“Bi Marni! Bi Marni!” Luna memanggil dengan nada tinggi begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah, menyeret koper beroda di belakangnya.
“Iya, Nyonya." Dari arah dapur terdengar sahutan sopan. Tak lama Bi Marni muncul, tergopoh-gopoh menghampiri Luna di dekat pintu.
“Koper saya, tolong bawa ke atas,” perintah Luna sambil melepaskan genggaman pada pegangan koper.
Bi Marni buru-buru mengambil koper tersebut, tetapi keseimbangan koper goyah dan jatuh ke lantai. Luna menghela napas panjang, menatap Bi Marni dengan ekspresi tidak sabar.
"Hati-hati dong, Bi. Masa gitu aja nggak bisa?" Luna memelototi Bi Marni.
“Maaf, Nyonya,” sahut Bi Marni dengan suara lirih, sambil berusaha menegakkan koper kembali.
Luna melangkah cepat, meninggalkan Bi Marni yang masih berjuang dengan koper besar itu. Bukan hanya besar, tetapi juga sangat berat. Jangankan tenaga Bi Marni, jika diangkat oleh laki-laki pun akan mengalami kesusahan.
“Bibi,” Luna memutar tubuhnya dengan pandangan tajam. “Ke mana si gembel itu?”
“Gembel, Nyonya? Maksudnya siapa?” Bi Marni bertanya bingung, mencoba memastikan.
“Siapa lagi kalau bukan w************n itu! w*************a, nggak tahu malu!” jawab Luna dengan nada tinggi, penuh kemarahan.
Bi Marni menelan ludah, memilih untuk tidak langsung membalas. “Jangan bicara seperti itu, Nyonya. Nanti kalau Pak Bara dengar, bisa marah…”
Luna mendelik. “Bibi, jangan kurang ajar, ya! Kamu tahu saya nggak suka dibantah. Fakta adalah fakta! Dia itu cuma w************n yang suami saya bayar jasanya untuk punya anak!”
Bi Marni menunduk dalam, tidak berani menjawab lagi. Luna mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya dengan penuh amarah.
Saat melewati ruang keluarga, Luna berhenti di dekat jendela, melihat ke arah taman belakang. Ia melihat sosok Mia sedang menyiram tanaman dengan tenang. Amarah Luna semakin memuncak. Langkahnya cepat menuju pintu akses ke taman.
“Eh, w************n!” seru Luna keras dari ambang pintu.
Mia yang tengah menyiram tanaman pun mematikan keran air, lalu menoleh, wajahnya tenang meski jelas ada kebingungan sekaligus perasaan tidak enak. Yakin, hal buruk pasti akan terjadi.
“Anda memanggil saya?” Mia bertanya pelan, meskipun ia sudah tahu maksud Luna.
“Iyalah! Siapa lagi kalau bukan kamu,” jawab Luna ketus. “Satu-satunya w************n di rumah ini kan cuma kamu!”
Mia menunduk sebentar, berusaha menenangkan diri. Melawan Luna hanya akan memperkeruh suasana, hingga akhirnya ia pun lebih memilih untuk mengalah.
"Anda memanggil saya hanya untuk menghina? Ada lagi yang lain?"
"Apakah kamu merasa terhina?" Luna menyilangkan tangan di depan d**a, matanya menyipit penuh kebencian. "Padahal saya tidak sedang menghina loh, saya mengatakan sebuah fakta. Fakta kalau kamu itu w************n, w*************a, wanita tidak tahu malu."
Mia memilih terus diam, tetapi mulut jahat Luna terus mengeluarkan kata-kata yang sangat kejam.
"Sadar dirilah, Mia. Kamu itu cuma alat. Cuma rahim yang disewa oleh suamiku! Jangan pernah merasa punya posisi yang sama denganku di sini. Aku istri yang dinikahinya secara sah, sedangkan kamu... kamu cuma istri kontrak yang sifatnya sementara."
Hati Mia berdesir, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Ia tahu jika ia menunjukkan kelemahan, Luna akan semakin puas.
