“Pak Asep, tolong bawa koper istri saya ke kamarnya,” perintah Bara sambil menyerahkan koper milik Luna ke arah sopirnya, setelah Luna pergi lebih dulu.
“Baik, Pak,” jawab Pak Asep cepat sambil membawa koper itu menaiki tangga.
Bara melirik ke arah Mia yang berdiri diam di sudut ruangan, tatapannya penuh pertanyaan. Namun, sebelum ia sempat bicara, Mia berbalik badan dan berjalan menjauh. Bara mengerutkan alis, melihat langkah Mia yang tidak menuju ke kamarnya di lantai atas, melainkan ke area belakang rumah.
“Mau ke mana kamu?” Bara bertanya sambil menyusul Mia dengan langkah cepat.
Mia berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. “Ke kamar, Pak.”
“Kamar kamu kan ada di atas,” ucap Bara dengan nada heran. “Kenapa ke belakang?”
Mia akhirnya menoleh, wajahnya datar tanpa emosi. “Saya sudah pindah, Pak. Sekarang saya tidur di kamar belakang, bersama pembantu yang lain.”
Bara mengernyitkan dahi, semakin bingung. “Siapa yang meminta kamu pindah ke sana?”
“Tidak ada, Pak. Ini keinginan saya sendiri.”
Mia melanjutkan langkahnya tanpa menunggu respons Bara. Ia membuka salah satu pintu kamar di area belakang, lalu masuk ke dalam. Namun, sebelum pintu sempat tertutup sepenuhnya, Bara menahan pintu itu dengan tangannya.
“Kita harus bicara,” katanya tegas sambil melangkah masuk ke kamar kecil itu.
Mia berdiri di dekat tempat tidur sederhana, menatap Bara dengan ekspresi lelah. “Apa yang perlu dibicarakan, Pak?” tanyanya, suaranya terdengar tenang, tapi jelas mengandung ketegangan.
Bara menghela napas, mencoba meredam amarah yang sejak tadi menguasainya. “Kamu tenang saja,” ucap Bara akhirnya. “Kita akan tetap melanjutkan program inseminasi atau bayi tabung, sesuai rencana."
"Jelas. Saya begitu menjijikkan," balas Mia dengan terus mengulang kalimat menyakitkan yang pernah Bara ucapkan mengenai dirinya.
"Mengenai itu, saya benar-benar minta maaf, Mia. Saya... hanya sedang berada dalam tekanan. Keluarga meminta saya untuk segera memiliki keturunan."
"Demi tercapainya tujuan Anda. Menguasai harta?"
Bara menatapnya tanpa ekspresi, lalu ia membalas, "Bukan urusan kamu akan tujuan saya. Saya ke sini hanya ingin mengatakan itu, kita akan tetap menjalani inseminasi atau bayi tabung."
"Tidak ada kontak fisik."
"Tidak ada. Saya juga tidak akan melakukan terapi sesuai dengan Saran Dokter Theo. Cukup dengan mengkonsumsi obat, menjaga pola hidup sehat. Saya rasa itu saja sudah cukup."
Mia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Perasaan lega dan marah bercampur aduk menjadi satu.
Merasa lega karena tidak ada lagi perdebatan, Bara melangkah menuju pintu, siap untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah, Mia memanggilnya.
“Pak Bara,” suaranya terdengar lirih.
Bara menoleh, ekspresinya datar. “Ada apa lagi?”
Mia menggigit bibirnya sebelum berkata, “Terima kasih, karena tetap mengikuti semua yang tertulis dalam surat perjanjian.”
Bara tidak membalas apa-apa, hanya mengangguk kecil. Tanpa ekspresi lebih lanjut, ia melangkah keluar, meninggalkan Mia sendirian di dalam kamar kecil itu. merasa lega. Setidaknya, Bara tidak memaksakan hal-hal yang membuatnya merasa terhina. Keputusan untuk tetap menggunakan metode medis memberi sedikit ruang bagi harga dirinya.
Sementara itu, Bara berjalan kembali ke ruang tengah dengan wajah penuh pikiran. Ia tahu keputusan yang ia buat tadi adalah yang terbaik untuk saat ini, tetapi ada perasaan tidak nyaman yang terus menghantui hatinya. Melihat Mia menyingkir ke kamar belakang membuatnya merasa bersalah, meskipun ia tahu bahwa keputusan Mia itu bukan sepenuhnya salahnya.
