Syazwani terbaring di brankar dengan selang oksigen terpasang di hidung. Ia menarik napas panjang, kemudian mengerutkan kening, seakan sedang memikirkan sesuatu. Mata sipitnya memandang berkeliling, mencari tahu di mana dirinya berada. Sebuah kamar kecil dengan tirai berwarna hijau dan sebuah meja kecil di dekatnya, lengkap dengan alat nebulizer, membuat gads kecil itu dapat menduga kalau dirinya sedang berada di rumah sakit. Dugaan yang tidak sepenuhnya keliru. Karena saat ini dirinya sedang terbaring di puskesmas dua puluh empat jam. Sekali lagi Syazwani menarik napas panjang. Merasakan sesak di dadanya yang sudah mulai longgar, sekaligus mengingat-ngingat kejadian terakhir sebelum dirinya sadar berada di ruangan sempit ini. Seingat Syazwani, dadanya tadi terasa sangat sesak dan nap

