“Syaz, cepat selesaikan kerja. Ayo, antar Ibu pulang sampai pintu depan!” Pertanyaan Syazwani yang tidak bisa dijawab, membuat Fatimah kembali mengajukan perintah. Entah bagaimana Fatimah harus menjelaskan pada Syazwani kalau dirinya tidak bisa menjadi ibu untuk anak kecil itu. Anak kecil yang menjadi petaka dalam keluarga Fatimah, sejak hari pertama ia dilahirkan. Bagaimana Fatimah bisa menerima anak yang selama ini menjadi racun dalam hidupnya dan hidup keenam anaknya yang lain? Sebagai ibu, Fatimah dapat merasakan dirinya menyayangi Syazwani. Ingin memeluk dan menciumnya, setiap kali Syazwani membuat ulah dengan kelakuan yang amat polos. Namun, luka masa lalu, membuatnya membangun tembok tinggi yang bernama kebencian. Membatasi diri agar tidak semakin jatuh dalam rasa kasih sayang ya

