Dari rumah besar, Fatimah tidak langsung pulang, melainkan singgah terlebih dulu ke rumah Aznan. Hatinya masih kalut dengan pertanyaan Syazwani, sehingga berat untuk beristirahat di tempat kediamannya sendiri yang sangat sunyi. Setidaknya dengan berada di rumah Aznan, tidak akan membuatnya kesepian, sehingga sesal dan rasa bersalah yang diungkit Syazwani tidak merebak semakin dalam di hati. Fatimah duduk termenung di ruang TV memandangi cucunya yang baru berusia empat bulan berbaring di lantai, beralaskan kasur tipis. Pikirannya mengembara pada pertanyaan Syazwani yang kembali terngiang di telinga, sehingga tidak mendengarkan panggilan Ratih yang menyuguhkan teh hangat untuknya. Bahkan sikap Fatimah bagai orang linglung yang tidak merespon setiap kali menantunya mengajak bicara. “Bang, I