***
“Apakah semua saran saya sudah kamu jalankan?” tanya Dokter Theo sambil menatap Bara dengan alis terangkat.
Bara mengangguk pelan. “Sudah, Dok.”
“Olahraga teratur, makan sehat, istirahat cukup?” Dokter Theo melanjutkan, mencatat sesuatu di kertas di hadapannya.
“Sudah,” jawab Bara lagi, kali ini dengan lebih yakin.
Dokter Theo menghela napas, lalu mengajukan pertanyaan yang paling penting. “Dan bagaimana dengan hubungan suami istri? Minimal dua kali seminggu, seperti yang saya sarankan?”
Bara terdiam. Pandangannya terarah ke meja di depannya, menghindari tatapan tajam Dokter Theo. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pelan, “Belum.”
Dokter Theo meletakkan pulpennya, menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menghembuskan napas panjang. Wajahnya menunjukkan rasa frustrasi yang sudah tertahan selama beberapa waktu.
“Bara, saya tidak paham,” katanya dengan nada kesal. “Kalau kamu tidak mau mengikuti saran saya, untuk apa datang ke sini? Mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Kamu pikir kesehatan dan keajaiban itu datang begitu saja tanpa usaha yang nyata?”
Bara mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Saya tidak tahu, Dok,” jawabnya dengan suara serak.
“Bara,” kata Dokter Theo, suaranya melembut, “kamu sendiri yang setuju dengan perjanjian satu tahun itu, kan? Kalau dalam satu tahun Mia belum hamil juga, maka perjanjian kalian selesai. Uang yang kamu keluarkan untuk keluarganya tidak akan dikembalikan. Kamu mau seperti itu?”
Bara tidak menjawab. Ia hanya duduk dengan kepala menunduk, pikirannya penuh dengan kebingungan dan rasa bersalah.
"Pikirkan juga keluarga kamu. Kalau sampai Kakak tiri kamu lebih dulu memiliki keturunan, habis sudah hidup kamu dengan Ibumu."
Tidak lama setelah itu, telepon Bara berdering. Nama ibunya, Ratih, muncul di layar. Bara menghela napas dan menjawab panggilan itu dengan malas.
“Gimana kabarnya, Nak? Ada berita baik soal kehamilan Luna?” Suara Ratih terdengar penuh antusiasme di seberang.
“Belum, Bu,” jawab Bara singkat.
“Belum? Aduh, kamu ini gimana sih, Bara?” Bu Ratih langsung memotong dengan nada marah. “Luna nggak mau hamil atau bagaimana?”
"Ibu tau Luna, kan? Dia emang nggak mau punya anak. Buruknya susah."
Ratih mendengus kesal. “Sudah jelas-jelas nggak ada hasil, kenapa kamu terus bertahan? Ceraikan saja perempuan itu!”
Bara terdiam, memilih tidak merespons. Ia tahu, menjelaskan lebih jauh hanya akan memperkeruh suasana. “Bu, nanti Bara hubungi lagi. Bara masih ada urusan.”
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Bara memutus sambungan telepon. Wajahnya menunjukkan ketegangan yang semakin jelas.
Bara keluar dari ruangan Dokter Theo dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, pikirannya berkecamuk antara frustrasi dengan kondisi kesehatannya dan tekanan dari ibunya.
Di belakangnya, Mia menyusul dengan langkah pelan. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mengamati punggung Bara yang terlihat berat menanggung beban.
Ketika mereka sampai di mobil, keduanya duduk dalam diam. Bara menatap ke depan, matanya kosong memandang jalanan. Sementara Mia, yang duduk di sampingnya, sesekali melirik Bara dengan ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Setelah beberapa menit dalam keheningan, Mia akhirnya memberanikan diri berbicara. “Pak Bara,” panggilnya pelan.
Bara menoleh, pandangannya lelah. “Apa?”
“Saya ingin membantu,” kata Mia dengan nada tulus. “Kalau memang itu yang diperlukan, saya siap menjalani terapi dengan... hubungan suami istri.”
Bara mengernyit, tidak langsung menjawab. Ia menatap Mia dalam-dalam, mencoba membaca maksud di balik ucapannya.
“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya, suaranya datar.
Mia mengangguk. “Saya yakin. Saya juga ingin segera menyelesaikan tugas, saya ingin segera kembali ke kehidupan saya dulu, terutama Mas Panji."