Sambil menangis Maya mulai mengemas barang-barang yang ia bawa dari desa ke dalam tas besar lusuh miliknya. Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan. Pergi adalah keputusan terakhir Maya. Kalimat demi kalimat yang Giska katakan terus saja terngiang-ngiang. Kebohongan Erwin benar-benar membuat dirinya hancur. Terlebih saat mengingat ibu mertuanya yang ia kenal begitu baik dan lembut, juga sudah membohongi dirinya. Tak lama bagi Maya untuk mengemas semuanya. Tidak sampai setengah jam, semuanya sudah beres. Tanpa membawa satupun benda yang Erwin berikan, Maya berdiri menatap kamar yang selama ini menjadi tempat dirinya beristirahat. "Aku pergi. Terimakasih sudah pernah jadi kamar ternyaman selama aku tinggal di sini," lirih Maya, gegas keluar dari kamar dengan menjinjing tas besar lusuhnya da

