Arlo yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan keras, tidak habis pikir dengan tindakan kakeknya. Proyek pembangunan resor itu memang baru saja di mulai dan baru sampai di tahap penggusuran, tapi kalau sampai batal maka warga pulau sendiri yang merugi. Suara pintu yang terbuka membuat Arlo memalingkan pandangannya ke arah Hans masuk kembali ke ruangan rawat inap Ema. Pria itu tampak memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berjalan menuju ke arah Arlo, wajahnya sama seperti wajah Arlo. Keduanya tidak senang. “Kepala desa menghubungimu?” tanya Arlo. Hans mengangguk. “Tuan besar sudah menarik semua alat berat dari pulau padahal hutan sudah hampir setengah digusur.” “Sebagian penduduk akan kehilangan sumber pendapatan mereka,” sambung Arlo y

