Akhirnya, hingga pagi mata Syazwani tetap terjaga. Tidak dapat mengistirahatkan otaknya dari kilasan masa lalu yang terus bermain di pelupuk mata. Diusapnya rambut ikal Rayyan, mencium pipi tembam bocah itu sebelum beranjak keluar kamar. Azan subuh berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumah, membuat kedua matanya semakin terang. Menuntunnya otak dan tubuhnya agar segera ke kamar mandi, untuk wudu. Saat ini Syazwani perlu mengadukan semua keluh kesahnya pada sang khalik. Meminta petunjuk-NYA atas semua kejadian tadi sore saat di makam Amran, dan memohon agar putra semata wayangnya diberi keberanian saat berhadapan dengan Arifah yang suka mengancam. Syazwani membasahi wajah perlahan. Merasakan sejuknya air yang merasuk ke dalam pori-pori kulit. Melakukan tahap demi tahap wudu hi

