“Pak, tolong periksa rekaman CCTV untuk tamu yang datang hari Kamis pukul delapan malam,” pinta Dimas kepada resepsionis hotel. Ia memasang senyum ramah, meskipun wajahnya memancarkan ketegangan yang sulit disembunyikan.
“Sebentar, Pak,” jawab resepsionis dengan sopan. Ia kemudian memanggil staf keamanan untuk membantu Dimas mendapatkan akses.
Dimas melirik arlojinya. Sudah dua jam ia berada di hotel ini untuk mencari bukti perselingkuhan Luna dan Daniel, sesuai permintaan Bara. Awalnya, ia ragu dengan tuduhan itu, tetapi potongan bukti kecil yang dikumpulkan Bara mulai membentuk gambaran besar yang sulit diabaikan.
Beberapa menit kemudian, seorang staf keamanan muncul dengan laptop kecil. “Ini rekamannya, Pak,” katanya sambil membuka file dari CCTV di lobi hotel.
Dimas memperhatikan layar dengan cermat. Di menit ke-12, terlihat Luna turun dari sebuah mobil hitam dan berjalan memasuki lobi hotel. Wajahnya terlihat jelas di kamera.
“Coba maju ke menit 15,” pinta Dimas.
Staf menggeser rekaman. Tidak lama kemudian, seorang pria muncul di layar. Dimas langsung mengenalinya. Daniel, kakak tiri Bara.
Mata Dimas menyipit. Ia meminta staf untuk memutar rekaman dari lift, dan benar saja, terlihat keduanya naik bersama ke lantai yang sama.
“Apakah ada rekaman di koridor lantai tersebut?” tanya Dimas.
“Maaf, Pak. Untuk privasi tamu, kamera hanya dipasang di lobi dan lift,” jawab staf.
Dimas mengangguk pelan. Rekaman ini cukup untuk menguatkan kecurigaan Bara, tetapi ia tahu sahabatnya itu pasti ingin bukti yang lebih konkret. Setelah mendapatkan izin, ia menyalin video tersebut ke USB dan mengucapkan terima kasih kepada staf keamanan sebelum meninggalkan hotel.
Tidak bisa berlama-lama lagi, Dimas pun segera menemui Bara di rumahnya, menyerahkan barang bukti di dalam USB.
"Aku mendapatkan apa yang kamu butuhkan," katanya sambil menyerahkan USB tersebut kepada Bara.
Bara menerima benda kecil itu dengan rahang mengeras. “Apa isinya?”
“Rekaman CCTV. Luna dan Daniel terlihat masuk ke hotel yang sama. Aku yakin mereka ada di kamar yang sama dan mereka tinggal di sana sudah beberapa hari. Kamu mau aku selidiki lebih jauh?”
Bara menggeleng pelan. “Nggak perlu. Aku bisa urus sisanya sendiri. Tapi, temani aku, Dim.”
“Tentu,” jawab Dimas tanpa ragu.
Mia yang baru masuk dari pintu belakang langsung melihat Bara dan Dimas bersiap keluar rumah. Ia memandang mereka dengan raut bingung.
“Anda mau ke mana, Pak?” tanyanya hati-hati, suaranya penuh rasa hormat.
Bara menoleh sekilas, wajahnya terlihat tegang. “Ada sedikit urusan,” jawabnya singkat sambil melangkah menuju pintu.
Mia yang merasa ada sesuatu yang janggal segera menyusul. “Apakah ada masalah?” tanyanya lagi, mencoba membaca ekspresi Bara.
“Tidak ada,” jawab Bara cepat, suaranya dingin.
Mia belum menyerah. Ia melangkah lebih dekat, menatap Bara yang tampak tergesa-gesa. “Ini sudah malam, Pak. Seharusnya Anda istirahat,” ucapnya dengan nada khawatir, berusaha mengingatkan.
"Tidak ada waktu." Bara menjawab singkat.
"Jangan egois, Pak. Saya sudah bersedia melakukan apa pun demi tercapainya tujuan kita. Kalau Anda bersikap seperti ini, semua usaha saya akan sia-sia."
Bara melangkah mendekat. Suaranya melunak, “Dengar, aku akan menyelesaikan sesuatu yang penting. Setelah ini, aku akan melakukan apa pun demi tercapai tujuan kita. Aku tidak akan mengabaikan perjuangan kita untuk memiliki keturunan.”
Bara mengusap pipi Mia perlahan, seolah ingin menenangkan kekhawatirannya.