“Selain itu, apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan, Nyonya?” Mia bertanya lagi, mencoba memecah suasana.
Luna mengangkat dagunya. “Ada! Bawa koperku ke lantai atas, ke kamarku. Jangan sampai lecet! Bicara denganmu seperti bicara dengan Kuda Nil."
“Baiklah,” jawab Mia singkat. Ia menyimpan selang di tempatnya dan melangkah masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa lagi.
Luna mengekor di belakangnya, menatap tajam setiap Mia melangkah. Bi Marni yang masih berdiri di ruang depan langsung mendekati Mia, mencoba mengambil koper itu dari tangannya.
“Jangan, Non. Nanti ketahuan Bapak. Bisa kena marah,” bisik Bi Marni cemas.
“Bapak kan belum pulang, Bi. Nggak bakal kelihatan,” jawab Mia sambil tetap berusaha mengangkat koper.
“Tapi Bapak sebentar lagi pasti pulang. Jangan, Non. Biar saya saja,” Bi Marni mencoba melarang lagi.
“Bibi jangan ikut campur!" Suara Luna memotong tegas. "Kasih aja koper itu ke dia! w*************a ini memang harus tahu tempatnya!”
Bi Marni terdiam, takut membantah. Mia tetap membawa koper itu, meski tubuhnya sedikit tertatih karena beratnya. Namun, ia tidak mengeluh, dia tetap melangkah menuju tangga.
"Ada apa ini?” Suara Bara memecah ketegangan saat ia baru saja memasuki rumah. Matanya menatap tajam ke arah Luna, Mia, dan Bi Marni yang berada di dekat tangga.
Mia masih memegang koper milik Luna dengan kedua tangannya, sementara Bi Marni berdiri di sebelahnya, tampak cemas.
“Maafkan saya, Pak,” ucap Bi Marni cepat, penuh penyesalan. Ia sedikit menunduk sambil mencoba mengambil koper dari tangan Mia.
Bara tidak langsung merespons. Ia menatap Mia dengan wajah serius. “Bibi ngerti nggak sih? Udah berapa kali saya bilang, jangan berikan pekerjaan berat seperti ini kepada Mia?"
"Maafkan saya, Pak. Saya menyesal," ucap Bi Marni seraya menunduk penuh penyesalan.
"Harus berapa kali daya ngomong, Bi? Bibi kan tau kalau...."
"Bi Marni nggak salah, Pak. Saya yang salah, saya yang memaksa." Mia menyela kalimat Bara yang belum sepenuhnya diucapkan.
"Dan, saya yakin itu bukan keinginan kamu juga, Mia. Kamu pasti disuruh, kan?” ucapnya dengan nada penuh penekanan sambil melirik tajam ke arah Luna.
Luna yang sejak tadi diam, tiba-tiba mendengus sambil menyilangkan tangan di dadanya. “Kamu ngapain sih belain dia? Pembantu, w*************a, w************n!” Luna menunjuk Mia dengan gerakan kasar.
“Jaga mulut kamu, Luna!” Bara langsung membalas dengan nada tinggi. Pandangannya menusuk, membuat Luna sedikit mundur selangkah.
“Kenapa? Aku salah ngomong? Bukannya itu kenyataannya? Wanita ini murahan. Buktinya, kamu bisa membeli dia dengan uangmu!” balas Luna dengan nada mengejek, matanya menyipit penuh amarah.
Bara mengepalkan tangannya, jelas berusaha menahan diri agar emosinya tidak meledak. Ia mengambil napas dalam sebelum akhirnya membalas dengan tegas.
“Dia bukan w************n,” ucapnya pelan tetapi penuh penekanan. Sambil mengarahkan pandangan ke arah Mia, Bara kembali bicara. “Dia bahkan lebih berharga daripada kamu, Luna.”
Ucapan itu membuat ruangan menjadi hening sejenak. Luna terbelalak, tidak percaya dengan kata-kata suaminya sendiri. Di sisi lain, Mia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sulit diartikan.