“Luna. Ngapain kamu ke rumah aku?” Bara langsung menghentikan langkahnya di ruang tamu rumah orang tuanya, tatapannya tajam menohok ke arah Luna yang sedang duduk santai di sofa bersama Daniel dan Hermanto. Luna, yang sebelumnya tertawa kecil bersama mereka, mendongak dengan wajah terkejut. “Apa maksud kamu, Bara?” "Kamu datang ke rumah saat aku nggak ada. Apa yang kamu mau?" "Aku cuma...." “Cuma apa?” Bara memotong tajam, berjalan mendekat dengan ekspresi penuh amarah. “Datang ke rumahku, menemui Mia, lalu bicara soal acara di Bali? Apa maksudmu, Luna?” Suasana yang tadinya dipenuhi gelak tawa berubah tegang dalam sekejap. Hermanto, ayah tirinya, menurunkan cangkir kopinya dengan perlahan. “Bara, kenapa kamu langsung marah-marah seperti ini?” Bara menatap Hermanto dengan sorot penu

