Syazwani berdiri mematung di depan pintu pagar rumah Fatimah dengan gugup. Pakaian seragam sekolahnya basah oleh keringat. Turun naik angkot seorang diri dan kadang berjalan kaki, saat angkot yang ditunggu tidak kunjung tiba, agar dirinya lebih cepat tiba di rumah bergaya minimalis tersebut. Ini kesekian kalinya Syazwani datang menemui Fatimah di rumahnya, selama sebelas tahun kelahiran gadis kecil itu. Agak sedikit gugup, walaupun sambutan yang ia terima dari Fatimah cukup baik, tetapi pandangan pekerja yang ada di rumah ibunya selalu membuat Syazwani tidak nyaman. Pernah seorang pembantu yang bekerja di rumah Fatimah, mengusirnya pulang. Katanya atas suruhan sang ibu, tetapi saat ditanya, ternyata wanita tua itu tidak pernah menyuruh pembantunya untuk mengusir Syazwani. Beruntunglah s