Mia hanya diam, mencoba mencerna kata-kata Bara. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Bara bersama Dimas keluar dari rumah, meninggalkannya dalam kebingungan.
Di dalam hati, Mia bergumam, Kok bisa sih dia sesantai ini? Biasanya bahasanya kaku, ‘Anda’ dan ‘saya’. Sekarang malah aku-kamu. Apa dia lupa minum obat?"
***
Bara bersama Dimas pergi ke hotel setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Perasaan marah, kecewa, dan dikhianati bercampur menjadi satu di dadanya. Dimas sudah mengatur semuanya, termasuk mencari tahu kamar tempat Luna dan Daniel berada.
“Lantai lima, kamar 512,” bisik Dimas setelah berbicara dengan staf hotel.
Bara menekan tombol lift tanpa berkata apa-apa. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya dingin. Dimas berjalan di sampingnya, mencoba mengimbangi langkah Bara yang cepat dan penuh amarah.
Begitu sampai di lantai lima, mereka menuju kamar 512. Bara mengetuk pintu dengan keras, nyaris membantingnya.
“Siapa?” terdengar suara Daniel dari dalam.
“Buka pintunya, Daniel!” Bara berseru dengan nada tinggi.
Ada jeda hening beberapa detik sebelum pintu terbuka sedikit. Wajah Daniel muncul dengan ekspresi terkejut. “Bara? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Bara tidak menjawab. Dengan dorongan kuat, ia membuka pintu sepenuhnya dan melangkah masuk. Luna terlihat duduk di sofa dengan pakaian sedikit berantakan. Wajahnya memucat saat melihat Bara.
“Bara, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!” seru Luna, mencoba berdiri, tetapi Bara mengangkat tangannya untuk menghentikannya.
“Aku nggak mau dengar omong kosong kamu lagi, Luna,” ucap Bara dingin. Ia menatap Daniel dengan tajam. “Kamu nggak cuma menghancurkan keluargaku, tapi juga hubungan kita sebagai saudara. Kamu tahu aku sudah curiga sejak lama, kan?”
Daniel menelan ludah, tidak mampu melawan tatapan Bara yang penuh amarah.
“Kamu pikir kalian bisa menyembunyikan ini selamanya?” Bara melanjutkan, suaranya naik beberapa oktaf. “Aku punya semua bukti. Rekaman CCTV di hotel ini. Bahkan kalau kalian mencoba berbohong, fakta sudah bicara.”
Luna mencoba mendekati Bara. “Bara, aku bisa jelaskan! Ini nggak seperti yang kamu lihat!”
“Jelaskan apa?” Bara memotong dengan dingin. “Kamu mau bilang ini cuma salah paham? Aku sudah cukup bersabar.”
Daniel mencoba menyela dengan meraih lengan Bara, tetapi Bara menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh aku, Daniel. Mulai sekarang, kamu bukan lagi kakakku.”
Bara menatap Luna tajam. “Luna, ini terakhir kali aku melihat kamu sebagai istriku. Mulai sekarang, hubungan kita selesai.”
Luna terkejut, air mata penuh kepalsuan mengalir deras. “Bara, tolong, jangan lakukan ini. Aku bisa berubah!”
“Berubah?” Bara tertawa dingin. “Kamu sudah menghancurkan kepercayaan aku. Aku nggak peduli lagi. Sekretarisku akan mengurus semua proses perceraian. Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku. Aku ceraikan kamu.”
"Baguslah kamu ceraikan dia." Daniel menujukkan sifat aslinya. Ucapannya seolah menantang, padahal jelas-jelas dia bersalah.
"Kalian 2 manusia sampah yang tidak tau malu. Kalian memang cocok sama-sama tidak punya rasa malu."
"Apa pun sebutannya, kamu tetaplah kalah, Bara."
"Aku tidak sedang berkompetisi, aku tidak butuh wanita hina seperti kekasihmu."
Luna terisak, tetapi Bara tidak menunjukkan empati sedikit pun. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan Dimas mengikutinya dari belakang.
Di dalam lift, Dimas memecah keheningan. “Kamu yakin ini keputusan terbaik, Bar?”
Bara mengangguk tanpa ragu. “Aku nggak akan pernah memaafkan pengkhianatan.”
Lift itu turun perlahan, tetapi di dalam hati Bara, emosi masih berkecamuk. Ia tahu satu hal yang pasti, ia harus memulai hidup baru tanpa Luna.