Pukul lima pagi, Syazwani masih tepekur di depan pedaringan. Memandang sisa beras yang tak seberapa. Sudah lebih dari lima belas menit mata sipitnya melihat butiran beras yang entah akan diolahnya menjadi apa. Mengingat harus berhemat hingga Fatimah datang mengantarkan bahan makanan, pampers, dan uang bulanan. Diambilnya beras dari pedaringan, ditakar dan dimasukkan ke dalam baskom kecil. Hanya tersisa empat kaleng s**u. Kembali Syazwani termenung, menggenggam butiran beras yang akan segera habis jika dipakai memasak nasi hari ini. Besok aku dan ayah makan apa? Beras tinggal empat kaleng, duit sepeser pun tak ada. Ibu masih berapa hari lagi, baru nak datang. Keadaan mereka yang berada di ambang kelaparan hanya dapat dikeluhkan Syazwani dalam hati. Ingin mengadu pada Amran, percuma saja

