kemakan omongan sendiri" ucap Bima yang kesal dengan hinaan Kia.
"Enggak bakal"
Tanpa Kia sadari tekad seorang pria muncul untuk bisa mendapatkan hatinya.
*****
Akhirnya setelah beberapa bulan bekerja Oliv merasakan juga namanya lembur. Karena tadi siang terlalu banyak melamun kerjaannya jadi tidak selesai sedangkan besok pagi laporan ini sudah harus ada di meja Petra. Tinggal Oliv sendiri di ruangan ini, teman-temannya sudah pulang sejak 3 jam yang lalu.
Krek! Krek!
Oliv menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri hingga terdengar suara kretekan cukup kencang. Selesai. Oliv bisa pulang. Setelah mematikan komputer, Oliv beranjak menuju pantry untuk menyimpan gelas bekas kopi miliknya.
Oliv sedang mencuci gelas saat merasakan tiupan angin cukup kencang mengenai kulit lehernya. Tubuhnya seketika merinding tak berani melihat kebelakang, langsung teringat cerita tentang kehororan kantor ini yang pernah Bima ceritakan. Lagi-lagi Oliv merasakan hembusan angin itu. Mengumpulkan keberaniannya Oliv membalikan tubuhnya lalu menjerit kesal saat melihat orang yang berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Hahahaa" suara tawa Petra menggelegar kencang. Petra masih sempat melihat wajah ketakutan Oliv sebelum wajah itu berubah kesal saat melihatnya.
"Lo takut sama setan, Liv. Gue yakin Mbak kunti yang akan terbang ketakutan kalo liat lo" ucap Petra masih terbahak. Oliv yang kesal melemparkan spons cuci piring yang terdapat banyak busa itu ke arah wajah Petra. Hingga Petra memekik merasakan perih di matanya.
"Mampus lo" ucap Oliv puas.
"Anjir Lip, mata gue. Air"
"Bodo" Tak Oliv pedulikan Petra yang merintih perih mencari air. Oliv buru-buru pergi dari sana, ia ingin cepat-cepat pulang membaringkah tubuhnya yang sudah sangat letih.
Oliv sedang membereskan barang-barang miliknya saat melihat Petra berjalan ke arahnya. Terlihat wajah, rambut dan bagian tangan kemeja pria itu basah.
"Gue potong gaji lo" ancam Petra.
"Dih, mana bisa gitu" ucap Oliv tak terima.
"Bisa, gue bosnya"
"Mau makan apa gue kalo gaji yang enggak seberapa itu lo potong" ucap Oliv kesal.
"Makan rumput, kambing aja makan rumput bisa hidup" ucap Petra asal.
"Sembarangan"
"Sorry, deh" ucap Oliv akhirnya meminta maaf. Memang kelakuannya tadi sedikit diluar batas tapi itu hanya gerakan refleksnya saja yang sedang kesal.
"Sorry doang mah gampang"
"Terus lo maunya apa, Petra" tanya Oliv nyolot.
Petra akan kembali membalas ucapan Oliv tidak jadi karena ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang menelpon.
"Hallo" sapa Petra riang.
"...."
"Iya, ada" ucap Petra melirik Oliv.
"...."
"Oke, Maya. Tanpa kamu minta pun aku pasti akan antar Oliv" ucap Petra. Oliv menatap Petra saat namanya dibawa-bawa dalam obrolan.
"..."
"Pasti. Tunggu aku dirumah ya"
"..."
"See you, cantik"
Setelah sambungan terputus kini Petra menatap Oliv.
"Maya telpon hp lo enggak aktif" ucap Petra. Yang tadi menelponya adalah Maya. Wanita itu khawatir pada Oliv yang belum juga pulang hanya tadi sore sempat mengirim pesan akan lembur, tapi saat di telpon ponselnya tidak aktif. Maya yang tahu Petra juga masih di kantor menelpon Petra untuk menanyakan keadaan putrinya itu.
"Lowbat" Ponsel Oliv memang mati sejak sore tadi. Belum sempat Oliv charge.
"Lo tunggu sini, kita pulang bareng" ucap Petra. Belum sempat Oliv protes, Petra berjalan menuju ruangannya untuk mengambil barang-barang miliknya.
Hingga akhirnya kini Oliv sudah duduk nyaman di kursi samping kemudi mobil Petra. Menyandarkan tubuhnya di mobil mewah milik Petra.
"Mobil baru lagi, Om" ucap Oliv mengetahui mobil yang kali ini mengantarnya berbeda dengan yang kemarin. Oliv memang sudah menyadarinya sejak pagi, tapi baru sempat Oliv ucapkan.
"Hm. Gimana? Keren enggak?" Tanya Petra bangga.
"Biasa aja" balas Oliv.
"Gue dapetin mobil ini harus inden 4 tahun" ucap Petra.
"Enggak nanya" balas Oliv membuat Petra mendengus sebal. Percuma mengajak bicara wanita disebelahnya ini. Tapi Petra sedikit bersyukur. Oliv sudah kembali seperti semula, meski kadang Petra melihat pandangan kosong Oliv di waktu-waktu tertentu. Petra lebih memilih Oliv yang bar-bar dan suka marah-marah dibanding Oliv beberapa waktu yang lalu. Oliv dengan wajah sendu dan tak bersemangat.
Saat mobil sudah terparkir di depan rumah, Oliv turun setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih. Bisa Oliv lihat Maya menunggunya di teras rumah.
"Handphone kamu Bunda telpon enggak aktif, nak" ucap Maya khawatir.
"Maaf, Bun. Lupa batrainya habis, lupa aku charge" balas Oliv.
"Udah makan?" Tanya Maya. Oliv menggeleng.
"Kebiasaan, lupa terus sama makan. Bunda masak, kamu mandi bunda siapin makanannya" ucap Maya.
"Kamu sudah makan, Pet?" Tanya Maya, Petra balas dengan gelengan. Petra sebenarnya sudah makan, sengaja berbohong berharap ditawari untuk makan malam bersama.
"Ayo makan disini" Petra mengangguk dengan semangat. Tentu tak akan Petra lewatkan tawaran makan malam ini.
*****