Pagar besi berwarna hitam yang tinggi menjulang, menahan langkah Syazwani untuk masuk ke halaman rumah Faiza. Ada rasa gentar di hatinya saat akan memencet bel, sehingga tangan yang sudah terulur mencapai benda pipih berwarna putih dengan gambar lonceng yang terpasang di tiang pagar, berkali-kali gagal dijangkaunya. Berulang kali juga Syazwani berniat pergi dari rumah Faiza, tetapi langkahnya kembali terhenti setiap kali teringat beras di rumah yang hanya tersisa dua kaleng s**u. Pencet atau tidak, ya? Kalau Kak Faiza marah, macam mana? Kalau tak sempat cakap nak apa, tapi langsung diusir, macam mana? Banyak pertanyaan bermain di hati Syazwani, membuatnya maju mundur mengunjungi rumah Faiza yang sudah ada di depan mata. "Hei b***k sial! Apahal kau tegamak depan rumah aku, nih? Dari tad

